Hari kelima…
Duuuuh… rasanya seperti di
kejar deadline. Tinggal dua hari lagi aku harus segera menjawab pertanyaan
TPM. Padahal baru kemarin aku patah hati karena jawaban Bram yang datar-datar
saja mendengarkan aku akan segera menikah. Aku tak berharap dia menangis
berlebihan. Aku hanya ingin dia mencegahku, maka akan kubaktikan seluruh
hidupku padanya. Hiks…
Ah, sudahlah. Ngapain juga mikirin dia. Masalahku kini tinggal Nala. Mau tak mau aku harus segera bicara padanya.
Ah, sudahlah. Ngapain juga mikirin dia. Masalahku kini tinggal Nala. Mau tak mau aku harus segera bicara padanya.
Aku dan Nala memang sahabat di kantor,
sama-sama mencintai dunia literasi, membaca dan juga berburu buku. Kalau ada
jadwal bedah buku, kami segera mendaftar selama masih bisa di jangkau angkutan
umum. Sebab aku sendiri tak terlalu hafal jalanan ibu kota.
Kemudian pada suatu hari, aku menemukan
milis yang cukup kompeten dan sarat ilmu. Aku ajak Nala untuk bergabung di
sana. Awalnya kami, sesama anggota baru hanya memperhatikan aturan main mereka.
Lama-lama kami pun terbiasa dan segera membaur. Kami bukan orang yang sulit
bergaul, kok. Jadi mudah saja untuk beradaptasi.
Tak lama, kami mendapat teguran, eh,
salam maksudnya dari seorang senior. Laki-laki. Ganteng. Bijaksana pula. Aku
dan Nala menyebutnya sebagai paket komplit. Ah, tidak ada maksud untuk
menyamakannya dengan menu makanan di restoran fastfood, tapi dia komplit
segalanya.
“Calon imam yang baik, insyaallah.”
Begitu kata Nala ketika kami membicarakannya.
Berawal dari milis, kami pun menjadi
akrab di Facebook. Dan keakraban kami itu sering aku gunakan untuk menggoda
Nala dengannya. Aku sering bilang mereka cocok, mereka serasi dan menyarankan
mereka segera menikah. Biasanya, candaanku akan berakhir lemparan tisu beserta
tempatnya dari Nala yang meja kerjanya tak jauh dariku. Haha…
Dan aku tak menyangka jika berawal dari
candaan itu, Nala benar-benar jatuh cinta pada TPM. Nala benar-benar menaruh
hati pada lelaki yang bahkan belum ia kenal. Hanya mendengar suaranya melalui
telepon beberapa kali. Itu saja sudah cukup membuatnya tersipu malu.
Kini aku bagai berdiri di lautan duri.
Tak tahu bagaimana caraku melangkah menyelamatkan persahabatanku dengan Nala
jika ia tahu tentang TPM yang tengah meminangku. Aku sudah pernah mencoba
bicara pada TPM mengenai Nala. Tapi jawabannya mengecewakan.
“Kenapa harus aku yang bicara? Aku kan
tidak punya hubungan apa-apa sama dia? Kalau toh ternyata dia mencintaiku,
bukan berarti aku harus mencintainya juga kan?”
Hiiiihhh… rasanya pengen menggores wajah
gantengnya dengan garpu saat itu juga. Aku hanya minta dia menyampaikan pada
Nala saja. Titik.
“Ga mau. Aku ga ada urusan apa pun sama
Nala.”
“Tapi, Mas, sudah sepatutnya kamu bilang
sama dia. Dia kan sahabatku, jadi dia harus tahu juga.”
“Enggak, Dek. Keputusan untuk melanjutkan masa
depan ada di tangan kita, bukan orang lain. Dan aku tidak akan menerima
alasanmu menolakku jika itu semua karena Nala.”
Klik! Telepon di putus.
Tinggalah aku sendiri dilanda bingung karena
ulahnya. Pokoknya Nala harus tahu. Dan aku harus mendapat restunya. Aku tak mau
membangun sebuah hubungan di atas penderitaan orang lain. Terlebih orang itu
adalah sahabatku.
***
Aku tertunduk dalam kelu di kantin kantor,
sementara Nala di hadapanku tengah memandang dengan tatapan siap menelanku
hidup-hidup. Konsekuensi, resiko yang harus aku tanggung. Hiks… Tapi setidaknya
ada sedikit lega karena aku sudah menceritakan semuanya pada Nala.
“Maafkan aku, La.” Bisikku.
“Kenapa baru bilang sekarang, Sya?”
Ya? Kenapa baru bilang sekarang setelah berjalan lima hari? Jawabannya,
aku takut mengatakan semua ini padanya.
Aku hanya bisa menelan ludah, glek.
“Jawab, Sya? Kenapa baru sekarang
setelah kalian berjalan begitu lama? Jadi selama ini kamu hanya pura-pura
menjodohkan aku dengannya padahal di belakangku kalian asik menyusun masa
depan?” Nala mengeluarkan lahar emosinya.
Aku bengong. Sekian lama? Ada
yang salah sepertinya.
“La… kamu salah. Aku sama dia tidak ada
hubungan apa pun kok. Hanya saja baru-baru ini dia…”
“Cukup! Aku ga mau mendengar ocehan kamu
lagi. Pasti bohong lagi kan?”
Aku menggeleng kuat-kuat, memasang wajah
memelas memohon pengertiannya. “La, benar, aku sama dia ga pernah ada hubungan
apa pun. Ga ada yang aku tutupi dari kamu selama ini, La.”
“Cukup, Sya. Sejak saat ini jangan lagi
bicara sama aku di luar urusan kerja.” Dia beranjak keluar kantin dengan
langkah menghentak.
Aku menyusut airmata yang menetes. Ada
perih menyusup. Bukan karena kemarahan Nala, tapi karena salah paham yang
timbul di antara kami. Kuambil Hp, kuketik sms untuknya, TPM.
“Nala salah paham. Dia kira kita ada
hubungan di belakangnya. Kamu harus tanggung jawab, mas.”
Sent.
Balasannya segera kuterima.
“Biar saja.”
Uuuuuhhh… hampir saja kubanting android
kesayanganku.
0 komentar:
Posting Komentar