Senin, 13 Juli 2020

Adek

Hawa dingin Taiwan menyapa kulit ketika aku membuka pintu mobil. Di hadapanku berdiri megah penjara Yinlan. Gedung itu lebih pantas disebut dengan kastil tua daripada penjara. Warna dindingnya keabuan dan dihiasi lumut di beberapa tempat.  Dua orang opsir berdiri dengan congkak menjaga sebuah pintu pagar besi bercat merah.  Mereka menghalangiku masuk hingga kutunjukkan ‘kartu sakti’. Sikap mereka berubah hormat. Bahkan aku diantar hingga ke ruang tunggu.

Hari ini aku harus bertemu dengan salah seorang TKI yang memiliki masalah overstay di negeri ini. Aku tak mengerti apa sebabnya mereka enggan memperpanjang Visa dan Paspor mereka. Padahal KDEI sudah menyediakan layanan yang memudahkan dengan biaya yang bisa dibilang terjangkau. Tapi tetap saja, setiap hari selalu ada kasus yang sama yang masuk ke kantor tempatku membaktikan diri.

Kalau sudah begini siapa yang hendak disalahkan? Tentunya mereka tak ingin bernasib sebagai tersangka di Negara orang. Sedikit banyak kondisi juga mempengaruhi ini semua.

TKI itu bukan pekerjaan mudah. Banyak hal yang harus dikorbankan, sama banyaknya dengan hal yang mendorong mereka untuk merantau jauh menembus benua. Meninggalkan sejuta kenyamanan yang ditawarkan negeri sendiri, menempuh bahaya yang bisa mengancam kapan saja. Belum lagi maraknya berita tentang kekerasan terhadap TKI. Ah, beruntungnya  aku. Setidaknya nasibku sedikit lebih baik daripada mereka.

“Administrasimu sudah selesai. Kamu bebas sekarang. Tapi kamu harus kembali ke Indonesia segera. KDEI sudah mengatur penerbangan untukmu.” Ucapku ketika seorang lelaki muda duduk di hadapanku. Lelaki yang tertangkap polisi karena overstay dua minggu.

“Terima kasih, Bu. Tapi, bolehkah saya mengajukan permintaan?” pintanya.

Ngelunjak! Tapi aku tetap mengangguk. Kupaksakan sebentuk senyum hadir di bibirku.

“Ada seorang teman yang tertangkap kemarin, Bu. Dia juga orang Indonesia. Asli dari Palembang. Maukah Ibu menolongnya? Kasihan, Bu.” Pintanya.

Lagi-lagi…

“Baik. Kau sudah beritahu temanmu?” tanyaku.

Dia mengangguk. Aku melangkah mendekati seorang opsir dan mengatakan bahwa aku harus bertemu  dengan seorang tawanan lain. Dia pasti mengerti ucapanku karena setelah itu dia beranjak mengambil segelombol kunci kemudian berlalu bersama si pria muda itu.

Palembang? Daerah asalku yang hampir saja kulupakan. Setiap kali mendengar nama kota itu di sebut, maka setiap itu juga aku bayangan kelabu berkelebatan dalam benakku.

No I can't forget this evenin'
On your face as you were leaving
But I guess that's just the way
The story goes
You always smile
But in your eyes
Your sorrow shows
Yes it shows
(Mariah Carey – Without you)

Aku menggigit bibir perih. Ingatanku melayang di saat aku harus melangkah sendiri meninggalkan orang yang kucintai dengan sepenuh hati. Bukan karena tak ada lagi cinta, tapi karena aku menyadari tidak akan pernah ada tempat untuk cinta kami. Kuputuskan untuk pergi  jauh dari kehidupannya.

“A...Adek?”

Sebuah suara memaksaku mendongakkan kepala. Dia? Sesaat aku terpana, tapi kemudian aku menyadari aku berada di sini bukan untuk reuni. Bersamaan dengan perih yang kembali mampir di hatiku, kupaksakan lagi untuk tersenyum.

“Perkenalkan, Tasya!” ucapku mengulurkan tangan sembari menyebut namaku dengan resmi.

Dengan gesture kikuk dia menerima uluran tanganku. Kupersilakan ia duduk, sementara aku menenggelamkan diri pada data-datanya yang telah hadir di meja. Tuhan, hapus semua sakit dan sedih yang menyerangku kini. Aku tak ingin hidup bersama luka lagi.

“A..apa kabar, Dek?” tanyanya.

“Baik, so far.” Jawabku.

“Kamu banyak berubah ya?”

Harus, batinku. “Oh ya? Terima kasih masih mengingatku. Tolong ingat juga namaku Tasya, bukan Adek. Dia sudah mati bertahun lalu.”

Kusadari ucapanku terdengar ketus tapi aku tak mau dia melihat kelemahanku atas kepergiannya. Aku ingin dia tahu bahwa aku bukanlah perempuan yang sama yang pernah ia gantung nasibnya dulu.

“Maaf…” bisiknya.

“Maafmu saat ini tidak bisa menyelesaikan apa pun. Tak juga bisa membebaskanmu dari penjara secara langsung.”

Huh! Aku menyadari tindakanku tidak professional. Tidak seharusnya aku menyampur-adukkan permasalahan pribadi dengan masalah yang ia hadapi saat ini. Sejenak kuamati sosok kurus dihadapanku yang terus tertunduk.

Tubuhnya sudah tak lagi padat berisi seperti yang aku banggakan dulu. Satu-satunya yang tak berubah adalah tahi lalat (andeng-andeng) tepat di tengah keningnya. Sorot matanya telah kehilangan kerlip bintang dan kulitnya hitam terpanggang matahari.

Kalau saja ia tak plin-plan, kalau saja saat itu ia bisa bersikap tegas untuk memilih, tentu tak akan ada dendam di antara kami. Dendam? Ah, rasa itu bahkan sudah mengakar, menjamur dan meracuni hatiku dari waktu ke waktu. Membuat segalanya tak lagi sama. Aku kehilangan hati yang dibawanya pegi begitu saja. Aku kehilangan senyum dan semangat hidup hingga memutuskan untuk pindah ke Medan, ke rumah Alung dan melanjutkan pendidikan advokasi di sana.

Aku tak pernah lagi berusaha untuk mencarinya. Setengah mati aku ingin melupakannya. Dan kini, ia hadir kembali tanpa kuminta. Duduk sebagai pesakitan di negeri asing dengan sejumlah pelanggaran undang-undang. Perih? Sangat!

Kalau menuruti egoku, tentu akan kubiarkan ia membusuk di sini, di tempat yang seharusnya. Terpuruk bersama penyesalan atas semua yang telah dia lakukan di masa silam. Tapi, janjiku sebagai advokat, adalah bertindak adil. Maka aku harus mendahulukan tugasku, atau semua usahaku akan hilang karena tidak sesuai kode etik.

“Berkasmu sudah saya pegang. Saya akan coba bantu untuk membebaskanmu segera. Berdoalah!” ucapku sembari bangkit.

“Adek!”

Panggilan itu merajam hatiku.

“Maaf, Tasya! Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku sadar aku telah sangat melukaiku.”

“Lalu?” tantangku.

“Apakah…apakah masih ada kesempatan kedua untukku? Aku akan membahagiakanmu sebisaku. Aku tak akan mengecewakanmu lagi.” Ucapnya dengan keyakinan diri penuh.

Aku menghela napas. Kesempatan? Haruskah?

Kugelengkan kepala dengan pasti. “Semua sudah berlalu, tak ada lagi yang perlu dimaafkan. Lagipula…”

Ucapanku terpotong oleh hadirnya sosok lelaki lain di antara kami. Dia tersenyum dan berjalan lurus ke arahku. “Sudah selesai, Sayang?” tanyanya sembari mengecup kedua pipiku lembut. Aku mengangguk padanya.

Kami melangkah pergi meninggalkan lelaki yang pernah kupanggil dengan Abang itu sendirian. Inilah hidupku yang baru. Dan kamu, tetaplah di tempatmu di masa lalu, Bang.

Sidoarjo, 16 November 2011

0 komentar:

Posting Komentar