Kamis, 16 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 1)

Paket itu tiba siang ini di rumahku. Sebuah paket berisi empat buah buku yang aku pesan dari seorang sahabat nun jauh di Prabumulih, Sumatera. Aku tersenyum mengamati setiap buku. Paket itu datang bersama sebuah kejutan untukku. Kejutan tak pernah aku sangka (iyalah..) dan yang kelak akan mengubah hidupku. Membuat aku pusing bukan main. Secarik kertas berwarna ungu berbau harum terselip dan jatuh ketika aku sedang mengamati buku terakhir.

Jika purnama depan aku bisa,
Ku kan hadir dihadapanmu,
Membawa sebuket asa,
Untuk merengkuh masa depan bersama,
Kutawarkan mahar paling indah,
Seperangkat alat sholat beserta imannya.
Akankah kau bersedia?

Untaian kalimat itu membuat aku merinding. Pasalnya yang menulis adalah seorang lelaki yang mengaku tidak romantis. Lelaki yang setengah mati dikagumi oleh Nala, sahabatku. Tak pernah kusangka kalau surat itu ditujukan padaku. Tapi setelah kutanyakan, itu memang untukku dan dia menanti jawabanku dalam tujuh hari. Bayangkan, sebuah keputusan besar harus aku pikirkan masak-masak hanya dalam tujuh hari. Gila!
Berkali-kali aku mencoba memastikan kebenaran surat itu, berkali-kali pula ia menegaskan bahwa itu memang untukku. Dia tak salah kirim dan sudah melakukan istikhoroh beberapa kali. Hasilnya, namaku yang muncul sebagai jawabannya. Sekali lagi, Gila!!


***

Hari pertama,

“Gimana, sudah memikirkan jawabannya, Dek?” Tanya si pengirim surat itu. Panggilan ‘Dek’ darinya membuat dadaku berdesir. Bahagia sekaligus nyeri.
Aku menggeleng. Tapi kemudian kusadari dia tak mungkin melihat gelengan kepalaku karena kami berkomunikasi melalui telepon.
“Belum, Mas.” Jawabku lirih sembari tengok kanan-kiri. Maklum, saat itu aku sedang di kantor. Takut ada kuping usil yang ikut campur.
“Kenapa?” tanyanya.
“Baru juga sehari, Mas. Sabar dong!” aku mulai merajuk.
Dia tertawa. Sepertinya aku mulai membenci tawanya. Entahlah. Yang pasti saat ini aku sedang tertekan. Aku harus menyelesaikan masalahku sebelum benar-benar memutuskan jawaban untuknya.
“Ya sudah, segera berikan jawaban ya? Biar aku bisa siap-siap mengkhitbah Adek secara resmi.”
Aku makin mendongkol mendengarnya. Percaya diri sekali dia, seolah aku pasti akan menerimanya. Kututup telepon segera setelah mengucap salam. Kusorongkan Hpku ke bagian dalam laci dan segera menutup laci untuk kembali bekerja.
Tawarannya akan sebuah pernikahan sangat sulit untuk kutolak meskipun pada awalnya aku tidak menaruh hati padanya. Aku tak memungkiri kredibilitasnya sebagai lelaki religius yang insyaallah bisa menjadi imam yang baik. Dia mapan, mandiri, dewasa, nah, kurang apa coba? Soal tampang, tak kalah gantengnya dengan David Archuleta. Oh, oke, aku berlebihan. Tapi dia memang ganteng sekali kok.
Kenekatannya itu benar-benar tak bisa diterima dengan akal. Pasalnya, dia tahu kepada siapa aku menaruh hati. Dia tahu pasti apa yang sedang aku alami saat ini, mencintai seorang lelaki meski bertepuk sebelah tangan. Sayangnya, dia tak tahu bahwa ada satu hati lain yang tengah berharap untuk bisa menjadi makmumnya. Kompleks sekali permasalahanku. Hiks…
“Ngapain, Sya?” Tanya Nala mengagetkanku.
“Lagi pusing, La.” Jawabku sekenanya, menutupi kegugupanku akan kehadirannya.
“Mikirin apaan?” Tanya Nala lagi.
Omaigat, harus jawab apa aku? Masa sih harus jawab jujur kalo lelaki yang dicintainya telah melamarku? Bisa jadi perang dunia ke-18 nih. Hiperbol dikit. Hehe…
“Belum makan, La.” Haduh, kenapa juga jawaban itu yang keluar?
“Yaelaaaahhh… kirain kenapa. Ya udah cepet makan, dong. Mau aku panggilin OB buat beliin makanan?” tawar Nala. Ni anak baiknya minta ampun.
“Gak, gak, gak usah! (ala 7icons)” jawabku. Nala terkikik geli.
Aku memutuskan untuk bangkit menuju kantin sebelum Nala melanjutkan pertanyaannya. Gawat kalau aku sampai keceplosan. Tidak! Aku belum siap.
Niat hati ke kantin adalah melepas rasa lapar dan melepas penat. Tapi ternyata aku malah bertemu dengannya, si lelaki pencuri hatiku sedang asik membaca buku sendirian. Di hadapannya terhidang secangkir kopi. Wajah serius yang terbingkai kaca mata minus itu membuat aku terpukau. Ganteng? Banget. Sama si lelaki nun jauh di sono ganteng mana? Sama gantengnya. Dilema, hiks…
Sayangnya, lelaki ini tak pernah tahu isi hatiku. Dan aku pun tak berani untuk mengungkapkannya. Namanya Bram, dia rekan kerja beda divisi. Tapi kami cukup sering bertemu. Kalau tidak di kantin, ya di mushola. Dia pernah mengantarkan mukenaku yang tertinggal di mushola. Uhh… so sweet kan? Setelah itu aku jadi jatuh cinta padanya. Apalagi sejak saat itu dia sering sekali meminjamiku novel-novel bagus.

Jadi, yang kulakukan adalah putar balik, tak jadi ke kantin. Aku kembali ke ruangan dan menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas. Hari ini aku lalui dengan gelisah karena seorang pria. GILA!!

0 komentar:

Posting Komentar