Rabu, 15 Juli 2020

Munajahku

Orang bilang adil itu “sesuai dengan kebutuhan”,
Aku bilang adil itu “pada tempatnya, sesuai porsinya”,
Orang bilang diskriminasi itu “relatif kecil”,
Aku bilang “sini, jadi aku biar tau rasanya diskriminasi tiap minggu”,
Menjadi Tua itu kodrat manusia,
Menjadi dewasa itu pilihan masing-masing,
Maka tua bukan jaminan dewasa,
Dan dewasa tak harus menunggu tua,
Jika keadilan tergadaikan,
Jika kebijaksanaan dibawah telapak kakinya,
Maka kami hanyalah hamba,
Dari para penguasa,
Jika hanya satu dari kami yang bisa melaksanakan kewajiban,
Itu bukan karena kami tak berusaha,
Melainkan ada politik intern yang bekerja,
Mengecualikan dia yang seorang, mengesampingkan kami yang lainnya,
Menuntut kami tak bisa,
Padahal kami punya hak untuk diperlakukan sama,
Dan seharusnya tak ada yang istimewa,
Entah kenapa Cuma dia,
Malam ini biar kami berdoa,
Mohon ampun jika kami salah,
Mohon restu agar kami bisa melangkah,
Mohon ridho agar tercapai cita-cita,
Dan biarkan kami bermunajah,
Sebagai hamba yang teraniaya,
Agar Yang Maha Kuasa,
Menunjukkan kuasa-Nya atas mereka,
Orang-orang yang telah mendzolimi sesama saudaranya,
Dan aku percaya, keadilan Allah adalah yang terbaik diatas segalanya.

Sidoarjo, 11 Juli 2020

Selasa, 14 Juli 2020

INTERLUDE (Windry Ramadhina)


Ini buku Mbak Windry yang ke-empat yang kubaca.

Empat tokoh, Hanna, Gitta, Kai dan Jun. Masing-masing memiliki peran yang berbeda namun ditempatkan dengan sangat sempurna. Keempatnya tidak saling tindih, bahkan dengan tokoh-tokoh lain yang ada di dalamnya. Membaca novel ini membuat aku mengerutkan kening, ada apa dengan Hanna? Kenapa mahasiswa lain menggunjingnya? Kenapa hanya Gitta yang merasa risih dengan gunjingan teman-temannya?

Perlahan, ketika halaman demi halaman terus terbalik, aku menemukan jawabannya. Hanna itu spesial. Bagi Kai, bagi Gitta, dan bagi keluarga. Sementara Kai adalah pemuda dengan masa depan cerah namun lebih memilih menyerah di tengah-tengah. Hanna, membawa Kai kembali pada realita, mengubah Kai menjadi pemuda yang lebih baik, tanpa disadarinya.

Jun, lelaki mapan, akuntan, dan basis dalam grup jazz mereka. Jun juga yang mengaransemen lagu-lagu Second Day Charm. Jun, lelaki berkepala dingin sepanas apa pun hatinya. Jun, lelaki yang selalu tahu apa yang harus dilakukannya, dan pemimpin yang bisa diandalkan. Jun yang menyimpan rasa pada Gita.

Gitta, vokalis dan pianis cantik yang serba bisa. Sedikit ketus, namun sebenarnya dia baik. Dia pula yang menyadari perubahan Kai setelah bertemu dengan Hanna. Gita yang punya rasa yang sama pada Jun, namun ragu hendak melangkah, karena sebuah alasan. Gitta yang akhirnya salah memilih lelaki yang dianggapnya mencintainya padahal selalu menimbulkan memar pada tubuhnya. Gitta yang berubah rapuh dan menjadikan Hanna kuat sebagai gantinya.

Awalnya aku membenci tokoh Kai dalam novel ini. Aku suka Gitta yang sedikit ketus. Tapi pada akhirnya malah jatuh cinta pada Jun. Banyak yang membuat aku gemas. Sikap Hanna yang malu-malu karena candaan Kai, Gitta yang tidak juga menyadari kesalahannya, dan Jun yang mendukung keinginan Gitta untuk memasukkan pacarnya sebagai anggota keempat. Belum lagi ditambah konflik yang terjadi di rumah Kai. Gemaaaas sekali pada papa dan mama Kai.

Mbak Windry selalu mengemas novelnya dengan sangat cantik, ringan, dan mudah dipahami meski harus menebak-nebak permasalahan yang sedang dialami para tokohnya. Keren. Terlebih saat membaca menu di Nigel's. Bagaimana Om Pra menjadikan musisi Jazz sebagai nama menu di kafenya.

Senin, 13 Juli 2020

Adek

Hawa dingin Taiwan menyapa kulit ketika aku membuka pintu mobil. Di hadapanku berdiri megah penjara Yinlan. Gedung itu lebih pantas disebut dengan kastil tua daripada penjara. Warna dindingnya keabuan dan dihiasi lumut di beberapa tempat.  Dua orang opsir berdiri dengan congkak menjaga sebuah pintu pagar besi bercat merah.  Mereka menghalangiku masuk hingga kutunjukkan ‘kartu sakti’. Sikap mereka berubah hormat. Bahkan aku diantar hingga ke ruang tunggu.

Hari ini aku harus bertemu dengan salah seorang TKI yang memiliki masalah overstay di negeri ini. Aku tak mengerti apa sebabnya mereka enggan memperpanjang Visa dan Paspor mereka. Padahal KDEI sudah menyediakan layanan yang memudahkan dengan biaya yang bisa dibilang terjangkau. Tapi tetap saja, setiap hari selalu ada kasus yang sama yang masuk ke kantor tempatku membaktikan diri.

Kalau sudah begini siapa yang hendak disalahkan? Tentunya mereka tak ingin bernasib sebagai tersangka di Negara orang. Sedikit banyak kondisi juga mempengaruhi ini semua.

TKI itu bukan pekerjaan mudah. Banyak hal yang harus dikorbankan, sama banyaknya dengan hal yang mendorong mereka untuk merantau jauh menembus benua. Meninggalkan sejuta kenyamanan yang ditawarkan negeri sendiri, menempuh bahaya yang bisa mengancam kapan saja. Belum lagi maraknya berita tentang kekerasan terhadap TKI. Ah, beruntungnya  aku. Setidaknya nasibku sedikit lebih baik daripada mereka.

“Administrasimu sudah selesai. Kamu bebas sekarang. Tapi kamu harus kembali ke Indonesia segera. KDEI sudah mengatur penerbangan untukmu.” Ucapku ketika seorang lelaki muda duduk di hadapanku. Lelaki yang tertangkap polisi karena overstay dua minggu.

“Terima kasih, Bu. Tapi, bolehkah saya mengajukan permintaan?” pintanya.

Ngelunjak! Tapi aku tetap mengangguk. Kupaksakan sebentuk senyum hadir di bibirku.

“Ada seorang teman yang tertangkap kemarin, Bu. Dia juga orang Indonesia. Asli dari Palembang. Maukah Ibu menolongnya? Kasihan, Bu.” Pintanya.

Lagi-lagi…

“Baik. Kau sudah beritahu temanmu?” tanyaku.

Dia mengangguk. Aku melangkah mendekati seorang opsir dan mengatakan bahwa aku harus bertemu  dengan seorang tawanan lain. Dia pasti mengerti ucapanku karena setelah itu dia beranjak mengambil segelombol kunci kemudian berlalu bersama si pria muda itu.

Palembang? Daerah asalku yang hampir saja kulupakan. Setiap kali mendengar nama kota itu di sebut, maka setiap itu juga aku bayangan kelabu berkelebatan dalam benakku.

No I can't forget this evenin'
On your face as you were leaving
But I guess that's just the way
The story goes
You always smile
But in your eyes
Your sorrow shows
Yes it shows
(Mariah Carey – Without you)

Aku menggigit bibir perih. Ingatanku melayang di saat aku harus melangkah sendiri meninggalkan orang yang kucintai dengan sepenuh hati. Bukan karena tak ada lagi cinta, tapi karena aku menyadari tidak akan pernah ada tempat untuk cinta kami. Kuputuskan untuk pergi  jauh dari kehidupannya.

“A...Adek?”

Sebuah suara memaksaku mendongakkan kepala. Dia? Sesaat aku terpana, tapi kemudian aku menyadari aku berada di sini bukan untuk reuni. Bersamaan dengan perih yang kembali mampir di hatiku, kupaksakan lagi untuk tersenyum.

“Perkenalkan, Tasya!” ucapku mengulurkan tangan sembari menyebut namaku dengan resmi.

Dengan gesture kikuk dia menerima uluran tanganku. Kupersilakan ia duduk, sementara aku menenggelamkan diri pada data-datanya yang telah hadir di meja. Tuhan, hapus semua sakit dan sedih yang menyerangku kini. Aku tak ingin hidup bersama luka lagi.

“A..apa kabar, Dek?” tanyanya.

“Baik, so far.” Jawabku.

“Kamu banyak berubah ya?”

Harus, batinku. “Oh ya? Terima kasih masih mengingatku. Tolong ingat juga namaku Tasya, bukan Adek. Dia sudah mati bertahun lalu.”

Kusadari ucapanku terdengar ketus tapi aku tak mau dia melihat kelemahanku atas kepergiannya. Aku ingin dia tahu bahwa aku bukanlah perempuan yang sama yang pernah ia gantung nasibnya dulu.

“Maaf…” bisiknya.

“Maafmu saat ini tidak bisa menyelesaikan apa pun. Tak juga bisa membebaskanmu dari penjara secara langsung.”

Huh! Aku menyadari tindakanku tidak professional. Tidak seharusnya aku menyampur-adukkan permasalahan pribadi dengan masalah yang ia hadapi saat ini. Sejenak kuamati sosok kurus dihadapanku yang terus tertunduk.

Tubuhnya sudah tak lagi padat berisi seperti yang aku banggakan dulu. Satu-satunya yang tak berubah adalah tahi lalat (andeng-andeng) tepat di tengah keningnya. Sorot matanya telah kehilangan kerlip bintang dan kulitnya hitam terpanggang matahari.

Kalau saja ia tak plin-plan, kalau saja saat itu ia bisa bersikap tegas untuk memilih, tentu tak akan ada dendam di antara kami. Dendam? Ah, rasa itu bahkan sudah mengakar, menjamur dan meracuni hatiku dari waktu ke waktu. Membuat segalanya tak lagi sama. Aku kehilangan hati yang dibawanya pegi begitu saja. Aku kehilangan senyum dan semangat hidup hingga memutuskan untuk pindah ke Medan, ke rumah Alung dan melanjutkan pendidikan advokasi di sana.

Aku tak pernah lagi berusaha untuk mencarinya. Setengah mati aku ingin melupakannya. Dan kini, ia hadir kembali tanpa kuminta. Duduk sebagai pesakitan di negeri asing dengan sejumlah pelanggaran undang-undang. Perih? Sangat!

Kalau menuruti egoku, tentu akan kubiarkan ia membusuk di sini, di tempat yang seharusnya. Terpuruk bersama penyesalan atas semua yang telah dia lakukan di masa silam. Tapi, janjiku sebagai advokat, adalah bertindak adil. Maka aku harus mendahulukan tugasku, atau semua usahaku akan hilang karena tidak sesuai kode etik.

“Berkasmu sudah saya pegang. Saya akan coba bantu untuk membebaskanmu segera. Berdoalah!” ucapku sembari bangkit.

“Adek!”

Panggilan itu merajam hatiku.

“Maaf, Tasya! Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku sadar aku telah sangat melukaiku.”

“Lalu?” tantangku.

“Apakah…apakah masih ada kesempatan kedua untukku? Aku akan membahagiakanmu sebisaku. Aku tak akan mengecewakanmu lagi.” Ucapnya dengan keyakinan diri penuh.

Aku menghela napas. Kesempatan? Haruskah?

Kugelengkan kepala dengan pasti. “Semua sudah berlalu, tak ada lagi yang perlu dimaafkan. Lagipula…”

Ucapanku terpotong oleh hadirnya sosok lelaki lain di antara kami. Dia tersenyum dan berjalan lurus ke arahku. “Sudah selesai, Sayang?” tanyanya sembari mengecup kedua pipiku lembut. Aku mengangguk padanya.

Kami melangkah pergi meninggalkan lelaki yang pernah kupanggil dengan Abang itu sendirian. Inilah hidupku yang baru. Dan kamu, tetaplah di tempatmu di masa lalu, Bang.

Sidoarjo, 16 November 2011