Aku meremas tanganku. Gelisah.
Kupaksakan mataku untuk tidak menatapnya. Namun berkali-kali pula aku tak kuasa
menolak keinginanku untuk sekedar melihatnya sepintas. Dia masih duduk dalam
diam di hadapanku. Dan aku mati kutu.
“Jadi, bagaimana?” suara baritonnya
menyentak anganku.
Aku tergagap. Tidak siap dengan jawaban
yang dia minta. Kulihat dia tersenyum. Manis.
“Aku... akan pertimbangkan.” Jawabku
pada akhirnya.
“Oke, aku beri waktu dua bulan sejak
saat ini. I’ll be waiting for your answer
after two months.” Dia melangkah meninggalkan aku setelah membayar tagihan
pesanan kami. Meninggalkan aku yang masih terpaku.
Mimpikah ini?
Tuhan, tolong aku.
0 komentar:
Posting Komentar