Rabu, 04 Oktober 2017

ANGEL IN THE RAIN [WINDRY RAMADHINA]

Saya mengenal mereka, Ayu dan Gilang, awalnya hanya sekilas lalu. dalam kisah manis Ann dan Ju di buku Walking After You. Ayu bukan ‘penghuni’ buku tersebut. Ayu hanyalah pelanggan tetap di Afternoon Tea milik Galuh, tempat Ann dan Ju bekerja, setiap selasa sore yang selalu duduk di sudut ditemani shouffle yang tak tersentuh hingga bagian tengahnya melesak ke dalam wadah. bukan cuma itu, dalam buku tersebut, Ayu, percaya atau tidak, adalah gadis pembawa hujan. setiap kedatangannya akan selalu disertai dengan hujan.

kemudian saya bertemu kembali dengan mereka. Ayu dan Gilang. Kali ini dalam buku lain yang berjudul London :Angel. Buku yang menceritakan tentang persahabatan yang -tidak selalu- berakhir dalam percintaan. Gilang, adalah tokoh utama dalam buku ini. Laki-laki yang -menurut saya- sedikit serius seperti kebanyakan penyuka sastra. serius tapi peka. Mungkin itu sebabnya teman-teman Gilang menjulukinya dengan Shakespeare.

London bercerita tentang kenekatan Gilang menyusul sahabatnya ke London demi mendapatkannya. tentang Gilang yang harus terluka karena ternyata Ning sudah jatuh cinta pada orang lain. Tentang hujan di depan Big Eye dan malaikat yang turun bersamanya, membawa payung merah.

Dalam buku ini, Ayu sedikit disinggung sebagai gadis yang berasal dari negara yang sama. Yang tak sengaja bertemu dengan Gilang di sebuah toko buku tua. Ayu sedang mencari buku-buku cetakan pertama untuk koleksinya.

Tidak banyak interaksi antar keduanya. Tapi, setelah membaca kedua buku tersebut, saya sadar saya salah. Seharusnya saya berkenalan dulu dengan London sebelum berkunjung ke afternoon tea di Walking After You. Dan satu hal yang saya sadari, ada lubang menganga yang belum terjawab tentang Ayu dan Gilang. Tentang Gilang yang tiba-tiba menghilang, tentang Ayu yang selalu duduk sendiri di sudut afternoon tea, tentang hujan yang menyertainya. Saya penasaran.

Lalu Angel In The Rain melambai pada saya. Seolah mengatakan dia punya semua jawaban yang saya butuhkan untuk menuntaskan penasaran saya. Dan saya pun menurut, mendekapnya, membawanya pulang. Empat malam saya habiskan untuk membacanya, mencoba larut dalam setiap kisah yang tersuguh di dalamnya.

Dan akhirnya, puzzle cerita ini lengkap.

Selasa, 03 Oktober 2017

12 JANUARI 2017

Kalo ada cerita hepi, harus dibagi kan yak? Biar kebahagiaan kita menular ke orang lain. Masa nularin galau terus yak? hehe…

Pagi ini si BAS dateng. bawa print out stok yang saya kirim kemarin sore. Dari jauh udah keliatan nih mau ngamuk.

Bener aja. Dia ngamuk. Alasannya saya kirim stok gak beres. Stok saya banyak, tapi kok kayunya tinggal dikit? BA udah jelasin tapi enggak didengerin. Saya intip, itu stok kayaknya bukan pengiriman terakhir. Something wrong nih.

JAdi ceritanya, kemarin truk terakhir datang setelah istirahat. Kemudian lamaaaaaaaaaa… banget enggak datang. Anak-anak berasumsi kalau pengambilan kayu sudah berhenti, jadi mereka pulang. Saya, dan storeman saya akhirnya berembug. Dia ngecek lapangan, saya ngecek stok. Cocok. Pas. Saya kirim email ke BAS jam 15.43. Dan dua menit kemudian anak-anak pulang.

Ehhh.. jam 16.10, ujug-ujug si truk dateng. Mampus dah. anak-anak sudah pada pulang. Tinggal saya, Pak BA dan seorang lagi, Pak N. Tadinya kami enggak mau muat, tapi daripada nanti jadi masalah sama BAS, akhirnya terpaksa muat juga. SAya bagian nyari data, BA ngurusin surat jalan, dan Pak N ngangkut kayu pake forklift.

Gemes gak sih? Stok udah dikirim tau-tau ada muatan lagi. Mau enggak mau saya revisi, daripada kena omel. Saya kirim lagi jam 16.22. Setelah itu saya tinggal pulang.

Dan begitulah. Setelah dijelaskan dan dibuktikan dengan historikal email saya, BAS mingkem. enggak bisa ngomel dah.

Sesekali perlu dibegitukan kali ya? Biar enggak tuman nyari kambing hitam mulu. Lagian, saya bukan kambing hitam, kan saya putih.

ehehehehe,,,,

Senin, 02 Oktober 2017

LONDON [WINDRY RAMADHINA]


Buku ini aku dapat karena (lagi-lagi) penasaran. Waktu itu aku sedang membaca Walking After You (Windry Ramadhina) dan aku menemukan tokoh dengan nama Ayu dan Gilang. Kebetulan, seorang teman sedang membaca novel yang sama. Dan temannya temanku (halah) itu, mengupload cover buku ini. Katanya, di dalam buku ini kita bisa tahu kisah Gilang dan Ayu.

Buku ini bersetting LONDON, yang membuat aku merasa ingin kesana, mengunjungi BIG EYE. Bermula dari kenekatan Gilang menyusul sahabat sekaligus gadis yang dicintainya, Ning. Dia menghabiskan seminggu di sana. Menemui banyak kisah yang luar biasa. Bertemu dengan Goldilocks, panggilan untuk gadis yang selalu ditemuinya saat hujan. Gadis yang meninggalkan payung merahnya.
Kemudian bertemu dengan Ayu, gadis dari negeri yang sama. Yang sedang berburu buku-buku langka cetakan pertama.
Tapi kisah Gilang dan Ning tidak berakhir bahagia seperti yang diinginkannya. Tapi, diantara kesedihan itu, Gilang akhirnya bertemu dengan gadis yang –mungkin saja- menjadi takdirnya.

Setiap kali membaca bukunya Mbak Windry ini, aku selalu merasa takjub. Bagaimana cara penulis mendeskripsikan setting begitu detil. Lokasi penginapan, toko buku yang diseberangnya, galery tempat kerja Ning dan banyak lagi. Penjelasan detil mengenai dekorasi penginapan membuatku seolah bisa melihat rupa penginapan itu.
Mbak Windry selalu bisa menempatkan tokoh-tokoh dan peristiwa yang mereka alami dengan begitu manis. Tidak saling tumpang tindih. Tapi saling berkaitan. Bahasanya yang nyaman membuatku tidak buru-buru untuk menghabiskan novel ini dalam sekali lahap. Tokoh kesukaan? Tentu saja Gilang. Romantis. Sedikit nekat, tapi bukankah perjuangan untuk cintanya begitu manis?


Minggu, 01 Oktober 2017

PULANG [Tere Liye]


Judul Buku     : PULANG
Pengarang      : Tere Liye
Penerbit         : Republika Penerbit
Tebal              : 400 halaman
Terbit             : September 2015


Namanya Bujang. Awalnya dia hanya seorang pemuda biasa. Sampai akhirnya seorang Tauke Muda membawanya ke kota. Menjadikan dia seorang jagal spesial, tukang pukul, tangan kanan sang Tauke yang kini menjadi Tauke Besar.
Dia tidak menangani masalah sepele. Tugasnya lebih berat. Bahkan hingga ke tingkat internasional. Dia cerdas, cerdik, berbeda dengan jagal lain yang sama-sama bekerja pada Tauke Besar. Ayahnya pun seorang kepecayaan Tauke sebelumnya sebelum terluka. Dia belajar segala yang dibutuhkan. Menembak, kungfu, dan tentang loyalitas.
Hanya satu yang dia jaga selama hidupnya, pesan terakhir emaknya untuk tidak makan dan minum yang haram.
Hingga sebuah penghianatan mengoyak semuanya. Membunuh Tauke besar yang selama ini menyayanginya. Membunuh orang-orang yang selama ini percaya kepadanya. Meski menyisakan sedikit yang masih setia pada Tauke Besar.
Penghianatan yang dilakukan oleh teman sesama jagal selama tinggal di rumah Tauke.
Lalu bagaimana akhirnya Bujang merebut kembali semua yang menjadi milik Tauke? Loyalitas memanggil mereka yang masih setia

***

Buku ini bukan tentang drama roman, kisah cinta dan yang manis-manis. Tapi setiap halamannya membuatku larut, seperti ikut dalam setiap alur cerita. Menarik. Dan tentu saja bikin penasaran. Tere Liye selalu mampu mengambil sisi menarik sebuah cerita. Kadang malah tidak terduga. Buku ini sedikit mengejutkan karena Tere Liye mampu membeberkan beberapa cerita, tentang latihan menembak, meninju, kungfu, dan inagurasi yang dilakukan para jagal.

Keren dah pokoknya.