Selasa, 21 Mei 2019

Maaf, Dia memilihku (Part 5)

Hari kelima…

Duuuuh… rasanya seperti di kejar deadline. Tinggal dua hari lagi aku harus segera menjawab pertanyaan TPM. Padahal baru kemarin aku patah hati karena jawaban Bram yang datar-datar saja mendengarkan aku akan segera menikah. Aku tak berharap dia menangis berlebihan. Aku hanya ingin dia mencegahku, maka akan kubaktikan seluruh hidupku padanya. Hiks… 
Ah, sudahlah. Ngapain juga mikirin dia. Masalahku kini tinggal Nala. Mau tak mau aku harus segera bicara padanya.
 Aku dan Nala memang sahabat di kantor, sama-sama mencintai dunia literasi, membaca dan juga berburu buku. Kalau ada jadwal bedah buku, kami segera mendaftar selama masih bisa di jangkau angkutan umum. Sebab aku sendiri  tak terlalu hafal jalanan ibu kota.
 Kemudian pada suatu hari, aku menemukan milis yang cukup kompeten dan sarat ilmu. Aku ajak Nala untuk bergabung di sana. Awalnya kami, sesama anggota baru hanya memperhatikan aturan main mereka. Lama-lama kami pun terbiasa dan segera membaur. Kami bukan orang yang sulit bergaul, kok. Jadi mudah saja untuk beradaptasi.
 Tak lama, kami mendapat teguran, eh, salam maksudnya dari seorang senior. Laki-laki. Ganteng. Bijaksana pula. Aku dan Nala menyebutnya sebagai paket komplit. Ah, tidak ada maksud untuk menyamakannya dengan menu makanan di restoran fastfood, tapi dia komplit segalanya.
 “Calon imam yang baik, insyaallah.” Begitu kata Nala ketika kami membicarakannya.
 Berawal dari milis, kami pun menjadi akrab di Facebook. Dan keakraban kami itu sering aku gunakan untuk menggoda Nala dengannya. Aku sering bilang mereka cocok, mereka serasi dan menyarankan mereka segera menikah. Biasanya, candaanku akan berakhir lemparan tisu beserta tempatnya dari Nala yang meja kerjanya tak jauh dariku. Haha…
 Dan aku tak menyangka jika berawal dari candaan itu, Nala benar-benar jatuh cinta pada TPM. Nala benar-benar menaruh hati pada lelaki yang bahkan belum ia kenal. Hanya mendengar suaranya melalui telepon beberapa kali. Itu saja sudah cukup membuatnya tersipu malu.
 Kini aku bagai berdiri di lautan duri. Tak tahu bagaimana caraku melangkah menyelamatkan persahabatanku dengan Nala jika ia tahu tentang TPM yang tengah meminangku. Aku sudah pernah mencoba bicara pada TPM mengenai Nala. Tapi jawabannya mengecewakan.
 “Kenapa harus aku yang bicara? Aku kan tidak punya hubungan apa-apa sama dia? Kalau toh ternyata dia mencintaiku, bukan berarti aku harus mencintainya juga kan?”
 Hiiiihhh… rasanya pengen menggores wajah gantengnya dengan garpu saat itu juga. Aku hanya minta dia menyampaikan pada Nala saja. Titik.
 “Ga mau. Aku ga ada urusan apa pun sama Nala.”
 “Tapi, Mas, sudah sepatutnya kamu bilang sama dia. Dia kan sahabatku, jadi dia harus tahu juga.”
“Enggak, Dek. Keputusan untuk melanjutkan masa depan ada di tangan kita, bukan orang lain. Dan aku tidak akan menerima alasanmu menolakku jika itu semua karena Nala.”
Klik! Telepon di putus.
Tinggalah aku sendiri dilanda bingung karena ulahnya. Pokoknya Nala harus tahu. Dan aku harus mendapat restunya. Aku tak mau membangun sebuah hubungan di atas penderitaan orang lain. Terlebih orang itu adalah sahabatku.

***

Aku tertunduk dalam kelu di kantin kantor, sementara Nala di hadapanku tengah memandang dengan tatapan siap menelanku hidup-hidup. Konsekuensi, resiko yang harus aku tanggung. Hiks… Tapi setidaknya ada sedikit lega karena aku sudah menceritakan semuanya pada Nala.
“Maafkan aku, La.” Bisikku.
“Kenapa baru bilang sekarang, Sya?”
Ya? Kenapa baru bilang sekarang setelah berjalan lima hari? Jawabannya, aku takut mengatakan semua ini padanya. Aku hanya bisa menelan ludah, glek.
 “Jawab, Sya? Kenapa baru sekarang setelah kalian berjalan begitu lama? Jadi selama ini kamu hanya pura-pura menjodohkan aku dengannya padahal di belakangku kalian asik menyusun masa depan?” Nala mengeluarkan lahar emosinya.
 Aku bengong. Sekian lama? Ada yang salah sepertinya.
 “La… kamu salah. Aku sama dia tidak ada hubungan apa pun kok. Hanya saja baru-baru ini dia…”
 “Cukup! Aku ga mau mendengar ocehan kamu lagi. Pasti bohong lagi kan?”
 Aku menggeleng kuat-kuat, memasang wajah memelas memohon pengertiannya. “La, benar, aku sama dia ga pernah ada hubungan apa pun. Ga ada yang aku tutupi dari kamu selama ini, La.”
 “Cukup, Sya. Sejak saat ini jangan lagi bicara sama aku di luar urusan kerja.” Dia beranjak keluar kantin dengan langkah menghentak.
 Aku menyusut airmata yang menetes. Ada perih menyusup. Bukan karena kemarahan Nala, tapi karena salah paham yang timbul di antara kami. Kuambil Hp, kuketik sms untuknya, TPM.
 “Nala salah paham. Dia kira kita ada hubungan di belakangnya. Kamu harus tanggung jawab, mas.”
 Sent.
 Balasannya segera kuterima.
 “Biar saja.”

 Uuuuuhhh… hampir saja kubanting android kesayanganku.

0 komentar:

Posting Komentar