Sabtu, 25 Mei 2019

PROLOG

Aku meremas tanganku. Gelisah. Kupaksakan mataku untuk tidak menatapnya. Namun berkali-kali pula aku tak kuasa menolak keinginanku untuk sekedar melihatnya sepintas. Dia masih duduk dalam diam di hadapanku. Dan aku mati kutu.
“Jadi, bagaimana?” suara baritonnya menyentak anganku.
Aku tergagap. Tidak siap dengan jawaban yang dia minta. Kulihat dia tersenyum. Manis.
“Aku... akan pertimbangkan.” Jawabku pada akhirnya.
“Oke, aku beri waktu dua bulan sejak saat ini. I’ll be waiting for your answer after two months.” Dia melangkah meninggalkan aku setelah membayar tagihan pesanan kami. Meninggalkan aku yang masih terpaku.
Mimpikah ini?

Tuhan, tolong aku.

Jumat, 24 Mei 2019

Maaf, Dia memilihku (END)

Hari ketujuh...

Cinta memang ga bisa dipaksakan datang dalam waktu hanya tujuh hari. Tapi aku yakin cinta akan tumbuh seiring waktu. Aku tak mau lagi menghabiskan waktu untuk menanti Bram menyatakan cinta padaku. Aku akan mencoba mencintai orang yang telah lebih dulu mencintaiku. Itu lebih baik.
 Separuh hatiku masih bimbang, tapi separuh yang lain merasa yakin akan diri lelaki yang meminangku. Keyakinan yang timbul setelah aku bertemu dengannya secara langsung. Semalam aku diantar pulang. Hatiku letih, penat dan berbagai rasa mendera. Wajahku terlihat sangat pucat. Dia berulang kali menanyakan kondisiku dengan nada cemas. Kujawab hanya dengan gelengan kepala.
 Sampai dengan pagi ini penat terus menderaku. Aku masih berdiri di ambang dilema. Jika kuterima, Nala akan semakin membenciku. Jika kutolak, itu artinya aku menyia-nyiakan hadiah yang Allah sediakan. Hiks...
 Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju ruangan di lantai tiga. Aku sudah berniat untuk meminta ketegasan dari Nala. Jika dia tidak mengijinkan, maka aku tak akan meneruskannya hingga ia bisa memberi restu.
 “Nala mana, Mbak?” tanyaku pada Mbak Enny demi melihat meja kerja Nala kosong. Tidak biasanya ia belum datang jam segini. Nala itu tipe yang sangat disiplin.
 “Ijin, Sya. Memangnya ga bilang sama kamu?” tanya Mbak Enny.
 Hiks... Bahkan aku sudah tidak bicara dengannya selama dua hari ini, Mbak. Namun aku hanya bisa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Mbak Enny.
 Kuhempaskan tubuhku di kursi. Kubiarkan tas dan jaketku tergeletak di meja. Hilang sudah kesempatanku bicara dengan Nala. Padahal nanti malam aku harus segera memberi jawaban pada lelaki itu.
 “Sya, ada telepon tuh.” Mbak Enny bersuara lagi.
 Aku bahkan tak mendengar dering telepon itu. Lampu indikatornya berkelip-kelip. Tanda ada telepon masuk untukku.
 “Ya?”
 “Thasya? Ini aku, Nala.”
 Alhamdulillah...
 “Ada apa, La?”
“Kamu yang sabar ya, Sya?” Nala mulai terisak.
Hah? Ada apa sih? Kenapa Nala harus nangis? Firasatku mulai tak enak.
“Ada apa, La? Kenapa kamu nangis?” tanyaku mulai panik.
 Nala menghela napas sejenak. “Sya, Mas Prama kecelakaan. Kondisinya cukup parah...”
 Hatiku mencelos. Kecelakaan? Parah? Inikah teguran untukku dari Allah karena telah menyia-nyiakan seseorang yang ingin menjalin ukhuwah suci denganku? Inikah yang aku dapatkan setelah berjuang selama tujuh hari untuk menaklukan hatiku agar bisa menerimanya? Ya Allah...
 “... kebetulan tadi aku lewat. Ternyata dia, Sya. Kamu bisa kesini? Aku masih di lokasi kejadian. Kamu tahu kan daerah...” Aku masih mendengar sayup suara Nala menyebutkan lokasinya. Ya, aku tahu tempat itu. sebuah tempat yang sangat aku idamkan untuk kujadikan tempat sakral kala calon suamiku mengucap ijab kabul kelak.
 Logikaku berhenti, berganti dengan perasaan khawatir dan rasa bersalah yang menyesak di dada. Kutelepon taksi dan memintanya segera mengirimkan satu armada ke kantorku. Aku tergesa menyambar jaket dan tas.
 “Mbak Enny, aku ijin ya? Calon suamiku kecelakaan.”
 Setelah itu aku melesat menuju bagian depan kantor, menanti taksi datang dengan gelisah. Baru kali ini aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Aku tak ingin menyesal. Aku ingin menemuinya di saat terakhirnya. Kan kuucap cinta meski hanya sedetik saja. Ijinkanlah, wahai Rabb...
 Handphoneku tak berhenti berdering. Puluhan sms masuk dari Ummi, Kak Ayu dan Abi. Aku semakin di landa cemas yang tak karuan. Kuminta supir taksi mempercepat laju kendaraannya, tapi aku terhambat oleh kemacetan. Yang bisa kulakukan hanya istighfar sebanyak mungkin.
 Aku tiba di halaman masjid. Keadaan sudah ramai. Banyak kendaraan dan kerumunan orang di sana. Tak kupedulikan lagi apa keperluan mereka. Aku harus segera mencarinya. Aku harus segera bilang bahwa aku menerima pinangannya.
 “Sya!” teriak Nala. Ia berlari menghampiriku kemudian memelukku dengan erat.
 “La, gimana? Apa yang terjadi?” aku mulai terbata. Airmataku jatuh tanpa kuminta.
 Nala membimbingku menuju bagian dalam masjid. Kulihat Ummi, Abi, Kak Ayu dan beberapa orang lain sudah hadir di sana. Tidak ada sosok tubuh berselimut kain di tengah ruangan sejauh aku memandang. Kemanakah dia?
 Ummi menyongsongku dan memelukku erat disusul Kak Ayu. Mereka tidak mengucapkan apa pun. Hanya memelukku erat yang sambil membelai punggungku.
Pandanganku semakin nanar. Aku tidak menemukan sosok yang aku cari. Apa aku terlambat?
 “Mana Mas Prama, Ummi?” tanyaku.
Umi masih tidak melepaskan pelukannya.
“Mas Prama…” aku memanggil namanya lebih keras.
Tidak ada sahutan sama sekali.
“Mas Prama…” aku menjerit.
Tetap tak ada suara yang menjawab.
 “Kau jahat, Mas. Kenapa kau tinggalkan aku di saat aku sudah semakin mantab padamu? Kau bilang akan menungguku sampai hari ini? Ayo bangun, Mas. Bilang kalau ini hanya candaanmu.” Aku semakin histeris.
 Ummi memelukku dari belakang. Aku meronta minta di lepaskan.
 “Mas Prama, aku ingin bilang aku mau menjadi istrimu, Mas…” Jeritku. Aku memeluk Ummi dan terisak. Sesak rasanya. Inikah kehilangan? Padahal aku ingin sekali bermanja padanya. Mendengar lagi kalimat-kalimat manis dari bibirnya.
 Ummi mengendurkan pelukannya. Bersamaan dengan itu, kurasakan sebuah pelukan erat. Tangan yang kokoh memelukku dari belakang. Membelai kepalaku yang terbalut jilbab.
“Kalau begitu, kalian segera menikah saja.”
Suara ini? Abi? Apa maksudnya?
Abi bergeser, membiarkan seseorang masuk dalam jarak pandangku. Membuat aku terpaku. Loh? Bukannya dia kecelakaan? Kenapa dia berdiri disana? Berpakaian rapi? Apa itu arwahnya? Ah, tidak mungkin.
Tanpa kusadari keadaan telah berubah. Tepuk tangan membahana. Rupanya ini hanya sebuah siasat darinya. Ah, aku terjebak lagi. Kususut airmataku, kupasang wajah marah. Namun dia tetap tersenyum. Pak penghulu telah siap pula disana. Uh, betapa malunya aku.
Aaaaarrrggghh... kejutan yang memalukan tapi membahagiakan.
Usut punya usut, ternyata ini semua sudah di rencanakannya, TPM bersama Nala. Dan mereka berhasil membuat aku terjebak. Tak lama Nala datang padaku dan mengatakan kalimat yang tak akan pernah aku lupa.

"Sya, mana mungkin aku marah sama kamu. Aku sudah bilang, kalau kamu bahagia, aku pasti ikutan bahagia. Aku merestuimu dan Prama. Semoga kalian menjadi sakinah. amin."

Kamis, 23 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 7)

Masih hari keenam...

Kerjaku hari ini sama sekali tak bisa konsentrasi. Hatiku diliputi gelisah yang tak menentu. Sesekali aku melirik Nala. Kulihat wajahnya masih biasa saja, namun aura dinginnya sanggup membekukan hatiku. Uuuhh... ini semua gara-gara TPM.
Tapi kenapa dadaku berdesir hanya dengan mengingat dirinya? Mengingat senyum manis yang ia suguhkan tadi pagi? Huwaa... sepertinya aku mulai jatuh cinta padanya. Mampus dah.
“Sya, kamu ngapain sih? Dari tadi kayak orang gila. Tadi cengengesan, sekarang berubah panik.” Tegur Mbak Enny, Manajer Divisi Produksi yang juga salah satu sahabat baikku. Aku hanya bisa menyunggingkan cengiran tak berdosa di hadapannya.
“Awas bisa gila beneran loooh.” Godanya.
Sudah gila kayaknyaaa! Hatiku yang berteriak.
Tidak! Aku ga boleh gila dulu. Aku harus mendapat restu dari Nala paling lambat esok hari. Segala cara akan aku tempuh asal Nala tak marah dan merestui pernikahanku dengan TPM.
Kubuka aplikasi chatting LAN (kalo di kantor namanya winpop), kuketik pesan singkat untuk Nala.
La, marahmu wajar. Tapi ada salah paham yang harus kita selesaikan. Aku dan TPM tak ada hubungan apa pun di belakangmu selama ini. Aku juga tak menyangka dia melamarku beberapa hari yang lalu. Aku ga ingin kehilangan sahabat sebaik kamu, La.
Kalau kamu bersedia, after office hours aku tunggu kamu di starbuck’s. Semua akan jelas, La. Aku janji. Insyaallah”
Sent.
Sengaja aku tak mencantumkan perihal kedatangan TPM di kota ini. Aku ingin mempertemukan mereka secara diam-diam.
Balasan dari Nala segera kuterima,
Okey. Starbuck’s after office hours.”
Fiuuhhh... Alhamdulillah. Tinggal melobi si pangeran keras kepala nih. Semoga saja dia mau datang ke sana tanpa banyak tanya.
Kusambar Hp di laci dan segera ngacir keluar ruangan. Aku perlu memberitahunya secara lisan. Kelamaan kalau harus mengetik sms.
“Assalamu’alaikum? Mas, nanti sepulang kerja bisa mampir ke starbuck’s?”
“...”
“Iya, yang di deket kantorku. Nanti aku tunggu di sana. Ga usah di jemput. Paling jalan sepuluh menit udah sampe. Jam 4 tet ya? Jangan ngaret.”
“...”
“Ya udah, aku tunggu. Assalamu’alaikum?”
Klik. Fiuuuh... lega babak dua karena si pangeran keras kepala itu mau menuruti permintaanku. Tinggal mengatur bagaimana mereka bisa bicara dengan santai nanti. Aku kembali ke ruangan dengan wajah penuh senyum.

***

Bismillah...
Mungkin begini ya rasanya maling tertangkap basah? Lidah kelu, tangan berkeringat dingin, salah tingkah, uh... pokoknya ga enak deh. Apalagi dua makhluk di hadapanku sama-sama diam dan menatapku dengan tajam. Kok rasanya hanya aku saja tersangkanya? Heloo... ini kan bermula dari TPM.
Nala tak memperlihatkan ekspresi terkejut saat melihat TPM hadir di hadapannya. Tapi aku tahu hatinya gembira melihat sang pangeran secara langsung. Demikian juga dengan TPM yang tak terlalu terkejut mendapati Nala di dekatku.
“Ehem... Kalian ngobrol aja dulu ya? Aku mau ke toilet.” Ujarku memecah bisu.
Aku tak perlu menunggu jawaban mereka, langsung saja beranjak menuju toilet di sudut kafe. Sebenarnya aku tak ingin ke toilet. Hanya ingin memberi celah pada mereka untuk ngobrol. Dan semoga saja TPM mau menjelaskan permasalahan kami sehingga salah paham antara aku dengan Nala bisa selesai.
Sepuluh menit... Lima belas menit berlalu. Aku tak bisa terus menerus sembunyi dalam toilet. Baiklah, baiklah. Sepertinya aku harus kembali.
“Lama banget?” tegut TPM ketika aku kembali. Lagi-lagi aku cuma bisa nyengir.
“Gimana? Kalian sudah ngobrol apa aja?” tanyaku. Kulihat Nala masih tetap diam. Waduuuuhh... sepertinya TPM belum menjelaskan apa pun padanya.
“Aku pulang ya, Sya?” pamit Nala.
“Kenapa buru-buru? Bareng kita aja ya?” aku menatap TPM untuk pertama kalinya, meminta dukungan.
“Ga usah. Aku sudah telepon taksi, kok.” Jawabnya sambil berlalu. Aku tak sempat lagi bicara apa-apa.
Aku menghadap TPM, meminta penjelasan padanya. “Mas bilang apa sama dia?” tanyaku.
“Ga bilang apa-apa, kok. Aku sudah coba jelasin seperti yang Adek minta. Tapi dia tetap tak mau percaya.”
Aku menghela napas. Kesal? Tentu. Bagaimana aku bisa melanjutkan pinangan ini jika ada satu hati yang terluka. Dan hati itu milik sahabat baikku.
Ketika aku tengah cemberut, ada sebuah bisikan yang sangat jelas di telingaku untuk berbalik menatap pintu masuk. Posisiku memang membelakangi pintu. Aku, entah mengapa, menuruti bisikan itu. Berbalik dan menatapnya, sosok gagah yang kemarin baru saja membuatku patah hati melangkah masuk dengan tenang sambil menenteng tasnya.
Tanpa sadar aku bangkit.
“Bram?”
Dia melihat ke arahku, tersenyum sejenak. Kemudian pandangannya beralih pada lelaki yang tengan duduk bersamaku.
“Hai, Sya? Sama siapa?” sapanya.
Kuperkenalkan mereka berdua. Tentu saja aku tak bilang bahwa TPM adalah calon suamiku. Kuajak Bram bergabung di meja kami daripada aku harus berdua saja dengannya. Setidaknya aku bisa puas memandangi wajah Bram sore ini. Karena besok bukan tak mungkin segalanya sudah tidak bisa lagi kulakukan.
Pip..pip..
Sms masuk. TPM? Duduk bareng semeja kok pake smsan sih? Namun tak urung aku membukanya.
 “Ooh, ini yang namanya Bram, idolanya Adek ya? Puas-puasin deh memandang wajahnya. Esok sudah tak akan bisa karena Adek sudah jadi milikku.”
 What? Percaya dirinya berlebihan sekali. Segera kuhapus sms itu tanpa mengirim balasan. Tuhaaaan, jangan-jangan aku telah salah mencondongkan hatiku pada pria norak dan narsis itu? hiks...

***

“Sya, ayo makan malam dulu. Ummi sudah menunggu di meja makan.” Kak Ayu mengetuk pintu kamarku. Aku menggeliat malas. Kurapikan bajuku, kusambar jilbab kaus serampangan, dan segera membuka pintu.
Kak Ayu berdiri di hadapanku. Kak Ayu yang sederhana, yang selalu baik meski aku selalu jahil padanya. Kak Ayu tak pernah memarahiku secara berlebihan. Bahkan ketika aku sakit, Kak Ayu lah orang yang setia di sampingku. Tiba-tiba mataku memanas. Seketika aku memeluknya dan meluapkan airmataku di bahunya.
“Kenapa, Neng?”
Kak Ayu membimbingku kembali ke dalam kamar. Kami duduk berhadapan di tepi pembaringan.
Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku dan perasaan Nala saja. Sedangkan perasaan keluargaku sama sekali tak kuhiraukan. Padahal mereka seharusnya menjadi orang pertama yang tahu tentang pinangan itu. Terlebih Kak Ayu. Kakak yang belum memiliki pendamping. Seharusnya, restu dari Kak Ayu lebih penting dari segalanya.
Kak Ayu membiarkan aku menceritakan semua permasalahanku dengan terbata diselingi isak tangis. Sesekali ia mengangguk dan tersenyum. Kemudian jemarinya mengusap pipiku kala ceritaku usai.
“Neng, Kakak ikhlas kalau Neng mau menikah duluan. Toh ini takdir yang harus kita terima. Insyaallah, nanti kalau sudah saatnya Kakak akan segera menyusul kamu untuk menikah.”
Ucapan Kak Ayu makin menderaskan airmataku. Sebegitu lapangnya kakakku hingga rela kulangkahi. Hiks…
“Tapi, Kak. Nala…”
Kak Ayu tersenyum. “Dia hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, Neng. Kalau memang ia sahabatmu, insyaallah ia akan merestuimu.”
Kususut airmataku. Kubenahi letak jilbabku.
“Jadi, kamu sudah mantab akan menikah dengannya?” Tanya Kak Ayu. Senyumnya kembali jenaka.
Aku tersipu. Namun tak urung kuanggukkan kepala.
Kami segera turun ke ruang makan setelah Kak Ayu membantuku membersihkan sisa airmata di pipi. Ummi menatap kami dengan heran. Karena sejak keluar kamar, aku tak melepas genggaman tangan Kak Ayu, hal yang sangat jarang terjadi.
“Mi, ada kabar gembira.” Kak Ayu membuka pembicaraan. Kami bertiga sudah duduk mengelilingi meja makan. Ummi, yang tengah menghidangkan piring ke hadapanku menghentikan gerakan tangannya.
“Adik kecilku akan menikah. Akhirnya Thasya menerima pinangan dari…”
Aku menyikut Kak Ayu. Wajahku sudah merona. Ummi dan Kak Ayu tertawa bahagia dan berulang kali menyebutkan hamdalah.
“Kebetulan. Abi baru saja bertemu dengan Prama di Prabumulih dua hari lalu. Dia memintamu dari Abi dan Abi langsung menyetujuinya. Kalau kamu setuju, berarti sudah tak ada masalah lagi kan? Kapan menikah nih? Mumpung Prama ada di sini.”
“Ummiiiiiiiii… apaan sih? Masa harus langsung menikah?” aku memprotes.
“Iya dong. Habis nikah terus pacaran. Baru kereeeen.” Kak Ayu menimpali.
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Kubiarkan saja Ummi dan Kak Ayu membicarakan rencana-rencana pernikahanku kelak. Masih ada satu hal yang mengganjal di hati ini. Satu hal yang membuat aku ragu untuk bilang ‘iya’ meski hatiku sudah hampir sepenuhnya mantab pada pria itu.
“Insyaallah Nala akan mengerti, Neng.” Ucap Kak Ayu sebelum aku tidur.

Ya, semoga saja dia akan mengerti dan bisa menerima semuanya. Amiin. 

Rabu, 22 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 6)

Hari keenam…

Aku berkaca, mematut diri. Kubenahi jilbabku yang sebenarnya tak miring. Aku suka sekali berlama-lama bercermin, memandang pantulan wajahku yang balik menatapku. Mereka benar, orang-orang benar, aku jauh dari cantik, aku jauh dari sempurna secara fisik karena ukuran tubuhku yang membulat. Tapi aku suka pipi dan mataku yang lucu –menurutku-.
Aku yang tak cantik ini sedang sedih dibalik kebahagiaan dilamar seorang pria. Sedihku karena salah pahamku dengan Nala ternyata belum selesai. Nala menolak berbicara denganku usai makan siang kemarin. Dia jelas-jelas menghindariku. Dia bahkan menyuruh OB meletakkan file di mejaku padahal jarak meja kerja kami hanya tiga langkah. Ouh… 
Lengkap sudah penderitaanku. Tak cantik, tak punya teman pula. Tapi aku sungguh beruntung masih ada Ummi, Abi dan Kak Ayu yang terus mendukungku. Bukankah Ummi dan Kak Ayu selalu mengajarkan aku untuk bersyukur terhadap segala yang telah kumiliki? Ah, astaghfirullah
“Sya, masih lama ya?” teriak Kak Ayu sembari mengetuk pintu kamar.
“Bentar lagi, Kak!” jawabku sambil teriak pula.
“Kalo gitu buruan turun! Ada yang jemput kamu noooh.” Balas Kak Ayu tak kalah kerasnya.
“Kalian ini perempuan kok teriak-teriak sih? Pagi-pagi pula.” Kali ini suara sopran Ummi terdengar dari dapur. Eh, lah itu Ummi juga teriak. Hihihi…
Kak Ayu tadi bilang ada yang menjemputku? Siapa ya? Selama ini aku tak pernah ada yang menjemput kecuali kalau mendesak. Itu pun di jemput supir kantor yang sudah dikenal semua orang di rumah ini.
Kupastikan dulu penampilanku pagi ini kemudian buru-buru menyambar ransel dan berlari keluar kamar. Aku melewati ruang makan, tak menghiraukan panggilan ummi dan iming-iming nasi gorengnya. Aku melesat menuju ruang tamu.
Di dekat jendela, seorang lelaki besandar di tembok. Sosoknya terasa asing meski aku merasa pernah bertemu dengannya. Dia asik menatap keluar hingga aku hanya bisa menatap punggungnya. Dadaku berdesir norak.
“Thasyaaaa!!!” ummi mulai ngerock. Kesal karena sejak tadi aku tak menghiraukan panggilan beliau.
Kuurungkan niat untuk menyapanya. Aku berbalik menuju ruang makan, mengambil tempat di sebelah kak Ayu dan menunggu ummi menghidangkan nasi goreng untukku.
 “Itu..” ucapanku terpotong.
 “Kenapa ga diajak makan aja sekalian, Mi?” Tanya kak Ayu. Kulihat Ummi tersenyum dan mengangguk.
 “Sana, Ayu coba ajak … (ummi menyebut nama TPM) makan sekalian.”
Kalimat Ummi membuat aku tersedak nasi goreng yang baru satu suapan. Cepat-cepat kuteguk air minum.
“Siapa, Ummi?” tanyaku.
Ummi menatapku dengan dahi berkerut. “Loh? Kamu belum ketemu dia, Neng? Kirain tadi udah. Dia bilang dia mau jemput kamu. Waktu ummi tanya dia siapa, dia sebutkan namanya dan bilang kalau dia calon suami kamu. Bener, Neng?”
Glek!
Pantesan aku merasa pernah melihatnya. Tentu saja. Belakangan ini aku sering mencuri waktu untuk melihat profilnya. Kujelajahi album fotonya, kuhapal info tentangnya sebisaku. Meski bisa saja info itu palsu.
Tak lama Kak Ayu muncul bersamanya. Sialnya, dia duduk di hadapanku. Membuat aku terus tertunduk sepanjang acara sarapan pagi itu. Untung saja Abi sedang ke luar kota. Kalau tidak, tentu aku sudah diledek beliau sampai menangis. Kubiarkan saja Kak Ayu dan Ummi bercanda dengannya. Sementara aku hanya jadi pengamat saja.
 Kini, aku sudah duduk manis di sampingnya yang mengemudikan mobil menuju kantorku. Jantungku mendadak berisik. Aku berkali-kali melirik wajahku di kaca, takut kelihatan tersipu norak.
 “Kok diam?” tanyanya.
Duuuh, ini suara aslinya. Ups…
 “Memang aku harus bagaimana? Loncat-loncat?” nadaku terdengar judes. Dia tertawa.
“Ga surprise liat aku di sini sekarang?”
Surprise, tapi kan tenggat waktu untuk menjawab sampai besok. Mas ga sabar banget sih?”
 “Ih, siapa bilang aku ke sini menagih jawaban dari kamu? Aku hanya ingin melihat wajah calon istriku.”
 Rayuan pulau kelapa. Huweek..
 “Dan aku harap Mas kecewa setelah melihat aku yang tak cantik seperti ini.” Jawabku. Mobil sudah dekat sekali dengan kantor.
 Dia tersenyum. Menatapku intens, membuat aku tertunduk lagi. Aku takut jatuh cinta pada tatapan matanya. Mata yang setenang air di danau.
 “Aku tak pernah menilai cantik berdasarkan fisik. Aku menilainya dari hati. Insyaallah Adek punya semua kriteria yang aku idamkan.” Bisiknya.
 Blushing. Pipiku pasti merona mendengarnya. Mobil sudah berhenti di depan kantor dan aku bergegas turun. Dia sempat bilang akan menjemputku sepulang kerja sebelum aku menutup pintu mobil dan berlalu.
 Norak! Norak! Hatiku ribut berteriak. Tapi aku tak peduli. Aku terus melangkah menuju ruang kerja di lantai tiga. Ketika aku sampai di sana, Nala sedang menatap keluar jendela.

Hatiku mencelos. Jendela itu menghadap ke jalan raya. Dari jendela itu bisa melihat mobil yang keluar masuk bahkan berhenti di depan kantor.

Selasa, 21 Mei 2019

Maaf, Dia memilihku (Part 5)

Hari kelima…

Duuuuh… rasanya seperti di kejar deadline. Tinggal dua hari lagi aku harus segera menjawab pertanyaan TPM. Padahal baru kemarin aku patah hati karena jawaban Bram yang datar-datar saja mendengarkan aku akan segera menikah. Aku tak berharap dia menangis berlebihan. Aku hanya ingin dia mencegahku, maka akan kubaktikan seluruh hidupku padanya. Hiks… 
Ah, sudahlah. Ngapain juga mikirin dia. Masalahku kini tinggal Nala. Mau tak mau aku harus segera bicara padanya.
 Aku dan Nala memang sahabat di kantor, sama-sama mencintai dunia literasi, membaca dan juga berburu buku. Kalau ada jadwal bedah buku, kami segera mendaftar selama masih bisa di jangkau angkutan umum. Sebab aku sendiri  tak terlalu hafal jalanan ibu kota.
 Kemudian pada suatu hari, aku menemukan milis yang cukup kompeten dan sarat ilmu. Aku ajak Nala untuk bergabung di sana. Awalnya kami, sesama anggota baru hanya memperhatikan aturan main mereka. Lama-lama kami pun terbiasa dan segera membaur. Kami bukan orang yang sulit bergaul, kok. Jadi mudah saja untuk beradaptasi.
 Tak lama, kami mendapat teguran, eh, salam maksudnya dari seorang senior. Laki-laki. Ganteng. Bijaksana pula. Aku dan Nala menyebutnya sebagai paket komplit. Ah, tidak ada maksud untuk menyamakannya dengan menu makanan di restoran fastfood, tapi dia komplit segalanya.
 “Calon imam yang baik, insyaallah.” Begitu kata Nala ketika kami membicarakannya.
 Berawal dari milis, kami pun menjadi akrab di Facebook. Dan keakraban kami itu sering aku gunakan untuk menggoda Nala dengannya. Aku sering bilang mereka cocok, mereka serasi dan menyarankan mereka segera menikah. Biasanya, candaanku akan berakhir lemparan tisu beserta tempatnya dari Nala yang meja kerjanya tak jauh dariku. Haha…
 Dan aku tak menyangka jika berawal dari candaan itu, Nala benar-benar jatuh cinta pada TPM. Nala benar-benar menaruh hati pada lelaki yang bahkan belum ia kenal. Hanya mendengar suaranya melalui telepon beberapa kali. Itu saja sudah cukup membuatnya tersipu malu.
 Kini aku bagai berdiri di lautan duri. Tak tahu bagaimana caraku melangkah menyelamatkan persahabatanku dengan Nala jika ia tahu tentang TPM yang tengah meminangku. Aku sudah pernah mencoba bicara pada TPM mengenai Nala. Tapi jawabannya mengecewakan.
 “Kenapa harus aku yang bicara? Aku kan tidak punya hubungan apa-apa sama dia? Kalau toh ternyata dia mencintaiku, bukan berarti aku harus mencintainya juga kan?”
 Hiiiihhh… rasanya pengen menggores wajah gantengnya dengan garpu saat itu juga. Aku hanya minta dia menyampaikan pada Nala saja. Titik.
 “Ga mau. Aku ga ada urusan apa pun sama Nala.”
 “Tapi, Mas, sudah sepatutnya kamu bilang sama dia. Dia kan sahabatku, jadi dia harus tahu juga.”
“Enggak, Dek. Keputusan untuk melanjutkan masa depan ada di tangan kita, bukan orang lain. Dan aku tidak akan menerima alasanmu menolakku jika itu semua karena Nala.”
Klik! Telepon di putus.
Tinggalah aku sendiri dilanda bingung karena ulahnya. Pokoknya Nala harus tahu. Dan aku harus mendapat restunya. Aku tak mau membangun sebuah hubungan di atas penderitaan orang lain. Terlebih orang itu adalah sahabatku.

***

Aku tertunduk dalam kelu di kantin kantor, sementara Nala di hadapanku tengah memandang dengan tatapan siap menelanku hidup-hidup. Konsekuensi, resiko yang harus aku tanggung. Hiks… Tapi setidaknya ada sedikit lega karena aku sudah menceritakan semuanya pada Nala.
“Maafkan aku, La.” Bisikku.
“Kenapa baru bilang sekarang, Sya?”
Ya? Kenapa baru bilang sekarang setelah berjalan lima hari? Jawabannya, aku takut mengatakan semua ini padanya. Aku hanya bisa menelan ludah, glek.
 “Jawab, Sya? Kenapa baru sekarang setelah kalian berjalan begitu lama? Jadi selama ini kamu hanya pura-pura menjodohkan aku dengannya padahal di belakangku kalian asik menyusun masa depan?” Nala mengeluarkan lahar emosinya.
 Aku bengong. Sekian lama? Ada yang salah sepertinya.
 “La… kamu salah. Aku sama dia tidak ada hubungan apa pun kok. Hanya saja baru-baru ini dia…”
 “Cukup! Aku ga mau mendengar ocehan kamu lagi. Pasti bohong lagi kan?”
 Aku menggeleng kuat-kuat, memasang wajah memelas memohon pengertiannya. “La, benar, aku sama dia ga pernah ada hubungan apa pun. Ga ada yang aku tutupi dari kamu selama ini, La.”
 “Cukup, Sya. Sejak saat ini jangan lagi bicara sama aku di luar urusan kerja.” Dia beranjak keluar kantin dengan langkah menghentak.
 Aku menyusut airmata yang menetes. Ada perih menyusup. Bukan karena kemarahan Nala, tapi karena salah paham yang timbul di antara kami. Kuambil Hp, kuketik sms untuknya, TPM.
 “Nala salah paham. Dia kira kita ada hubungan di belakangnya. Kamu harus tanggung jawab, mas.”
 Sent.
 Balasannya segera kuterima.
 “Biar saja.”

 Uuuuuhhh… hampir saja kubanting android kesayanganku.

Senin, 20 Mei 2019

Maaf, Dia memilihku (Part 4)

Hari keempat...

Dear Diary,
Mungkin sebagian orang merasa aneh kalau di usiaku yang sudah hampir seperempat abad masih saja menulis buku harian. Tapi inilah aku. Aku bukan tipe extrovert. Tidak semua yang ada di hati bisa kubicarakan dengan orang lain. Untuk hal-hal tertentu aku malah lebih senang mencoret-coret halamanmu yang semakin lama semakin gendut ya, Ry? Hehe... Lagipula aku teringat pesan seorang penulis asal Malang saat usiaku masih 12 tahun, agar bisa menjadi penulis yang baik, mulailah dengan menulis buku harian. Dan kebiasaan itu aku lakukan sampai sekarang.
Berapa hari ya aku tak lagi menarikan pena di atasmu? Hem.. empat hari. Ya, empat hari tepat sejak kekacauan ini timbul. Kacau karena seorang pria nekat yang membuat hatiku merinding.
Sampai hari keempat aku masih juga belum menemukan kemantapan akan pinangannya. Aku tahu dia serius, tapi entah kenapa sosok Bram tak jua pergi dari ingatanku. Semakin keras aku berusaha melupakannya, semakin kuat ia menempel dalam benakku. Aku jadi bertanya-tanya, dia menggunakan lem apa sih hingga aku tak bisa melepaskan diri dari bayangannya? Hiks...
Siang ini aku bercengkerama (ga mesra) dengan TPM. Tau kan? The Prabumulih Man. Aku mencari ketulusan dari nada suaranya karena tak mungkin menatap matanya. Aku menginginkan ketegasan dalan setiap kata-katanya. Aku harus benar-benar cermat. Jangan sampai menyesal untuk sebuah keputusan besar.
Aku, lagi-lagi, bertanya tentang keseriusannya. Dan dia bilang dia serius. Dia sudah memikirkannya matang-matang. Restu dari orang tuanya pun sudah turun. Hanya tinggal menanti jawaban dariku sebagai calon istrinya. Dia juga bilang, “Aku tak peduli masa lalumu. Aku mencintaimu karena Allah dan insyaallah akan bisa menerima segala yang ada pada dirimu.”
Hiks, aku meleleh, Ry. Baru kali ini aku mendengar seorang pria bilang cinta dan itu ditujukan padaku. Aku tersanjung, tapi segera kukuasai diri. Kata-kata saja tak akan cukup. Harus ada bukti.
“Gimana aku bisa membuktikan keseriusanku, Nyonya ... (Dia menyebutkan nama belakangnya)? Sementara pinanganku belum terjawab.”
Hihihihi... rasanya lucu kalau di belakang namaku akan muncul nama baru, namanya. Tapi tak urung panggilan itu menggetarkan hatiku. Duh, aku merasa mulai tak setia pada Bram nih, Ry.
By the way, tadi aku juga ketemu Bram secara ga sengaja di Mall ketika sedang mencari kado. Dia berjalan sendirian seperti biasa. Akhirnya kami sempatkan mampir di foodcourt sambil ngobrol dan ngopi (aku ngeteh ding. Hehe...).
Ry, dia makin cakep aja. Sedikit lebih segar dibanding sebelumnya dan tetap dingin. Sedingin beruang kutub. Lebih banyak diam dan akhirnya aku yang salah tingkah. Selalu begitu. Dia tak tampak ingin memulai obrolan. Jadilah aku yang harus memutar otak untuk mengajaknya bicara.
Ry, aku berdiri di sampingnya dan merasa kecil sekali. Sebenarnya dia tidak terlalu tinggi untuk ukutan laki-laki. Tapi karena aku yang mungil jadinya aku seperti kurcaci di sampingnya. Hihihi... aku harus mendongak untuk bisa menatap wajahnya.
Ry, untuk pertama dan terakhir kalinya, hari itu aku bersama Bram seharian. Dari siang sampai senja. Aku menemukan pesona sendu nan teduh di matanya. Aku terkesima setiap kali ia tersenyum dan merasa dunia ini sunyi ketika ia bicara. aku bisa mendengar suaranya, bahkan tarikan nafasnya. Telingaku menjadi sensitif terhadap dirinya.
Aku memutuskan untuk bertanya padanya. Bertanya tentang perasaannya padaku, Ry. Agar kelak aku tak menyesal telah melepaskannya. Kau benar, Ry. Aku sudah mempertimbangkan pinangan TPM baik-baik. Bukan aji mumpung, mumpung ada yang ngelamar terus di terima. Enggak Ry. Empat hari ini aku sadar akan sesuatu yang tak bisa datang dengan cepat dan perlu di hargai. Toh cinta akan tumbuh seiring waktu.
“Bram, boleh aku tanya?”
Dia mengangguk dan tersenyum.
“Selama ini kita sudah sangat dekat bukan? Apa kau nyaman bersamaku?”
Bram tertawa. “Justru aku yang harus tanya. Apa kau nyaman bersama orang aneh sepertiku?”
“Jangan selalu memandang rendah dirimu, Bram. Jawab pertanyaanku.”
“Selama ini aku cukup nyaman bersamamu. Kenapa memangnya?”
“Aku harus jujur bahwa aku tak nyaman, Bram. Kita sudah sangat dekat tanpa ikatan hubungan apa pun. Kini saatnya aku bertanya tentang kejujuranmu, bagaimana perasaanmu terhadapku?” tanyaku pasti. Dia terdiam, Ry. Mungkin seharusnya aku tak menanyakannya karena aku sudah tahu pasti jawabannya.
“Untuk apa, Sya?”
“Penting untukku, Bram. Aku tak ingin selamanya terpenjara dalam rasa yang tak ada ujungnya.”
Dia menghela napas. “Aku tak tahu, Sya. Aku hanya tahu aku nyaman bersamamu. Tak ada pikiran untuk menjauh atau pun melangkah ke kehidupan lain bersamamu.”
Jleb!
Kejujurannya menghujam hatiku, Ry. Aku bisa apa kalau dia sudah bilang begitu? Hiks... Baiklah. Bismillah, semoga keputusanku tak salah.
“Bram, aku akan segera menikah.”
Dia tetap datar. Tak ada kesan terkejut sama sekali.
“Selamat...”
Hanya itu? Tak tahukah kalau hati ini menjerit menginginkan dia melarangku menikah dan bilang kalau dia cinta padaku?

Dan kini aku memang harus melepasnya, Ry. Melepaskan Bram yang selalu mengisi hatiku. Aku tak ingin melangkah ke hidup baru dengan membawa bayangan lama. Semoga aku bisa ya, Ry? Amiin.

Sabtu, 18 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 3)

Hari ketiga…

Pagi ini, eh, masih terlalu pagi, dini hari lebih tepatnya. Pukul tiga aku terbangun dengan tubuh bersimbah peluh. Aku mimpi buruk. Nala membenciku dan menolak untuk memaafkanku. Kemudian semua orang menganggap aku ini penghianat. Karena tak bisa tidur lagi, aku putuskan untuk mendirikan sholat lail dan sedikit merenung sambil menanti waktu subuh tiba.
Ketika adzan subuh menggema, handphoneku berbunyi. Sebuah sms masuk. Kulihat namanya (The Prabumulih Man) muncul didisplay.
Ayo sholat, Dek. Dan aku berharap kau sudah temukan satu kata sebagai jawabanmu.”
Hatiku mendadak kesal membacanya. Semua berawal dari dia, seorang pria yang belum pernah kujumpai wajahnya, hanya mendengar suaranya saja. Tapi sudah membuat hatiku hancur porak-poranda. Huhuhu… Sholat dulu ah.
Kantor, yang semula kuanggap rumah kedua, kini bak penjara bagiku. Aku tak bebas lagi bergosip ria bersama staff lain, tak bisa lagi bercanda dengan Nala tentang pria idamannya. Dan tidak sanggup lagi untuk memandang wajah Bram berlama-lama mengingat aku sedang dalam masa berpikir tuk menentukan sebuah jawaban.
Aku diambang batas kejujuran. Bagaimanapun aku harus  jujur kepada Nala, dan juga Bram meskipun ia bukan siapa-siapaku. Aku ingin bertanya pada Bram bagaimana perasaannya terhadapku. Ingin sebuah pengakuan, karena aku tak ingin menyesal dalam mengambil sebuah keputusan.
Kukenakan seragam kantor berwarna soft green dengan jilbab warna senada. Nala, yang pagi ini membiarkan rambut ikalnya terurai, datang dengan wajah riang seperti biasa. Wajah bidadari yang membuatku tak tega untuk bicara.
“Sya, ngapain ngelamun di depan dispenser?” tegur Kania.
Hah? Rupanya sedari tadi aku berdiri di depan dispenser. Hahaha… aku menyingkir dari sana dengan wajah malu.
“Kamu ada masalah, Sya?” Tanya Nala.
Mengangguk? Atau menggeleng? Kuputuskan untuk menggeleng saja.
“Dua hari ini kamu kelihatan ga fokus. Ga seperti biasanya. Kalau memang ada masalah, cerita aja.” Bujuk Nala.
Mataku mendadak memanas. Ketulusan terdengar jelas dalam setiap kalimat yang Nala ucapkan. Aku mengusap wajahku sebelum air mata benar-benar jatuh. Kemudian mendongak, menatap matanya yang imut dan tersenyum semanis mungkin.
I’m okay, Sist.” Jawabku pasti.
Aku memutuskan untuk menunda kabar ini dari Nala. Meski iblis dan malaikat sibuk berperang dalam hati, aku merasa harus membicarakannya dulu dengan The Prabumulih Man. Ohya, aku belum menyebutkan namanya ya? Penting kah? Hmmm… sebaiknya nanti saja aku buka profilnya.
Hpku bergetar. Waduh, Nala malah memegang hp itu dan menyodorkannya padaku. Tapi setidaknya aku lega karena tadi pagi aku telah mengganti namanya di phonebook menjadi TPM, singkatan dari The Prabumulih Man. Hehe…
“Assalamu’alaikum?” aku berbisik. Dia menjawab salamku.
“Kok bisik-bisik ngomongnya?”
“Eh, anu..ini lagi di kantor, Mas. Masih jam kerja. Ga enak kalo terima telpon pribadi.” Jawabku. Jurus ngasal aja. Hehe…
“Ooh… ya sudah. Jangan lupa makan. Gimana sudah ada jawaban?”
Hadoooh… kenapa juga dia harus tanya tentang itu sekarang? Aku melempar cengiran pada Nala yang memandangku heran.
“Belum. Sudah ya, Mas? Ga enak tu bos datang. Bye. Assalamu’alaikum?”
Klik!
Kuhembuskan napas lega.
“Siapa, Sya?” Tanya Nala.
“Anu…”
“Anu siapa?”
“Eng… itu, si Anu.”
“Itunya si Anu atau anunya si itu?” Nala mulai gak jelas.
“Hehehe…”
“Kekasih kamu ya, Sya?” pertanyaan Nala masih berlanjut.
“Bukan.” Jawabku. Memang bukan kan? Kami tak perna terikat dalam suatu hubungan asmara selama ini. Entah esok hari.
“Hem… kalau bukan berarti dia cowok pujaan kamu ya?”
Pujaan? Di hatiku cuma ada Bram. Dia mah nyempil dikit doang. “Bukan, La.”
“Uuuhh…. Penasaran nih, Sya. Siapa sih? Cerita dong.” Bujuk Nala.
Pip..pip…
Jam imut di mejaku berbunyi menandakan pukul lima telah tiba. Sudah waktunya pulang. Save by the time. Thank’s God!
“Kamu utang cerita sama aku.” Teriak Nala ketika aku membuka pintu kantor. Fiuuhh…

***


Jumat, 17 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 2)

Hari kedua…

Pagi ini aku terbangun dengan niat akan bicara pada Nala dulu mengenai lamaran pria yang diidamkannya terhadapku. Aku memilih Nala karena aku anggap dia adalah orang pertama yang perlu tahu tentang kami, tentang lelaki pujaannya agar tak terus menaruh harap. Bismillah…
Uh, rasanya aku menjadi perempuan jahat yang telah menelikung sahabatnya sendiri dari belakang. Hiks…
“La!” panggilku ketika melihatnya datang.
Yang dipanggil membalikkan badan dan tersenyum manis padaku, “Hai, Sya? Ada apa?”
Keringat dingin membanjiri ketiakku. Wajah bidadarinya membuat nyaliku mendadak ciut.
“Eng… Enggak! Ntar makan siang dimana?” tanyaku. Ooops, kenapa tanya itu? Bukan, maksudku bukan itu. Lagian masih pagi kok ngomongin soal makan siang sih? Sarapan aja belum.
Nala tertawa merdu tapi membuatku merinding.
“Belum tahu. Mau makan bareng?” tawarnya.
Aku menyambutnya dengan segera. Berharap semoga nanti ada kesempatan bicara dengannya berdua saja. Amin.
Sesaat aku lupa akan beban pikiranku karena begitu banyaknya tugas yang menumpuk di meja. Sesekali kulihat Nala tengah asik pula mengerjakan bagiannya.
Aku memilih membiarkan Nala menyantap hidangannya ketika jam makan siang tiba. Aku pun mencoba mengusir gundah gulanaku dengan sedikit mengisi perut. Sedikitnya dua burger, seporsi paket hemat dan segelas minuman cola. Sedikit ya? Hehehe…
“Doyan apa laper, Sya?” Tanya Nala.
Ah, bukan, tapi stress. Hihihi…
“Belum makan dari kemaren, La.” Jawabku.
“Oh, pantes kalap gitu. Cantik-cantik kuli ternyata.”
Asem!
Kubersihkan sisa makanan di bibirku dengan tisu kemudian menatap Nala yang sedang menyuapkan suapan terakhir ayam goreng ke mulutnya. Aku menatapnya penuh iba. Gadis ini baik sekali padaku. Dan kini aku harus memberinya kenyataan pahit yang mungkin tak akan termaafkan seumur hidup.
Aaarrrgghhh! Ini semua gara-gara dia, lelaki di Prabumulih itu. Dia nyaris membuatku GILA.
“Sya, ngapain ngeliatin aku terus? Naksir?”
“Jiah, maap, Bu. Saya masih normal. Saya masih doyan laki.” Jawabku.
Dia terkekeh.
Oke, this is the time to be honest. Bismillah…
“La, gimana kalo lelaki yang kamu suka…” aku tak jadi meneruskan kalimatku. Di pintu masuk aku melihat sesosok pria ganteng masuk menenteng tas laptop yang biasa ia bawa. Ia tersenyum ke arahku dan aku… meleleh di tempat.

Hari ini aku gagal mengutarakan semuanya pada Nala. Hiks… Sampai kapan akan begini? Rasanya seperti maling yang sembunyi dari kejaran polisi. Huwaa…

Kamis, 16 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 1)

Paket itu tiba siang ini di rumahku. Sebuah paket berisi empat buah buku yang aku pesan dari seorang sahabat nun jauh di Prabumulih, Sumatera. Aku tersenyum mengamati setiap buku. Paket itu datang bersama sebuah kejutan untukku. Kejutan tak pernah aku sangka (iyalah..) dan yang kelak akan mengubah hidupku. Membuat aku pusing bukan main. Secarik kertas berwarna ungu berbau harum terselip dan jatuh ketika aku sedang mengamati buku terakhir.

Jika purnama depan aku bisa,
Ku kan hadir dihadapanmu,
Membawa sebuket asa,
Untuk merengkuh masa depan bersama,
Kutawarkan mahar paling indah,
Seperangkat alat sholat beserta imannya.
Akankah kau bersedia?

Untaian kalimat itu membuat aku merinding. Pasalnya yang menulis adalah seorang lelaki yang mengaku tidak romantis. Lelaki yang setengah mati dikagumi oleh Nala, sahabatku. Tak pernah kusangka kalau surat itu ditujukan padaku. Tapi setelah kutanyakan, itu memang untukku dan dia menanti jawabanku dalam tujuh hari. Bayangkan, sebuah keputusan besar harus aku pikirkan masak-masak hanya dalam tujuh hari. Gila!
Berkali-kali aku mencoba memastikan kebenaran surat itu, berkali-kali pula ia menegaskan bahwa itu memang untukku. Dia tak salah kirim dan sudah melakukan istikhoroh beberapa kali. Hasilnya, namaku yang muncul sebagai jawabannya. Sekali lagi, Gila!!


***

Hari pertama,

“Gimana, sudah memikirkan jawabannya, Dek?” Tanya si pengirim surat itu. Panggilan ‘Dek’ darinya membuat dadaku berdesir. Bahagia sekaligus nyeri.
Aku menggeleng. Tapi kemudian kusadari dia tak mungkin melihat gelengan kepalaku karena kami berkomunikasi melalui telepon.
“Belum, Mas.” Jawabku lirih sembari tengok kanan-kiri. Maklum, saat itu aku sedang di kantor. Takut ada kuping usil yang ikut campur.
“Kenapa?” tanyanya.
“Baru juga sehari, Mas. Sabar dong!” aku mulai merajuk.
Dia tertawa. Sepertinya aku mulai membenci tawanya. Entahlah. Yang pasti saat ini aku sedang tertekan. Aku harus menyelesaikan masalahku sebelum benar-benar memutuskan jawaban untuknya.
“Ya sudah, segera berikan jawaban ya? Biar aku bisa siap-siap mengkhitbah Adek secara resmi.”
Aku makin mendongkol mendengarnya. Percaya diri sekali dia, seolah aku pasti akan menerimanya. Kututup telepon segera setelah mengucap salam. Kusorongkan Hpku ke bagian dalam laci dan segera menutup laci untuk kembali bekerja.
Tawarannya akan sebuah pernikahan sangat sulit untuk kutolak meskipun pada awalnya aku tidak menaruh hati padanya. Aku tak memungkiri kredibilitasnya sebagai lelaki religius yang insyaallah bisa menjadi imam yang baik. Dia mapan, mandiri, dewasa, nah, kurang apa coba? Soal tampang, tak kalah gantengnya dengan David Archuleta. Oh, oke, aku berlebihan. Tapi dia memang ganteng sekali kok.
Kenekatannya itu benar-benar tak bisa diterima dengan akal. Pasalnya, dia tahu kepada siapa aku menaruh hati. Dia tahu pasti apa yang sedang aku alami saat ini, mencintai seorang lelaki meski bertepuk sebelah tangan. Sayangnya, dia tak tahu bahwa ada satu hati lain yang tengah berharap untuk bisa menjadi makmumnya. Kompleks sekali permasalahanku. Hiks…
“Ngapain, Sya?” Tanya Nala mengagetkanku.
“Lagi pusing, La.” Jawabku sekenanya, menutupi kegugupanku akan kehadirannya.
“Mikirin apaan?” Tanya Nala lagi.
Omaigat, harus jawab apa aku? Masa sih harus jawab jujur kalo lelaki yang dicintainya telah melamarku? Bisa jadi perang dunia ke-18 nih. Hiperbol dikit. Hehe…
“Belum makan, La.” Haduh, kenapa juga jawaban itu yang keluar?
“Yaelaaaahhh… kirain kenapa. Ya udah cepet makan, dong. Mau aku panggilin OB buat beliin makanan?” tawar Nala. Ni anak baiknya minta ampun.
“Gak, gak, gak usah! (ala 7icons)” jawabku. Nala terkikik geli.
Aku memutuskan untuk bangkit menuju kantin sebelum Nala melanjutkan pertanyaannya. Gawat kalau aku sampai keceplosan. Tidak! Aku belum siap.
Niat hati ke kantin adalah melepas rasa lapar dan melepas penat. Tapi ternyata aku malah bertemu dengannya, si lelaki pencuri hatiku sedang asik membaca buku sendirian. Di hadapannya terhidang secangkir kopi. Wajah serius yang terbingkai kaca mata minus itu membuat aku terpukau. Ganteng? Banget. Sama si lelaki nun jauh di sono ganteng mana? Sama gantengnya. Dilema, hiks…
Sayangnya, lelaki ini tak pernah tahu isi hatiku. Dan aku pun tak berani untuk mengungkapkannya. Namanya Bram, dia rekan kerja beda divisi. Tapi kami cukup sering bertemu. Kalau tidak di kantin, ya di mushola. Dia pernah mengantarkan mukenaku yang tertinggal di mushola. Uhh… so sweet kan? Setelah itu aku jadi jatuh cinta padanya. Apalagi sejak saat itu dia sering sekali meminjamiku novel-novel bagus.

Jadi, yang kulakukan adalah putar balik, tak jadi ke kantin. Aku kembali ke ruangan dan menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas. Hari ini aku lalui dengan gelisah karena seorang pria. GILA!!