Masih hari keenam...
Kerjaku hari ini sama sekali tak bisa konsentrasi. Hatiku
diliputi gelisah yang tak menentu. Sesekali aku melirik Nala. Kulihat wajahnya
masih biasa saja, namun aura dinginnya sanggup membekukan hatiku. Uuuhh... ini
semua gara-gara TPM.
Tapi kenapa dadaku berdesir hanya dengan mengingat dirinya?
Mengingat senyum manis yang ia suguhkan tadi pagi? Huwaa... sepertinya aku
mulai jatuh cinta padanya. Mampus dah.
“Sya, kamu ngapain sih? Dari tadi kayak orang gila. Tadi
cengengesan, sekarang berubah panik.” Tegur Mbak Enny, Manajer Divisi Produksi
yang juga salah satu sahabat baikku. Aku hanya bisa menyunggingkan cengiran tak
berdosa di hadapannya.
“Awas bisa gila beneran loooh.” Godanya.
Sudah gila kayaknyaaa! Hatiku yang berteriak.
Tidak! Aku ga boleh gila dulu. Aku harus mendapat restu dari
Nala paling lambat esok hari. Segala cara akan aku tempuh asal Nala tak marah
dan merestui pernikahanku dengan TPM.
Kubuka aplikasi chatting LAN (kalo di kantor namanya winpop),
kuketik pesan singkat untuk Nala.
“La, marahmu wajar. Tapi ada salah paham yang harus kita
selesaikan. Aku dan TPM tak ada hubungan apa pun di belakangmu selama ini. Aku
juga tak menyangka dia melamarku beberapa hari yang lalu. Aku ga ingin kehilangan sahabat sebaik kamu, La.
Kalau kamu bersedia, after office hours aku tunggu kamu di
starbuck’s. Semua akan jelas, La. Aku janji. Insyaallah”
Sent.
Sengaja aku tak mencantumkan perihal kedatangan TPM di kota
ini. Aku ingin mempertemukan mereka secara diam-diam.
Balasan dari Nala segera kuterima,
“Okey. Starbuck’s after office hours.”
Fiuuhhh... Alhamdulillah. Tinggal melobi si pangeran keras
kepala nih. Semoga saja dia mau datang ke sana tanpa banyak tanya.
Kusambar Hp di laci dan segera ngacir keluar ruangan. Aku
perlu memberitahunya secara lisan. Kelamaan kalau harus mengetik sms.
“Assalamu’alaikum? Mas, nanti sepulang kerja bisa mampir ke starbuck’s?”
“...”
“Iya, yang di deket kantorku. Nanti aku tunggu di sana. Ga
usah di jemput. Paling jalan sepuluh menit udah sampe. Jam 4 tet ya? Jangan
ngaret.”
“...”
“Ya udah, aku tunggu. Assalamu’alaikum?”
Klik. Fiuuuh... lega babak dua karena si pangeran keras
kepala itu mau menuruti permintaanku. Tinggal mengatur bagaimana mereka bisa
bicara dengan santai nanti. Aku kembali ke ruangan dengan wajah penuh senyum.
***
Bismillah...
Mungkin begini ya rasanya maling tertangkap basah? Lidah
kelu, tangan berkeringat dingin, salah tingkah, uh... pokoknya ga enak deh.
Apalagi dua makhluk di hadapanku sama-sama diam dan menatapku dengan tajam. Kok
rasanya hanya aku saja tersangkanya? Heloo... ini kan bermula dari TPM.
Nala tak memperlihatkan ekspresi terkejut saat melihat TPM
hadir di hadapannya. Tapi aku tahu hatinya gembira melihat sang pangeran secara
langsung. Demikian juga dengan TPM yang tak terlalu terkejut mendapati Nala di
dekatku.
“Ehem... Kalian ngobrol aja dulu ya? Aku mau ke toilet.”
Ujarku memecah bisu.
Aku tak perlu menunggu jawaban mereka, langsung saja beranjak
menuju toilet di sudut kafe. Sebenarnya aku tak ingin ke toilet. Hanya ingin
memberi celah pada mereka untuk ngobrol. Dan semoga saja TPM mau menjelaskan
permasalahan kami sehingga salah paham antara aku dengan Nala bisa selesai.
Sepuluh menit... Lima belas menit berlalu. Aku tak bisa terus
menerus sembunyi dalam toilet. Baiklah, baiklah. Sepertinya aku harus kembali.
“Lama banget?” tegut TPM ketika aku kembali. Lagi-lagi aku
cuma bisa nyengir.
“Gimana? Kalian sudah ngobrol apa aja?” tanyaku. Kulihat Nala
masih tetap diam. Waduuuuhh... sepertinya TPM belum menjelaskan apa pun
padanya.
“Aku pulang ya, Sya?” pamit Nala.
“Kenapa buru-buru? Bareng kita aja ya?” aku menatap TPM untuk
pertama kalinya, meminta dukungan.
“Ga usah. Aku sudah telepon taksi, kok.” Jawabnya sambil
berlalu. Aku tak sempat lagi bicara apa-apa.
Aku menghadap TPM, meminta penjelasan padanya. “Mas bilang
apa sama dia?” tanyaku.
“Ga bilang apa-apa, kok. Aku sudah coba jelasin seperti yang
Adek minta. Tapi dia tetap tak mau percaya.”
Aku menghela napas. Kesal? Tentu. Bagaimana aku bisa
melanjutkan pinangan ini jika ada satu hati yang terluka. Dan hati itu
milik sahabat baikku.
Ketika aku tengah cemberut, ada sebuah bisikan yang sangat
jelas di telingaku untuk berbalik menatap pintu masuk. Posisiku memang
membelakangi pintu. Aku, entah mengapa, menuruti bisikan itu. Berbalik dan
menatapnya, sosok gagah yang kemarin baru saja membuatku patah hati melangkah
masuk dengan tenang sambil menenteng tasnya.
Tanpa sadar aku bangkit.
“Bram?”
Dia melihat ke arahku, tersenyum sejenak. Kemudian
pandangannya beralih pada lelaki yang tengan duduk bersamaku.
“Hai, Sya? Sama siapa?” sapanya.
Kuperkenalkan mereka berdua. Tentu saja aku tak bilang bahwa
TPM adalah calon suamiku. Kuajak Bram bergabung di meja kami daripada aku harus
berdua saja dengannya. Setidaknya aku bisa puas memandangi wajah Bram sore ini.
Karena besok bukan tak mungkin segalanya sudah tidak bisa lagi kulakukan.
Pip..pip..
Sms masuk. TPM? Duduk bareng semeja kok pake smsan sih? Namun
tak urung aku membukanya.
“Ooh, ini yang namanya Bram, idolanya Adek ya? Puas-puasin
deh memandang wajahnya. Esok sudah tak akan bisa karena Adek sudah jadi
milikku.”
What? Percaya dirinya berlebihan sekali. Segera kuhapus
sms itu tanpa mengirim balasan. Tuhaaaan, jangan-jangan aku telah salah
mencondongkan hatiku pada pria norak dan narsis itu? hiks...
***
“Sya, ayo makan malam dulu. Ummi sudah menunggu di meja
makan.” Kak Ayu mengetuk pintu kamarku. Aku menggeliat malas. Kurapikan bajuku,
kusambar jilbab kaus serampangan, dan segera membuka pintu.
Kak Ayu berdiri di hadapanku. Kak Ayu yang sederhana, yang
selalu baik meski aku selalu jahil padanya. Kak Ayu tak pernah memarahiku
secara berlebihan. Bahkan ketika aku sakit, Kak Ayu lah orang yang setia di
sampingku. Tiba-tiba mataku memanas. Seketika aku memeluknya dan meluapkan
airmataku di bahunya.
“Kenapa, Neng?”
Kak Ayu membimbingku kembali ke dalam kamar. Kami duduk
berhadapan di tepi pembaringan.
Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku dan perasaan Nala
saja. Sedangkan perasaan keluargaku sama sekali tak kuhiraukan. Padahal mereka
seharusnya menjadi orang pertama yang tahu tentang pinangan itu. Terlebih Kak
Ayu. Kakak yang belum memiliki pendamping. Seharusnya, restu dari Kak Ayu lebih
penting dari segalanya.
Kak Ayu membiarkan aku menceritakan semua permasalahanku
dengan terbata diselingi isak tangis. Sesekali ia mengangguk dan tersenyum.
Kemudian jemarinya mengusap pipiku kala ceritaku usai.
“Neng, Kakak ikhlas kalau Neng mau menikah duluan. Toh ini
takdir yang harus kita terima. Insyaallah, nanti kalau sudah saatnya Kakak akan
segera menyusul kamu untuk menikah.”
Ucapan Kak Ayu makin menderaskan airmataku. Sebegitu
lapangnya kakakku hingga rela kulangkahi. Hiks…
“Tapi, Kak. Nala…”
Kak Ayu tersenyum. “Dia hanya butuh waktu untuk menerima
semuanya, Neng. Kalau memang ia sahabatmu, insyaallah ia akan merestuimu.”
Kususut airmataku. Kubenahi letak jilbabku.
“Jadi, kamu sudah mantab akan menikah dengannya?” Tanya Kak
Ayu. Senyumnya kembali jenaka.
Aku tersipu. Namun tak urung kuanggukkan kepala.
Kami segera turun ke ruang makan setelah Kak Ayu membantuku
membersihkan sisa airmata di pipi. Ummi menatap kami dengan heran. Karena sejak
keluar kamar, aku tak melepas genggaman tangan Kak Ayu, hal yang sangat jarang
terjadi.
“Mi, ada kabar gembira.” Kak Ayu membuka pembicaraan. Kami
bertiga sudah duduk mengelilingi meja makan. Ummi, yang tengah menghidangkan
piring ke hadapanku menghentikan gerakan tangannya.
“Adik kecilku akan menikah. Akhirnya Thasya menerima pinangan
dari…”
Aku menyikut Kak Ayu. Wajahku sudah merona. Ummi dan Kak Ayu
tertawa bahagia dan berulang kali menyebutkan hamdalah.
“Kebetulan. Abi baru saja bertemu dengan Prama di Prabumulih
dua hari lalu. Dia memintamu dari Abi dan Abi langsung menyetujuinya. Kalau
kamu setuju, berarti sudah tak ada masalah lagi kan? Kapan menikah nih? Mumpung
Prama ada di sini.”
“Ummiiiiiiiii… apaan sih? Masa harus langsung menikah?” aku
memprotes.
“Iya dong. Habis nikah terus pacaran. Baru kereeeen.” Kak Ayu
menimpali.
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Kubiarkan saja Ummi
dan Kak Ayu membicarakan rencana-rencana pernikahanku kelak. Masih ada satu hal
yang mengganjal di hati ini. Satu hal yang membuat aku ragu untuk bilang ‘iya’
meski hatiku sudah hampir
sepenuhnya mantab pada pria itu.
“Insyaallah Nala akan mengerti, Neng.” Ucap Kak Ayu sebelum
aku tidur.
Ya, semoga saja dia akan mengerti dan bisa menerima semuanya.
Amiin.