Sabtu, 25 Mei 2019

PROLOG

Aku meremas tanganku. Gelisah. Kupaksakan mataku untuk tidak menatapnya. Namun berkali-kali pula aku tak kuasa menolak keinginanku untuk sekedar melihatnya sepintas. Dia masih duduk dalam diam di hadapanku. Dan aku mati kutu.
“Jadi, bagaimana?” suara baritonnya menyentak anganku.
Aku tergagap. Tidak siap dengan jawaban yang dia minta. Kulihat dia tersenyum. Manis.
“Aku... akan pertimbangkan.” Jawabku pada akhirnya.
“Oke, aku beri waktu dua bulan sejak saat ini. I’ll be waiting for your answer after two months.” Dia melangkah meninggalkan aku setelah membayar tagihan pesanan kami. Meninggalkan aku yang masih terpaku.
Mimpikah ini?

Tuhan, tolong aku.

0 komentar:

Posting Komentar