Ini buku Mbak Windry yang ke-empat yang kubaca.
Empat tokoh, Hanna, Gitta, Kai dan Jun. Masing-masing memiliki peran yang berbeda namun ditempatkan dengan sangat sempurna. Keempatnya tidak saling tindih, bahkan dengan tokoh-tokoh lain yang ada di dalamnya. Membaca novel ini membuat aku mengerutkan kening, ada apa dengan Hanna? Kenapa mahasiswa lain menggunjingnya? Kenapa hanya Gitta yang merasa risih dengan gunjingan teman-temannya?
Perlahan, ketika halaman demi halaman terus terbalik, aku menemukan jawabannya. Hanna itu spesial. Bagi Kai, bagi Gitta, dan bagi keluarga. Sementara Kai adalah pemuda dengan masa depan cerah namun lebih memilih menyerah di tengah-tengah. Hanna, membawa Kai kembali pada realita, mengubah Kai menjadi pemuda yang lebih baik, tanpa disadarinya.
Jun, lelaki mapan, akuntan, dan basis dalam grup jazz mereka. Jun juga yang mengaransemen lagu-lagu Second Day Charm. Jun, lelaki berkepala dingin sepanas apa pun hatinya. Jun, lelaki yang selalu tahu apa yang harus dilakukannya, dan pemimpin yang bisa diandalkan. Jun yang menyimpan rasa pada Gita.
Gitta, vokalis dan pianis cantik yang serba bisa. Sedikit ketus, namun sebenarnya dia baik. Dia pula yang menyadari perubahan Kai setelah bertemu dengan Hanna. Gita yang punya rasa yang sama pada Jun, namun ragu hendak melangkah, karena sebuah alasan. Gitta yang akhirnya salah memilih lelaki yang dianggapnya mencintainya padahal selalu menimbulkan memar pada tubuhnya. Gitta yang berubah rapuh dan menjadikan Hanna kuat sebagai gantinya.
Awalnya aku membenci tokoh Kai dalam novel ini. Aku suka Gitta yang sedikit ketus. Tapi pada akhirnya malah jatuh cinta pada Jun. Banyak yang membuat aku gemas. Sikap Hanna yang malu-malu karena candaan Kai, Gitta yang tidak juga menyadari kesalahannya, dan Jun yang mendukung keinginan Gitta untuk memasukkan pacarnya sebagai anggota keempat. Belum lagi ditambah konflik yang terjadi di rumah Kai. Gemaaaas sekali pada papa dan mama Kai.
Mbak Windry selalu mengemas novelnya dengan sangat cantik, ringan, dan mudah dipahami meski harus menebak-nebak permasalahan yang sedang dialami para tokohnya. Keren. Terlebih saat membaca menu di Nigel's. Bagaimana Om Pra menjadikan musisi Jazz sebagai nama menu di kafenya.

0 komentar:
Posting Komentar