Saya mengenal mereka, Ayu dan Gilang, awalnya hanya sekilas lalu. dalam kisah manis Ann dan Ju di buku Walking After You. Ayu bukan ‘penghuni’ buku tersebut. Ayu hanyalah pelanggan tetap di Afternoon Tea milik Galuh, tempat Ann dan Ju bekerja, setiap selasa sore yang selalu duduk di sudut ditemani shouffle yang tak tersentuh hingga bagian tengahnya melesak ke dalam wadah. bukan cuma itu, dalam buku tersebut, Ayu, percaya atau tidak, adalah gadis pembawa hujan. setiap kedatangannya akan selalu disertai dengan hujan.
kemudian saya bertemu kembali dengan mereka. Ayu dan Gilang. Kali ini dalam buku lain yang berjudul London :Angel. Buku yang menceritakan tentang persahabatan yang -tidak selalu- berakhir dalam percintaan. Gilang, adalah tokoh utama dalam buku ini. Laki-laki yang -menurut saya- sedikit serius seperti kebanyakan penyuka sastra. serius tapi peka. Mungkin itu sebabnya teman-teman Gilang menjulukinya dengan Shakespeare.
London bercerita tentang kenekatan Gilang menyusul sahabatnya ke London demi mendapatkannya. tentang Gilang yang harus terluka karena ternyata Ning sudah jatuh cinta pada orang lain. Tentang hujan di depan Big Eye dan malaikat yang turun bersamanya, membawa payung merah.
Dalam buku ini, Ayu sedikit disinggung sebagai gadis yang berasal dari negara yang sama. Yang tak sengaja bertemu dengan Gilang di sebuah toko buku tua. Ayu sedang mencari buku-buku cetakan pertama untuk koleksinya.
Tidak banyak interaksi antar keduanya. Tapi, setelah membaca kedua buku tersebut, saya sadar saya salah. Seharusnya saya berkenalan dulu dengan London sebelum berkunjung ke afternoon tea di Walking After You. Dan satu hal yang saya sadari, ada lubang menganga yang belum terjawab tentang Ayu dan Gilang. Tentang Gilang yang tiba-tiba menghilang, tentang Ayu yang selalu duduk sendiri di sudut afternoon tea, tentang hujan yang menyertainya. Saya penasaran.
Lalu Angel In The Rain melambai pada saya. Seolah mengatakan dia punya semua jawaban yang saya butuhkan untuk menuntaskan penasaran saya. Dan saya pun menurut, mendekapnya, membawanya pulang. Empat malam saya habiskan untuk membacanya, mencoba larut dalam setiap kisah yang tersuguh di dalamnya.
Dan akhirnya, puzzle cerita ini lengkap.
0 komentar:
Posting Komentar