Hari kedua…
Pagi ini aku terbangun dengan niat akan bicara pada Nala dulu
mengenai lamaran pria yang diidamkannya terhadapku. Aku memilih Nala karena aku
anggap dia adalah orang pertama yang perlu tahu tentang kami, tentang lelaki
pujaannya agar tak terus menaruh harap. Bismillah…
Uh, rasanya aku menjadi perempuan jahat yang telah menelikung sahabatnya sendiri dari belakang.
Hiks…
“La!” panggilku ketika melihatnya datang.
Yang dipanggil membalikkan badan dan tersenyum manis padaku,
“Hai, Sya? Ada apa?”
Keringat dingin membanjiri ketiakku. Wajah bidadarinya
membuat nyaliku mendadak ciut.
“Eng… Enggak! Ntar makan siang dimana?” tanyaku. Ooops,
kenapa tanya itu? Bukan, maksudku bukan itu. Lagian masih pagi kok ngomongin
soal makan siang sih? Sarapan aja belum.
Nala tertawa merdu tapi membuatku merinding.
“Belum tahu. Mau makan bareng?” tawarnya.
Aku menyambutnya dengan segera. Berharap semoga nanti ada
kesempatan bicara dengannya berdua saja. Amin.
Sesaat aku lupa akan beban pikiranku karena begitu banyaknya
tugas yang menumpuk di meja. Sesekali kulihat Nala tengah asik pula mengerjakan
bagiannya.
Aku memilih membiarkan Nala menyantap hidangannya ketika jam
makan siang tiba. Aku pun mencoba mengusir gundah gulanaku dengan sedikit
mengisi perut. Sedikitnya dua burger, seporsi paket hemat dan segelas minuman
cola. Sedikit ya? Hehehe…
“Doyan apa laper, Sya?” Tanya Nala.
Ah, bukan, tapi stress.
Hihihi…
“Belum makan dari kemaren, La.” Jawabku.
“Oh, pantes kalap gitu. Cantik-cantik kuli ternyata.”
Asem!
Kubersihkan sisa makanan di bibirku dengan tisu kemudian
menatap Nala yang sedang menyuapkan suapan terakhir ayam goreng ke mulutnya. Aku
menatapnya penuh iba. Gadis ini baik sekali padaku. Dan kini aku harus
memberinya kenyataan pahit yang mungkin tak akan termaafkan seumur hidup.
Aaarrrgghhh! Ini semua gara-gara dia, lelaki di Prabumulih itu. Dia nyaris membuatku GILA.
Aaarrrgghhh! Ini semua gara-gara dia, lelaki di Prabumulih itu. Dia nyaris membuatku GILA.
“Sya, ngapain ngeliatin aku terus? Naksir?”
“Jiah, maap, Bu. Saya masih normal. Saya masih doyan laki.”
Jawabku.
Dia terkekeh.
Oke, this is the time
to be honest. Bismillah…
“La, gimana kalo lelaki yang kamu suka…” aku tak jadi
meneruskan kalimatku. Di pintu masuk aku melihat sesosok pria ganteng masuk
menenteng tas laptop yang biasa ia bawa. Ia tersenyum ke arahku dan aku…
meleleh di tempat.
Hari ini aku gagal mengutarakan semuanya pada Nala. Hiks…
Sampai kapan akan begini? Rasanya seperti maling yang sembunyi dari kejaran
polisi. Huwaa…
0 komentar:
Posting Komentar