Paket itu tiba siang ini di rumahku. Sebuah paket berisi
empat buah buku yang aku pesan dari seorang sahabat nun jauh di Prabumulih,
Sumatera. Aku tersenyum mengamati setiap buku. Paket itu datang bersama
sebuah kejutan untukku. Kejutan tak pernah aku sangka (iyalah..) dan yang kelak
akan mengubah hidupku. Membuat aku pusing bukan main. Secarik kertas berwarna
ungu berbau harum terselip dan jatuh ketika aku sedang mengamati buku terakhir.
Jika purnama depan aku
bisa,
Ku kan hadir dihadapanmu,
Membawa sebuket asa,
Untuk merengkuh masa
depan bersama,
Kutawarkan mahar paling
indah,
Seperangkat alat sholat
beserta imannya.
Akankah kau bersedia?
Untaian kalimat itu membuat aku merinding. Pasalnya yang
menulis adalah seorang lelaki yang mengaku tidak romantis. Lelaki yang setengah
mati dikagumi oleh Nala, sahabatku. Tak pernah kusangka kalau surat itu
ditujukan padaku. Tapi setelah kutanyakan, itu memang untukku dan dia menanti
jawabanku dalam tujuh hari. Bayangkan, sebuah keputusan besar harus aku
pikirkan masak-masak hanya dalam tujuh hari. Gila!
Berkali-kali aku mencoba memastikan kebenaran surat itu,
berkali-kali pula ia menegaskan bahwa itu memang untukku. Dia tak salah kirim
dan sudah melakukan istikhoroh beberapa
kali. Hasilnya, namaku yang muncul sebagai jawabannya. Sekali lagi, Gila!!
***
Hari pertama,
“Gimana, sudah memikirkan jawabannya, Dek?” Tanya si pengirim
surat itu. Panggilan ‘Dek’ darinya membuat dadaku berdesir. Bahagia sekaligus
nyeri.
Aku menggeleng. Tapi kemudian kusadari dia tak mungkin
melihat gelengan kepalaku karena kami berkomunikasi melalui telepon.
“Belum, Mas.” Jawabku lirih sembari tengok kanan-kiri.
Maklum, saat itu aku sedang di kantor. Takut ada kuping usil yang ikut campur.
“Kenapa?” tanyanya.
“Baru juga sehari, Mas. Sabar dong!” aku mulai merajuk.
Dia tertawa. Sepertinya aku mulai membenci tawanya. Entahlah.
Yang pasti saat ini aku sedang tertekan. Aku harus menyelesaikan masalahku sebelum benar-benar memutuskan jawaban untuknya.
“Ya sudah, segera berikan jawaban ya? Biar aku bisa siap-siap
mengkhitbah Adek secara resmi.”
Aku makin mendongkol mendengarnya. Percaya diri sekali dia, seolah aku pasti akan menerimanya. Kututup telepon segera setelah mengucap
salam. Kusorongkan Hpku ke bagian dalam laci dan segera menutup laci untuk
kembali bekerja.
Tawarannya akan sebuah pernikahan sangat sulit untuk kutolak
meskipun pada awalnya aku tidak menaruh hati padanya. Aku tak memungkiri
kredibilitasnya sebagai lelaki religius yang insyaallah bisa menjadi imam yang
baik. Dia mapan, mandiri, dewasa, nah, kurang apa coba? Soal tampang, tak kalah
gantengnya dengan David Archuleta. Oh, oke, aku berlebihan. Tapi dia memang
ganteng sekali kok.
Kenekatannya itu benar-benar tak bisa diterima dengan akal.
Pasalnya, dia tahu kepada siapa aku menaruh hati. Dia tahu pasti apa yang
sedang aku alami saat ini, mencintai seorang lelaki meski bertepuk sebelah
tangan. Sayangnya, dia tak tahu bahwa ada satu hati lain yang tengah berharap
untuk bisa menjadi makmumnya. Kompleks sekali permasalahanku. Hiks…
“Ngapain, Sya?” Tanya Nala mengagetkanku.
“Lagi pusing, La.” Jawabku sekenanya, menutupi kegugupanku
akan kehadirannya.
“Mikirin apaan?” Tanya Nala lagi.
Omaigat, harus jawab apa aku? Masa sih harus jawab jujur kalo
lelaki yang dicintainya telah melamarku? Bisa jadi perang dunia ke-18 nih.
Hiperbol dikit. Hehe…
“Belum makan, La.” Haduh,
kenapa juga jawaban itu yang keluar?
“Yaelaaaahhh… kirain kenapa. Ya udah cepet makan, dong. Mau
aku panggilin OB buat beliin makanan?” tawar Nala. Ni anak baiknya minta ampun.
“Gak, gak, gak usah! (ala 7icons)” jawabku. Nala terkikik
geli.
Aku memutuskan untuk bangkit menuju kantin sebelum Nala
melanjutkan pertanyaannya. Gawat kalau aku sampai keceplosan. Tidak! Aku belum
siap.
Niat hati ke kantin adalah melepas rasa lapar dan melepas
penat. Tapi ternyata aku malah bertemu dengannya, si lelaki pencuri hatiku
sedang asik membaca buku sendirian. Di hadapannya terhidang secangkir kopi.
Wajah serius yang terbingkai kaca mata minus itu membuat aku terpukau. Ganteng?
Banget. Sama si lelaki nun jauh di sono ganteng mana? Sama gantengnya. Dilema,
hiks…
Sayangnya, lelaki ini tak pernah tahu isi hatiku. Dan aku pun
tak berani untuk mengungkapkannya. Namanya Bram, dia rekan kerja beda divisi.
Tapi kami cukup sering bertemu. Kalau tidak di kantin, ya di mushola. Dia pernah
mengantarkan mukenaku yang tertinggal di mushola. Uhh… so sweet kan? Setelah
itu aku jadi jatuh cinta padanya. Apalagi sejak saat itu dia sering sekali meminjamiku
novel-novel bagus.
Jadi, yang kulakukan adalah putar balik, tak jadi ke kantin.
Aku kembali ke ruangan dan menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas. Hari ini
aku lalui dengan gelisah karena seorang pria. GILA!!
0 komentar:
Posting Komentar