Sabtu, 30 September 2017

TIADA KESAN TANPA PERTENGKARAN

Namanya kerja, punya satu atasan yang ajaib aja sudah bikin pusing. apalagi kalo punya dua. DUAAA?? Yess.

Satu atasan saya asli. Yang satu lagi jejadian, eh bukan ding, atasan gudang sebelah yang hobinya ngenggangguin saya tiap hari kerja. Adaaaaaa aja kelakuannya. kadang enggak ada masalahpun, sama dia bisa dijadikan masalah.

Seperti kasus yang satu ini.

Gudang tempat saya bekerja bukan 100% gudang penyimpanan seperti gudang sebelah. Gudang saya ini lebih tepat disebut produksi. Jadi, perusahaan beli batang pohon bunder gede (log), trus nanti sama kami di potong sesuai permintaan. Setelah dipotong, kayu-kayu ini diukur dan kemudian baru diinput ke komputer. bersamaan dengan saya menginput data, kayu-kayu ini diberi barcode. jadi kalo mau tahu kubikasi kayunya berapa, tinggal scan ajah. Gaya yak?

Naah… barcode ini, saya minta ke gudang sebelah. Gudang penyimpanan kayu. di sana adminnya punya akses untuk print barcode seluruh perusahaan. Saya sebenernya ogah kesana. Ogah ketemu atasannya. tapi karena butuh yaaa… apa boleh buat. Masalahnya dimana? enggak ada. Asal mesin lancar. Antrian print barcode ga banyak yaa… fine-fine aja. Tapi kalau pas saya kesana antrian banyak ya bisa sampe setengah hari saya di sana. Dan ternyataaa… itu dianggap sebagai ‘tidak ada kerjaan’ oleh AGS alias Atasan Gudang Sebelah. Jadi, ngeprint dan gulung barcode itu dianggap tidak ada pekerjaan? BAiklah… Jangan dikerjain kalo gitu.

Itu satu yaa…

Dua, kemarin, kasus uang borongan.

Unit tempat saya kerja, pakai jasa borongan untuk menata kayu-kayu hasil produksi supaya rapi dan cantik dan sesuai standar (embuh standarnya siapa). Nah, mereka ini disebut pekerja borongan yang tiap Jum’at dapet upah sesuai hasil kerja mereka.

Kemarin ada satu kegiatan di tempat saya. Menurunkan kayu dari truk. Itu dapet uang juga meski enggak seberapa. MAsalahnya, itu kayu yang pesen AGS. Tapi bongkarnya di tempat saya. Tagihannya siapa yang bikin?

Bapak Atasan (BA) : Sana dong. Kan itu kayu mereka.

Saya ke gudang sebelah.

AGS : Ya kalian dong yang bikin. Kan bongkar muatannya di tempat kalian.


Hiiiihhhh….
Saya balik ke atasan saya.

BA : Enak aja. Dulu perjanjiannya, yang order kayu ya yang bikin tagihan. bla...bla...bla...blaa…

Tauk deh. Pusing. Mending lanjutin kerjaan aja yang masih numpuk.

Hari ini, pas admin gudang sebelah visit, eeh… BA tiba-tiba aja nyeplos.

BA : Besok printer saya bawa ke sini ya?
Saya melongo. Seneng sih. Tapi masalahnya itu printer milik umat seperusahaan, Pak. Kalo mereka butuh print barcode gimana?

BA : Yaa.. biar mereka kesini.

Saya : Serius? Kita enggak punya line telepon loh. Nanti kalau mereka butuh gimana? Biar di sana aja lah.

BA : (oke… kelihatan mulai mikir).

Nah kan?

Ceritanya masih ngambek tuh gara-gara duit borongan dan perjanjian yang enggak jelas kebenarannya (versi BA saya dong tentunya).

UDah deh paak. Jangan bawa masalah kemari. Kagak apa deh saya kesana. Dibilang nganggur dan banyak alasan. Daripada makin banyak penjajah datang ke gudang kita.

Jumat, 29 September 2017

Hotaru No Haka / Grave of Fireflies (Review)

sumber gambar: imdb.com

Judul   : Hotaru no Haka / Grave Of The Fireflies
Negara: Jepang
Durasi : 1 jam 28 menit
Rating : SU/BO

Belakangan saya lagi seneng banget ngumpulin film-film garapan Studio Ghibli. Yaah... setelah menghabiskan sekian GB paketan data, akhirnya nemu juga beberapa film yang bagus dan berkesan. Seperti yang satu ini. Film lama tapi enggak nyesel deh sudah nonton.
Judulnya Hotaru No Haka. Artinya, makam kunang-kunang. Film ini mengambil setting Jepang jaman peperangan. Dimana-mana ada bom yang dijatuhkan, menghanguskan apa saja. Dan tidak peduli siapa korbannya.
Dalam film ini, tokoh utamanya adalah sepasang kakak-adik, Seita dan Seitzuku. Seita ini kira-kira usianya remaja SMA. Sedangkan Seitzuku adiknya, masih kecil. Sebaya anak SD lah. Masih polos.
Nah, ceritanya ini berawal ketika mereka harus mengungsi karena penjajah sudah meluncurkan bom hingga ke lingkungan mereka. Mereka harus mengungsi. Seperti kebanyakan penduduk pada jaman itu, mereka menyimpan beberapa barang berharga di lubang dalam tanah. Baru kemudian mereka mengungsi. Ibu mereka berangkat terlebih dahulu. Seita dan adiknya menyusul kemudian.
Perjalanan ke pengungsian tidak semudah yang dibayangkan. Bom berjatuhan dari pesawat yang melintas. Seita tidak segera pergi ke pengungsian. Dia mencari perlindungan terlebih dahulu. Tapi dia dan ibunya sudah berjanji untuk bertemu kembali di dekat pohon cemara kembar.
Ketika sampai di pengungsian, Seita mendapat kabar dari seorang wanita paruh baya tentang kondisi ibunya. Wanita itu meminta Seita menemui ibunya sementara dia menjaga adiknya. Petugas kesehatan yang mengenalnya membawanya menemui ibunya. Petugas itu mengenali ibu Seita dari cincin yang dikenakannya. Lukanya parah. Seluruh tubuh di perban. Ditambah lagi ibunya menderita penyakit jantung. Ibunya harus dibawa ke rumah sakit.
Seita menitipkan adiknya kerumah kerabat lain. Dia sendiri mengurus ibunya yang akhirnya meninggal di pengungsian. Ibunya meninggal, tapi Seita tidak berani memberitahukan hal itu pada Bibi dan adiknya. Dia menyembunyikannya.
Pada akhirnya bibinya tahu kenyataan bahwa ibu Seita sudah meninggal ketika Seita kembali dari rumah lamanya membawa barang-barang yang ia kuburkan sebelum mengungsi. Bibinya ini, menurutku, tidak baik dan tidak tulus.
Satu per satu barang peninggalan ibu Seita dijual, ditukar dengan beras.
Aslinya, Seita ini berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya anggota angkatan laut, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Namun perang membuat keduanya menjadi yatim piatu.
Paling suka ketika Seita mengajak adiknya main di pantai, ketawa lepas, mengenang ibu mereka. Namun semua kenangan itu buyar karena bunyi sirine tanda bahaya. Kalau sirine berbunyi, berarti mereka harus segera mengungsi.
Setelah berkali-kali tidak cocok dengan Bibinya, Seita dan adiknya memutuskan pindah ke sebuah Gua yang tidak sengaja mereka temukan. Gua di dekat danau.  Makan seadanya, kadang harus minta pada warga. Hingga Seita terpaksa mencuri. Kalau malam gelap gulita. Namanya juga gua, tidak ada penerangannya. Satu-satunya yang sedikit menerangi gua mereka adalah kunang-kunang. Seita mengajak adiknya menangkap kunang-kunang.
Hidup sederhana di Gua, tanpa ada orang tua, makan seadanya dan cuaca yang tidak menentu membuat Seitzuku akhirnya sakit. Diare berkepanjangan. Sakit inilah yang menyebabkan Seitzuku meninggal dunia.
Seita menyimpan abu Seitzuku dalam kaleng permen, dan dia tidak pernah kembali ke gua itu.

Sedih. Mengharukan. Tapi berkesan. 

Kamis, 28 September 2017

TONARI NO TOTORO / My Neighbor Totoro (REVIEW)




Judul               : Tonari No Totoro (My Neighbor Totoro)
Negara            : Jepang
Durasi             : 1 jam 26 menit
Rating                         : SU/BO
Produksi         : Studio Ghibli

Film ini berkisah tentang satu keluarga yang pindah ke pedesaan. Seorang Ayah yang bekerja di universitas dan dua orang anak perempuannya. Mei, si anak bungsu yang ceria, selalu tertawa dan suka sekali bertulang. Rasa penasarannya lebih tinggi daripada rasa takutnya. Satsuki, si Sulung, penurut dan sayang sekali pada adiknya. Dia juga berani.
Mereka pindah ke rumah lama yang sudah cukup tua. Rumah yang keropos di beberapa bagian tapi masih cukup kuat untuk ditinggali. Rumah bergaya khas Jepang.
“Kelihatan seperti rumah berhantu,” kata Satsuki.
Sekelilingnya tanah luas. Tak jauh dari rumah tersebut ada sebatang pohon yang sangat besar. Pohon yang misterius. Pohon Champor.
Ada sebuah jembatan yang menghubungkan rumah tersebut dengan jalan desa. Di bawah jembatan ada air jernih yang mengalir lengkap dengan ikannya. Kemudian ada terowongan yang terbuat dari pepohonan. Intinya, pemandangan rumah tersebut memang luar biasa indah.
Tapi, rumah itu ternyata ada penghuninya, loh. Makhluk hitam, kecil dan berbulu. Banyak. Gerakannya cepat. Banyak biji pohon ek yang berjatuhan dari atap ketika mereka tiba. Ayah mengira itu perbuatan tupai.
Ketika ayahnya meminta Satsuki untuk membuka pintu dapur, makhluk-makhluk hitam itu berlarian. Lucunya, Satsuki dan Mei menjerit bersamaan. Tapi setelah itu tidak terjadi apa-apa. Dapur ini cukup luas. Kamar mandinya pun demikian. Seperti halnya rumah-rumah kuno, pemandian di rumah itu juga sama. Pemanas airnya berasal dari tungku kayu bakar.
Ayah bilang, makhluk yang mereka lihat itu hanya ilusi mata yang terjadi ketika melihat kegelapan setelah berada di tempat terang.
Ayah meminta mereka mengeksplorasi rumah untuk mencari tangga menuju loteng. Mei dan Satsuki pun mulai menjelajah rumah mereka untuk menemukan tangga yang dimaksud.
Ketemu?
Iya, Satsuki menemukannya. Tangga itu tersembunyi. Mereka menaikinya karena penasaran kenapa ada biji pohon ek berjatuhan dari atas. Mereka menjerit ketika mencapai puncak tangga. Hihi...
Satsuki bilang pada ayahnya kalau rumah mereka berhantu, tapi sang ayah malah senang karena sejak dulu ingin tinggal di rumah berhantu.
Mei yang berani akhirnya memegang makhluk hitam itu dan segera berlari menuruni tangga. Ia bertemu dengan seorang nenek. Nenek itu adalah tetangga sekaligus penjaga rumah mereka.
Nenek bilang makhluk itu adalah Susu-atari atau peri jelaga. Berwarna hitam, berbulu dan bisa terbang.
“Mereka hidup di rumah tua yang kosong. Mereka menutupi rumah dengan jelaga dan debu. Dulu nenek bisa melihat mereka ketika seumuran kalian.” Kata nenek.
Nenek juga bilang bahwa mereka bukan makhluk yang menakutkan. Mereka akan secepatnya pinda ketika kita selalu tersenyum. Dan mungkin kini mereka sedang berembuk hendak pindah kemana sekarang.
Nenek meminta Satsuki dan Mei mengambil air ke sungai yang tak jauh dari rumah, di bawah jembatan. Mereka juga belajar memompa air.  Bersama Nenek, mereka mulai membersihkan rumah.
Datanglah Kanta, cucu Sang Nenek. Dia membawa makanan dalam sebuah keranjang kayu. Kanta ini awalnya terlihat sangat pemalu dan sedikit usil. Dia bilang rumah Satsuki berhantu. Tapi dia sangat takut pada neneknya.
Malam harinya, Ayah mulai memasak, satsuki menjaga agar tungku tetap menyala. Saat Satsuki mengambil kayu bakar di luar rumah, angin berhembus sangat kencang, menerbangkan kayu-kayu yang dipegang Satsuki.
Angin juga menggoyang rumah mereka saat ketiganya tengah mandi. Beberapa barang berjatuhan. Tapi tak lama setelahnya hening, angin pun berhenti. Ayah tertawa keras sekali.
“Ayo, kita tertawa bersama agar tidak takut.” Kata ayah.
“Aku tidak takut,” kata Mei.
Mereka tertawa dan bermain bersama.
Keesokan harinya mereka mencuci baju bersama. Mei dan Satsuki menginjak-injak baju sementara ayah mencuci dengan papan di dekat mereka. Setelah menjemur pakaian, mereka pun pergi mengendarai sepeda. Mereka hendak menjenguk Sang Ibu di rumah sakit.
Tidak diceritakan Ibu mereka sakit apa, tiba-tiba sudah di rawat inap di rumah sakit.
Ibunya ini dirawat di bangsal bersama beberapa orang lain. Segera setelah mereka tiba, Mei dan Satsuki menceritakan tentang rumah mereka yang katanya berhantu. Ibu memuji Satsuki yang pandai menguncir rambut adiknya. Sebagai gantinya, ibu menyisir rambut Satsuki.
Hari pun berlalu lagi.
Satsuki harus pergi sekolah. Sementara mei tinggal di rumah bersama ayahnya. Mei bermain, ayahnya bekerja. Saat bermain, Mei menemukan hal-hal menarik di sekelilingnya. Ada kecebong yang dia obok-obok pakai tangan. Ada ember bolong. Dan akhirnya dia menemukan lagi biji pohon ek. Mei mengikuti jejak biji pohon ek tersebut hingga bertemu dengan makhluk ajaib lain. Berwarna putih transparan dan kadang bisa menghilang. Makhluk itu merasa sedang diikuti, jadi sesekali dia menghilang untuk mengecoh Mei. Tapi Mei malah semakin bersemangat untuk mengikutinya.
Makhluk itu masuk ke kolong rumah. Saat Mei sibuk melihat kolong rumah, makhluk itu keluar melalui lubang lain. Dua makhluk, satu berwarna biru. Mei mengetahui keberadaan mereka karena mereka menjatuhkan biji pohon ek. Mereka lari, Mei mengejar hingga jauh, melewati terowongan kecil, menuju pohon yang sangat besar.
Ada sebuah lubang di pohon tersebut. Lubang ajaib yang membawa Mei bertemu dengan makhluk asing lain yang lebih besar lagi. Sangaaaaat besar. Berbulu lembut. Berkumis. Seperti kucing. Di dadanya ada jejang abu-abu berbentuk segitiga. Telinganya seperti telinga kelinci. Makhluk ini sedang tidur ketika Mei menaiki tubuhnya.
Mei yang usil menggaruk hidung makhluk besar itu hingga bersin dan Mei terlempar. Tapi Mei kembali lagi menaiki makhluk itu bahkan duduk di dadanya.
Who are you?” tanya Mei.
Makhluk itu meraung. Mei ikut meraung lucu. Ternyata, makhluk itu bernama Totoro. Gelitikan Mei di hidung Totoro membuat makhluk besar itu tidur lagi. Mei yang mengantuk juga ikut tertidur.
Beralih ke Satsuki dan Ayah. Mereka panik mengetahui Mei tidak ada di rumah. Ayah mengira Mei sedang bermain di kebun, tapi ternyata tidak ada. Satsuki menemukan topi mei di dekat terowongan kecil. Dan dia menemukan Mei di ujung terowongan sedang tertidur.
Mei bangun, mencari totoro. Satsuke menyangka Mei bermimpi. Tapi Mei menceritakan pengalamannya. Itu bukan mimpi. Mei memimpin ayah dan Satsuki melewati jalan menuju Gua Totoro, tapi ternyata sudah tidak ada. Mei berulang kali mencari tapi jalan masuknya tetap tidak ketemu, dia balik lagi ke kebun rumah mereka.
“Mei, kau pasti sudah bertemu dengan penjaga hutan ini.” Ayah membesarkan hati Mei.
Karena Satsuki harus sekolah, dan ayahnya harus bekerja, maka Mei dititipkan pada nenek tetangga. Tapi ternyata Mei malah menyusul Satsuki ke sekolah. Untung saja gurunya tidak marah dan mengijinkan Mei ikut belajar di kelas.
Pulang sekolah, langit mendung. Meski sudah berusaha untuk cepat, Satsuki dan Mei tetap kehujanan. Mereka akhirnya berteduh di sebuah rumah kecil yang ternyata adalah kuil. Kanta datang. Dengan kaku dia meminjamkan payungnya pada Satsuki dan Mei. Payung hitam yang sudah berlubang dimana-mana. Hihi...
Karena hujan berlum juga reda, Satsuki berencana untuk menjemput Ayahnya. Mei ingin ikut. Tapi ayah benar-benar terlambat. Satsuki dan Mei memperhatikan setiap bus yang berhenti, tapi tidak ada ayah.
Hingga malam tiba. Mereka hanya berdua di pemberhentian bus. Saat sedang menunggu ayah, Mei mengantuk, tapi dia tetap tidak mau diajak menunggu di rumah Nenek. Terpaksa Satsuki menggendongnya. Disinilah Satsuki bertemu dengan Totoro yang selalu diceritakan adiknya.
Karena Satsuki meminjamkan payung pada Totoro, sebagai rasa terima kasih, Totoro memberi bungkusan berisi benih. Disini adegannya lumayan lucu. Terutama tingkah Totoro.
Selain Totoro, ada pula makhluk aneh yang ditemui Satsuki dan Mei. Bis berbentuk kucing, eh, atau kucing berbentuk bis ya? Pokoknya tubuh makhluk ini bisa dinaiki, mirip bis lengkap dengan jendela dan kursinya. Tapi dia punya kepala dan kaki. Larinya juga cepat sekali. Matanya menjadi lampu penerang seperti pada bis.
Nenek mengajari mereka memetik buah dan sayur. Mereka juga diajari cara mendinginkan buah dengan cara direndam dalam air sungai.
Kemudian kita menuju klimaks cerita ini.
Satsuki dan Mei mendengar kabar bahwa ibu mereka diijinkan pulang sebentar pada hari sabtu. Dan kemudian kembali ke rumah sakit pada hari Sabtu. Tapi kemudian sebuah telegram tiba, Kanta yang menerima karena tidak ada orang di rumah Satsuki.
Telegram yang sepertinya penting. Nenek meminta Kanta mengantar Satsuki ke rumah besar yang punya telepon di desa itu agar Satsuki bisa menghubungi ayahnya. Dan Mei tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibunya tidak jadi pulang Sabtu ini. Dia merajuk.
Mei mendengar percakapan kakaknya dengan nenek tentang ibu mereka. Dia memutuskan untuk bertemu dengan ibunya. Sendirian. Dan tersesat.
Satsuki dan Nenek menyadari bahwa Mei tidak ada di rumah dan sekitarnya. Maka pencarian pun dimulai. Nenek meminta Kanta yang baru datang untuk memberitahu Ayah Kanta kalau Mei hilang. Penduduk desa pun akhirnya ikut membantu mencari Mei. Satsuki bertanya pada orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan, tentang anak kecil yang mungkin lewat. Tapi tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Hari mulai gelap.
Kemudian Kanta datang dengan sepedanya. Kanta menawarkan diri untuk pergi ke rumah sakit. Dan juga memberitahu bahwa penduduk desa menemukan sebelah sandal berwarna pink seukuran kaki Mei di kolam.
Satsuki panik. Membayangkan itu sandal adiknya. Nenek berdoa sepenuh hati semoga itu bukan milik Mei. Tapi setelah di periksa, itu bukan milik Mei. Semua orang pun lega.
Lalu kemana Mei? Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana Satsuki menemukannya? Dimana dia?
Film garapan Studio Ghibli ini selalu menarik untuk ditonton berkali-kali. Meski saya mendownload filmnya yang berbahasa Inggris, bukan bahasa Jepang. Tapi pesan moralnya tetap sampai. Setidaknya enggak menyesal sudah menggunakan kuota untuk download film ini. hehehe...
Meski sangat disayangkan tidak diceritakan kenapa ibu mereka masuk rumah sakit hingga perlu dirawat lama. Apa penyakitnya? Tidak ada. Film ini menceritakan tentang Satsuki dan Mei serta keseharian mereka meski berbau fantasi karena adanya makhluk ajaib seperti Totoro dan teman-temannya.

Jaman sekarang susah sekali cari film yang tidak ada bumbu adegan dewasanya. Maka sebagai ibu, saya harus menjadi filter. Saya tonton dulu setiap film setelah selesai di download sebelum saya suguhkan pada anak-anak saya dan juga teman-temannya. Dan film ini aman untuk anak-anak. 

Rabu, 27 September 2017

Getir (Majalah Sekar, Edisi 90, 1208-0509 2012)


“Pagi ini dingin sekali, Bang. Apa kau merasakannya juga?” Aku berbisik padamu. Lirih dan jelas, namun kau diam saja. Sama sekali tak menyahut. Bekedip pun tidak.
Kubelai wajahmu perlahan. Kau tampan sekali, Bang. Aku suka memandang wajahmu. Terlebih ketika kau sedang serius membaca buku. Rahang yang terpahat tegas, hidung yang lancip dan kaca mata yang kau kenakan membuatmu tampak sangat menawan.
Tentu saja! Jauh sebelum menikah denganku, kau adalah idaman para wanita. Dan aku pun merasa beruntung ketika 'Sang Idola Wanita' meminangku untuk menjadi pendamping hidupnya. Kau tahu berapa banyak wanita yang kecewa saat itu? Banyak, Bang. Bahkan beberapa diantaranya memandangku sebal seolah aku yang merebutmu dari tangan mereka.
Bersyukur sekali aku bisa mendapatkan suami sebaik dirimu, Bang. Kau suami yang sangat istimewa. Kebaikanmu, kesabaranmu, dan perhatianmu membuat aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Apakah kau juga merasa begitu, Bang? Jawablah!

***
“Bang, semalam aku bermimpi.” Ucapku padamu ketika sarapan pagi ini. Kulihat kau dengan lahap menghabiskan nasi goreng buatanku. Aku tersenyum. Kau memang sangat suka nasi goreng.
“Mimpi apa? Dikejar hantu ya?” Candamu.
Aku merengut. “Bukan, Bang. Aku mimpi kehilangan sebelah sandal. Sudah dua kali aku bermimpi itu, Bang.”
Kau terbahak. “Kalau yang sebelah hilang, ya dibuang saja. Nanti Abang belikan sandal yang baru berapa pun yang Neng mau.” Kau masih saja bercanda.
Mungkin buatmu mimpi itu lucu. Tapi tidak denganku, Bang. Orang bilang, kalau seorang wanita bermimpi kehilangan satu dari sepasang sandal, artinya suaminya tak lagi setia. Aku tak berani bilang tentang arti mimpi itu padamu. Aku takut mimpi itu akan berbalik menjadi kecurigaan buatku. Kau terlalu baik untuk dicurigai, Bang.
“Abang pergi dulu ya?” Pamitmu.
“Mau kemana?” tanyaku sembari mengantarmu hingga ke depan pintu.
“Biasalah, ada urusan bisnis.” Jawabmu. Kucium tanganmu.
Ini kesekian kalinya kau pergi di hari Minggu. Sebelumnya kau selalu menghabiskan hari minggu bersama aku dan anakmu, Ryan. Kau bilang sedang ada bisnis dengan kawanmu tanpa menyebutkan bisnis apa yang kalian geluti. Sebagai istri aku tak ingin terlalu mencampuri urusan bisnis suami, namun sebagai wanita, aku pun punya rasa khawatir. Terlebih mendengar omongan tetangga tentangmu.
Kita memang harmonis ya, Bang? Banyak orang yang iri dengan keakraban dan kerukunan kita. Kita memang hampir tak pernah bertengkar. Kau selalu punya cara menyelesaikan masalah dengan baik hingga tak timbul pertengkaran. Kau lebih banyak mengalah dalam hal tertentu. Tapi tak jarang kau pun bertindak tegas. Tegas, bukan kasar.
Kemudian suatu hari,
“Nit, kau sudah dengar?” tanya Mila, sahabatku, saat berkunjung kerumah. Dia tinggal di komplek sebelah.
“Apa?”
“Kemarin ada yang melihat Abangmu di ujung jalan sana bersama seorang wanita.” Ujar Mila sambil menunjuk sebuah arah.
Aku terkejut dengan cerita Mila. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar kabar serupa. Tapi aku tak mau percaya begitu saja. “Mungkin dia hanya teman kantornya, Mil. Abang kan begitu orangnya. Baik sama siapa saja.” Sanggahku.
“Tapi mereka berboncengan mesra, Nit. Apa teman ada yang seperti itu? Ada lagi. Beberapa hari yang lalu kudapati Abangmu membeli sebuah jam tangan di Mall. Untukmu kah?” tanya Mila lagi.
Jam tangan? Aku tak pernah mendapat jam tangan darimu, Bang. Kau pun tahu kalau aku tidak suka menggunakan jam tangan. Harus kujawab apa pada Mila, Bang?
“Oh, iya. Jam yang bagus. Abang memang beli untukku.” Terpaksa aku berbohong. Maafkan aku, Mil.
Kabar tentang kedekatanmu dengan seorang wanita semakin hari semakin santer saja. Aku sudah mencoba menutup telinga, Bang. Tapi itu hanya bertahan sebentar. Kini kemanapun aku pergi, mereka memandangku sambil berbisik-bisik.
Aku risih. Sebenarnya apa yang terjadi diluar sana, Bang? Kau pun tak tampak berbeda. Masih sama seperti Abang yang kukenal sebelumnya.
Kenapa tak kucari tahu saja? Pikirku suatu hari. Perlahan kukumpulkan bukti dan kebenaran omongan tetangga. Dalam dompetmu, kau simpan banyak struck belanja dari sebuah butik. Kau membeli gaun dan tas dengan harga yang sama dengan uang belanja selama sebulan.
Butik? Selama ini tak pernah kita kesana. Berpikir untuk kesana pun tidak. Aku tahu keadaan keuangan kita. Baju-baju yang kita beli selama ini tergolong murahan. Asal nyaman dan menutup aurat, kita tak pernah peduli dimana kita beli. Biasanya kau mengajakku ke pasar. Ke mall pun jarang, apalagi butik. Kemudian ada lagi nota pembelian jam tangan merk terkenal. Semua ada tanda buktinya. Lalu barangnya kemana?
Ketika kutunjukkan semua bukti itu, kau bilang hanya titipan seorang teman untuk istrinya. Masih ada curiga yang tersisa, namun aku mencoba untuk percaya saat itu. Bodoh bukan aku, Bang? Pasti dalam hati kau tertawa puas karena kebodohanku.

***
“Pagi ini dingin sekali, Bang.” Bisikku sambil terus membelai wajahmu. Wajah yang biasanya penuh senyum kini membeku. Ada bening hangat jatuh dari mataku membasahi pipimu. Kusapu dengan ujung jemariku.
Pagi ini memang dingin sekali, Bang. Yah, ketika mentari bersinar, hangat hatiku menjadi dingin menuju titik beku. Pemandangan di depan sana tak mau lepas dari pandangan mataku.
Aku berjalan menuju apotek yang tak jauh dari rumah kita pagi ini. Ryan demam sejak semalam. Persediaan obat demam di rumah sudah habis. Kutitipkan Ryan yang sedang tidur pada Kak Ayu, kakakmu, sebelum aku pergi.
Tas keresek berisi obat terjatuh dari genggamanku. Aku terpaku. Disana, diseberang apotek aku melihatmu, Bang. Kau bercanda mesra dengan seorang wanita. Aku mengenalinya. Dia salah satu mantanmu ketika kuliah. Airmataku mengaburkan pandangan. Tapi masih bisa kulihat ketika kau mengecup keningnya, kemudian kalian berlalu berboncengan.
Langkahku gontai. Aku kembali kerumah dengan hati hancur. Abang yang kusayang tak lagi menjadi milikku seorang. Abang yang setia menguap entah kemana. Aku menatap Ryan. Kemudian menangis sejadinya. Apa yang terjadi dengan kemesraan kita, Bang? Apa yang kurang dari diri ini hingga kau menghadirkan perempuan lain dalam kehidupan kita?
“Nita!” Kak Ayu menyerbu masuk. Aku segera menghapus sisa tangisku.
“Ya, Kak!” sahutku. Kubenahi jilbab dan baju yang kupakai sebelum menemuinya.
“Nita! Astaghfirullah hal ‘adzim...” Kak Ayu terengah-engah sembari memegang dadanya.
“Ada apa, Kak?” Tanyaku bingung.
“Abangmu, Nit. Dia kecelakaan di perempatan jalan di depan sana. Dia tertabrak Bis. Motornya hancur.” Jelas Kak Ayu.
“Astaghfirullah!! Bagaimana keadaannya, Kak?” tanyaku. Degup jantungku tak lagi beraturan.
“Entahlah. Kakak juga tak tahu. Tapi sudah ada ambulance yang membawanya kerumah sakit. Cepat susul Abangmu. Biar Kakak yang menunggu Ryan sambil memberi kabar keluarga yang lain.” Kak Ayu mendorongku.
Kuambil jaket dan dompet kemudian segera pergi menuju rumah sakit yang disebutkan Kak Ayu. Kutitipkan Ryan padanya. Lagi-lagi aku merepotkan kakakmu, Bang. Tapi ia tetap baik padaku.
Sejujurnya aku marah padamu, Bang. Marah atas penghiatanmu di belakangku. Siapa yang tak sakit hati ketika dibohongi oleh suami? Apalagi aku telah menyaksikan sendiri kebenaran kabar burung yang dihembuskan orang-orang. Tapi, Bang, tak pernah sekalipun aku ingin kau celaka. Aku tak berdoa demikian, Bang. Aku bahkan ingin kau segera kembali kepelukan kami, kembali menjadi Abang yang hanya punya satu rumah untuk singgah dan tinggal. Abang, jangan pergi dulu. Aku ingin dengar penjelasanmu. Akan kumaafkan kekhilafanmu.

***
“Nit!” panggilan Kak Ayu menyadarkan aku. Rupanya aku tenggelam dalam lamunan dihadapanmu, Bang. Tanpa sadar aku telah memelukmu begitu lama.
“Nita! Bangunlah. Sudah saatnya.” Ujar Kak Ayu sembari memeluk bahuku. Sejak awal menikah denganmu, aku merasakan Kak Ayu begitu sayang padamu. Dan tentu saja padaku. Andai ia tahu bahwa adik kesayangannya menghancurkan ikatan suci yang sudah bertahun kita bina, apa yang akan terjadi ya, Bang? Aku sungguh tak berani membayangkanya.
Aku melayangkan pandangan. Ibu-ibu sibuk mondar-mandir entah menyiapkan apa. Kudengar beberapa orang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Kususut airmata yang masih menggenang. Kuciumi kau untuk terakhir kalinya. Kumasukkan banyak-banyak cinta. Kalau saja bisa, aku ingin memelukmu hingga esok tiba.
“Pagi yang dingin, bukan? Sedingin hatiku ataukah hatimu, Bang? Hingga kau tega menghianati aku.” ucapku begitu saja. Seolah bukan aku yang bicara. Mana janji setiamu, Bang?
Kesetiaan itu akan selalu dipertanyakan meski aku tahu tak akan menemukan jawaban. Kenapa? Karena kau membawa pergi semua hal yang ingin kuketahui. Segalanya kau simpan sendiri hingga kini kau tak bisa lagi kembali ke dunia ini.
“Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi bapak tidak bisa diselamatkan.” Ucap Dokter yang merawatmu. Mendung menggelayuti wajahnya.
Dunia berputar dikepalaku. Tuhan, kuatkan aku.
“Bagaimana dengan perempuan itu, Dok?” tanyaku. Suaraku bergetar.
Dokter menggeleng perlahan. “Wanita itu sudah meninggal ketika tiba di rumah sakit ini, Bu.” Jawab Dokter.
Dadaku sesak, Bang. Bahkan ke alam baka pun kalian bersama. Aku cemburu, Bang. Hati ini penuh berbagai macam rasa. Marah, cemburu, tapi juga sedih atas kepergianmu. Aku merasa diri ini melayang, tak lagi berpijak dibumi. Abang, apa artinya penikahan yang kita pertahankan selama ini?

Perlahan hatiku menjadi getir seiring kepergianmu.

Selasa, 26 September 2017

Cemburuku Keliru (Majalah Sekar, Edisi 85, 13-27 Juni 2012)


Daun-daun mengering sempurna. Terombang ambing tak tentu arah. Lalu angin bertiup, menerbangkan helaiannya yang tergeletak pasrah di tanah. Daun-daun mengering sempurna. Seolah tak pernah terjamah hujan. Jatuh setelah berjuang berjuntaian di dahan, tak kenal menyerah. Kesiut angin menjadi irama sempurna pengiring kesendirian. Perlahan, seperti mendengar lonceng kematian, sayup kudengar nyanyian. Pilu, namun selalu kurindukan.
Aku tak lagi menahan diri. Biar, biar saja air mata ini habis. Meski aku tahu penyesalan selalu tak berguna, meski air mata tak bisa mengembalikan segalanya seperti semula. Aku harus bertekuk lutut di kaki sang waktu yang gagah menjadi saksi segalanya. Yang terus berputar meski beban berat menggelayut di kakinya.
“Ibu pilih kasih!” teriakku. Usiaku dua belas tahun ketika itu.
Ibu, wanita dengan danau kesabaran terluas itu memandangku sendu. “Tidak, Nak. Ibu memperlakukan kalian semua sama adilnya.” Ucap beliau.
Berhari-hari aku merajuk, mogok makan dan bicara. Membanting apa saja yang bisa kujangkau dengan tangan. Bosan menghancurkan rumah, aku pergi bermain dan pulang larut malam. Seperti itu terus. Tapi ibu tetap tak bergeming. Jangankan menuruti kemauanku akan sebuah sepeda, menegurku pun tidak. Membuat kejengkelanku memuncak.
“Pake aja sepeda kakak, Dek.” Kak Tino masuk ke kamar setelah seminggu aksi ‘demo’ku berjalan.
Aku mendengus sebal pada pemilik suara itu. Justru aku enggan berbagi dengan dia. Apa dia tak tahu bahwa sumber dari rasa jengkelku adalah karena iri pada apa yang dia miliki? Semua yang dia minta selalu dipenuhi. Sedangkan aku? Hanya janji-janji saja yang aku dapat.
Dan kini semua itu berkelebat, menyesakkan. Aku terhimpit oleh penyesalan mendalam. Aku menangis sendirian di taman kota jauh dari rumah.
Angin masih saja berhembus ringan. Menerpa lembut rambutku dan memainkan ujung-ujungnya. Menerbangkan helaian daun-daun kering itu. Serta meniupkan alunan irama yang menentramkan. Suara yang khas.
Segalanya seperti baru saja terjadi. Ibu. Kak Tino. Rasa iri juga cemburu. Pilih kasih.
Dari situlah semua bermula. Api cemburu yang telah membakar semuanya. Hingga tersisa abu yang kan lenyap disapu angin.
Kak Tino kini tiada.
Ibu sangat kehilangan dirinya. Sosok kakak yang selalu kubenci kehadirannya. Ya. Sosok yang selalu membuatku terbakar amarah. Amarah karena berbagi. Berbagi atas apa yang tak bisa kumiliki sendiri.
Penyesalan. Hanya itu yang tersisa. Hanya ada air mata yang berlinang. Meski takkan pernah kembalikan semuanya seperti sedia kala.
Kini aku tahu. Pilih kasih itu tidak ada. Tidak pernah ada! Tidak seperti yang kupikirkan selama ini. Justru orang yang kubenci itu yang membuatku sadar. Sadar akan apa arti cinta dan sayang yang sejatinya.
Lagi-lagi. Di kursi taman ini aku menangis..
Memutar waktu, andai aku bisa...
“Kau tahu, Kak. Aku sungguh cemburu padamu. Pada segala yang kau miliki dan dengan mudah bisa kau peroleh. Termasuk kasih sayang Ayah dan Ibu.” Bisikku lirih. Tak ada yang menyahuti bisikanku. Pohon flamboyan di dekatku pun tidak. Hanya terdengar gemerisik dedaunan tertiup semilir angin.
Ya, aku cemburu. Bahkan sebelum aku mengenal apa itu cinta, aku sudah merasakan cemburu yang menyiksa. Dan ironisnya, rasa itu kubawa hingga aku beranjak dewasa. Aku cemburu pada kakakku sendiri. Aku menilai ayah dan ibu tidak adil berdasarkan pandanganku sendiri. Apa namanya? Subjektif? Entahlah. Yang pasti aku kini menyesali yang sudah terjadi.
Ibu, perempuan paruh baya itu masih sama baik dan lembutnya. Tapi rona kehidupan perlahan meredup. Semakin hari semakin kelam saja. Ada pedih ketika menatapnya. Kalau boleh memilih, lebih baik aku terbakar cemburu pada Kak Tino dibandingkan harus melihat kepedihan di wajah Ibu. Seandainya...
Aku mendesah. Entah untuk keberapa kali. Perlahan tapi pasti, bak film yang diputar dengan alur mundur, kejadian belakangan ini kembali hadir dalam benakku. Pertistiwa yang membuat aku harus kembali ke kota ini.
Usiaku 17 tahun ketika memutuskan untuk menerima beasiswa yang ditawarkan ITB. Meski konsekuensinya aku harus pindah ke Bandung, meninggalkan rumah yang sudah tak nyaman bagiku. Terlebih karena dua tahun sebelumnya, Kak Tino akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Unair.
Ayah dan Ibu menghadiahinya mobil, sesuatu yang selama ini kuimpikan. Mobil baru yang aku tahu sekali sangat Kak Tino inginkan. Sedangkan aku? Jangankan hadiah, penerimaan Ibu dan Ayah biasa saja. Seolah beasiswa ke ITB bisa didapatkan siapa saja.
Kemudian…
“Pulanglah, Nak.” Bisik ibu di telepon suatu hari. Suaranya begitu lirih dan sepertinya menyimpan banyak beban.
“Tidak bisa, Bu. Minggu ini Julie banyak tugas.” Aku berbohong hanya agar tidak dipaksa untuk pulang.
Sudah enam semester aku kuliah di Bandung, jauh dari orang tua. Dan terutama jauh dari Kak Tino. Belum pernah sekali pun aku pulang sekedar melepas kangen atau menghabiskan liburan semester. Itu artinya sudah tiga tahun aku memisahkan diri. Bandung – Surabaya memang bisa ditempuh dalam beberapa jam menggunakan jalur udara. Namun aku memilih diam di kos. Menikmati masa-masa kuliah dan masa-masa bebas menjadi diri sendiri.
“Tapi ibu kangen, Nduk.” Bisik Ibu.
Aku menelan ludah. Sisi iblis dalam hatiku berkilah. Bukankah biasanya ibu selalu mengacuhkan aku kalau ada Kak Tino? Buat apa aku pulang?
“Usahakan pulang sehari atau dua hari saja, Nduk. Ibu kangen sekali. Lagipula... Kakakmu Tino sakit.” Lanjut Ibu.
Sakit? Kak Tino adalah olahragawan sejati. Tak pernah melewatkan hari-hari tanpa olah raga. Mulai dari jogging, basket, sepak bola, aikido, jiujitsu hingga yoga ia lakoni rutin. Rasanya tak mungkin kalau orang setangguh Kak Tino kini terbaring sakit.
“Kak Tino sakit apa, Bu?” tanyaku.
“Demam, Nak. Sudah berhari-hari. Dia terus menanyakan kamu.”
Aku yakin aku mendengar isakan ibu meski perlahan. Tapi nada suara ibu tetap sama.
“Julie usahakan pulang kalau ada waktu luang ya, Bu?”
“Terima kasih, Nak. Hati-hati ya? Jaga diri baik-baik.
Nyatanya waktu luang yang aku janjikan hanya sekedar angin lalu bagiku. Aku tak benar-benar menjadwalkan untuk pulang. Aku terlalu sibuk dengan duniaku hingga tak menyadari apa yang telah terjadi berkilo-kilo meter jauhnya di sana. Sesuatu telah terjadi, yang hingga kini harus aku sesali.
Pagi yang dingin dibulan Maret menyapa ketika akhirnya pesawat yang membawaku dari Bandung mendarat di bandara Juanda. Sejak semalam perasaanku tak enak. Pikiranku terus tertuju pada satu nama, Kak Tino.
Sepanjang perjalanan aku terus gelisah. Teringat bagaimana aku dulu selalu membentaknya. Selalu membantahnya dan selalu menimbulkan pertengkaran di rumah kami hingga dia harus mengalah. Sepanjang perjalanan pula aku menyadari betapa baiknya kakakku itu. Kak Tino yang selalu membelaku ketika ada anak nakal yang jahil menarik-narik kepang rambutku sepulang sekolah. Kak Tino yang selalu bersedia mengantarku ke sekolah tanpa mengeluh meski ia harus memutar karena jarak sekolahku yang jauh.
Ingatanku terus berjalan mundur hingga mencapai suatu masa. Usiaku sepuluh tahun ketika dokter memvonis gagal ginjal. Kedua ginjalku tak mau berfungsi secara normal. Dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan aku adalah dengan operasi transplantasi ginjal sesegera mungkin. Aku ingat, tiga bulan penuh aku terbaring di rumah sakit pasca operasi. Dan selama itu, Kak Tino sama sekali tak pernah menemuiku.
“Selamat dataang...” ucap Kak Tino riang saat aku tiba di rumah.
Aku mendengus sebal. Kakak macam apa yang tega membiarkan adiknya sendirian di rumah sakit? Jangankan menemani, menjenguk pun tidak. Itulah awal kebencianku padanya.
Perlahan, banyak hal tentangnya yang kian tak bisa kuterima. Tentang sikap ayah yang meluluskan permintaannya akan sebuah sepeda. Lalu notebook yang hampir tiap malam aku rindukan. Belum lagi hal-hal lain yang bisa dengan mudah ia dapatkan. Tanpa merajuk tentunya.
Kini pukulan telak mengenai wajahku. Selama ini, aku menutup mata atas kebaikannya. Bukankah dengan sepeda itu juga aku diantarnya ke sekolah? Kak Tino pun tidak pernah melarang aku untuk menggunakannya. Dan notebook itu? siapa yang lebih banyak memakainya? Aku. Kak Tino hanya akan menggunakan bila aku sudah bosan atau sudah selesai dengan urusanku sendiri. Belum lagi mobil yang selalu setia menemaniku menghabiskan hari-hari kuliah. Sementara Kak Tino mengalah menggunakan motor tua ayah.
Tidak! Pukulan yang lebih telak lagi ketika aku menyadari kenyataan yang coba disembunyikan ayah dan ibu. Selama ini aku tak tahu bahwa Kak Tino adalah donor yang telah merelakan satu ginjalnya untukku. Kak Tino tak hadir pasca operasiku kala itu juga karena ia sedang memulai masa pemulihan. Dan yang paling menyakitkan, orang yang telah rela membagi nyawanya denganku bukanlah siapa-siapa. Ia hanya anak angkat ayah dan ibu.
Kini, cahaya mata ibu itu telah tiada. Dia meninggal setelah berjuang melawan kanker otak selama dua tahun. Dua tahun? Waktu yang panjang untuk tersiksa dalam kesengsaraan. Lalu di manakah aku saat itu? Asyik dengan duniaku sendiri. Asyik dengan prasangka yang kubangun sendiri.
Dan di antara kesenangan semu itu, aku tak menemukan apa-apa selain penyesalan dalam. Andai saja aku menuruti ibu untuk segera pulang. Andai saja aku tak perlu merasa iri dan cemburu. Andai saja aku bisa bersikap lebih dewasa. Namun semua andai-andai itu tak akan bisa membalikkan keadaan.

Aku mendengar lagi. Nyanyian itu, pilu namun kurindukan. Kidung kesayangan Kak Tino untukku, yang setiap malam ia dendangkan.