Jumat, 17 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 2)

Hari kedua…

Pagi ini aku terbangun dengan niat akan bicara pada Nala dulu mengenai lamaran pria yang diidamkannya terhadapku. Aku memilih Nala karena aku anggap dia adalah orang pertama yang perlu tahu tentang kami, tentang lelaki pujaannya agar tak terus menaruh harap. Bismillah…
Uh, rasanya aku menjadi perempuan jahat yang telah menelikung sahabatnya sendiri dari belakang. Hiks…
“La!” panggilku ketika melihatnya datang.
Yang dipanggil membalikkan badan dan tersenyum manis padaku, “Hai, Sya? Ada apa?”
Keringat dingin membanjiri ketiakku. Wajah bidadarinya membuat nyaliku mendadak ciut.
“Eng… Enggak! Ntar makan siang dimana?” tanyaku. Ooops, kenapa tanya itu? Bukan, maksudku bukan itu. Lagian masih pagi kok ngomongin soal makan siang sih? Sarapan aja belum.
Nala tertawa merdu tapi membuatku merinding.
“Belum tahu. Mau makan bareng?” tawarnya.
Aku menyambutnya dengan segera. Berharap semoga nanti ada kesempatan bicara dengannya berdua saja. Amin.
Sesaat aku lupa akan beban pikiranku karena begitu banyaknya tugas yang menumpuk di meja. Sesekali kulihat Nala tengah asik pula mengerjakan bagiannya.
Aku memilih membiarkan Nala menyantap hidangannya ketika jam makan siang tiba. Aku pun mencoba mengusir gundah gulanaku dengan sedikit mengisi perut. Sedikitnya dua burger, seporsi paket hemat dan segelas minuman cola. Sedikit ya? Hehehe…
“Doyan apa laper, Sya?” Tanya Nala.
Ah, bukan, tapi stress. Hihihi…
“Belum makan dari kemaren, La.” Jawabku.
“Oh, pantes kalap gitu. Cantik-cantik kuli ternyata.”
Asem!
Kubersihkan sisa makanan di bibirku dengan tisu kemudian menatap Nala yang sedang menyuapkan suapan terakhir ayam goreng ke mulutnya. Aku menatapnya penuh iba. Gadis ini baik sekali padaku. Dan kini aku harus memberinya kenyataan pahit yang mungkin tak akan termaafkan seumur hidup.
Aaarrrgghhh! Ini semua gara-gara dia, lelaki di Prabumulih itu. Dia nyaris membuatku GILA.
“Sya, ngapain ngeliatin aku terus? Naksir?”
“Jiah, maap, Bu. Saya masih normal. Saya masih doyan laki.” Jawabku.
Dia terkekeh.
Oke, this is the time to be honest. Bismillah…
“La, gimana kalo lelaki yang kamu suka…” aku tak jadi meneruskan kalimatku. Di pintu masuk aku melihat sesosok pria ganteng masuk menenteng tas laptop yang biasa ia bawa. Ia tersenyum ke arahku dan aku… meleleh di tempat.

Hari ini aku gagal mengutarakan semuanya pada Nala. Hiks… Sampai kapan akan begini? Rasanya seperti maling yang sembunyi dari kejaran polisi. Huwaa…

0 komentar:

Posting Komentar