Kamis, 23 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 7)

Masih hari keenam...

Kerjaku hari ini sama sekali tak bisa konsentrasi. Hatiku diliputi gelisah yang tak menentu. Sesekali aku melirik Nala. Kulihat wajahnya masih biasa saja, namun aura dinginnya sanggup membekukan hatiku. Uuuhh... ini semua gara-gara TPM.
Tapi kenapa dadaku berdesir hanya dengan mengingat dirinya? Mengingat senyum manis yang ia suguhkan tadi pagi? Huwaa... sepertinya aku mulai jatuh cinta padanya. Mampus dah.
“Sya, kamu ngapain sih? Dari tadi kayak orang gila. Tadi cengengesan, sekarang berubah panik.” Tegur Mbak Enny, Manajer Divisi Produksi yang juga salah satu sahabat baikku. Aku hanya bisa menyunggingkan cengiran tak berdosa di hadapannya.
“Awas bisa gila beneran loooh.” Godanya.
Sudah gila kayaknyaaa! Hatiku yang berteriak.
Tidak! Aku ga boleh gila dulu. Aku harus mendapat restu dari Nala paling lambat esok hari. Segala cara akan aku tempuh asal Nala tak marah dan merestui pernikahanku dengan TPM.
Kubuka aplikasi chatting LAN (kalo di kantor namanya winpop), kuketik pesan singkat untuk Nala.
La, marahmu wajar. Tapi ada salah paham yang harus kita selesaikan. Aku dan TPM tak ada hubungan apa pun di belakangmu selama ini. Aku juga tak menyangka dia melamarku beberapa hari yang lalu. Aku ga ingin kehilangan sahabat sebaik kamu, La.
Kalau kamu bersedia, after office hours aku tunggu kamu di starbuck’s. Semua akan jelas, La. Aku janji. Insyaallah”
Sent.
Sengaja aku tak mencantumkan perihal kedatangan TPM di kota ini. Aku ingin mempertemukan mereka secara diam-diam.
Balasan dari Nala segera kuterima,
Okey. Starbuck’s after office hours.”
Fiuuhhh... Alhamdulillah. Tinggal melobi si pangeran keras kepala nih. Semoga saja dia mau datang ke sana tanpa banyak tanya.
Kusambar Hp di laci dan segera ngacir keluar ruangan. Aku perlu memberitahunya secara lisan. Kelamaan kalau harus mengetik sms.
“Assalamu’alaikum? Mas, nanti sepulang kerja bisa mampir ke starbuck’s?”
“...”
“Iya, yang di deket kantorku. Nanti aku tunggu di sana. Ga usah di jemput. Paling jalan sepuluh menit udah sampe. Jam 4 tet ya? Jangan ngaret.”
“...”
“Ya udah, aku tunggu. Assalamu’alaikum?”
Klik. Fiuuuh... lega babak dua karena si pangeran keras kepala itu mau menuruti permintaanku. Tinggal mengatur bagaimana mereka bisa bicara dengan santai nanti. Aku kembali ke ruangan dengan wajah penuh senyum.

***

Bismillah...
Mungkin begini ya rasanya maling tertangkap basah? Lidah kelu, tangan berkeringat dingin, salah tingkah, uh... pokoknya ga enak deh. Apalagi dua makhluk di hadapanku sama-sama diam dan menatapku dengan tajam. Kok rasanya hanya aku saja tersangkanya? Heloo... ini kan bermula dari TPM.
Nala tak memperlihatkan ekspresi terkejut saat melihat TPM hadir di hadapannya. Tapi aku tahu hatinya gembira melihat sang pangeran secara langsung. Demikian juga dengan TPM yang tak terlalu terkejut mendapati Nala di dekatku.
“Ehem... Kalian ngobrol aja dulu ya? Aku mau ke toilet.” Ujarku memecah bisu.
Aku tak perlu menunggu jawaban mereka, langsung saja beranjak menuju toilet di sudut kafe. Sebenarnya aku tak ingin ke toilet. Hanya ingin memberi celah pada mereka untuk ngobrol. Dan semoga saja TPM mau menjelaskan permasalahan kami sehingga salah paham antara aku dengan Nala bisa selesai.
Sepuluh menit... Lima belas menit berlalu. Aku tak bisa terus menerus sembunyi dalam toilet. Baiklah, baiklah. Sepertinya aku harus kembali.
“Lama banget?” tegut TPM ketika aku kembali. Lagi-lagi aku cuma bisa nyengir.
“Gimana? Kalian sudah ngobrol apa aja?” tanyaku. Kulihat Nala masih tetap diam. Waduuuuhh... sepertinya TPM belum menjelaskan apa pun padanya.
“Aku pulang ya, Sya?” pamit Nala.
“Kenapa buru-buru? Bareng kita aja ya?” aku menatap TPM untuk pertama kalinya, meminta dukungan.
“Ga usah. Aku sudah telepon taksi, kok.” Jawabnya sambil berlalu. Aku tak sempat lagi bicara apa-apa.
Aku menghadap TPM, meminta penjelasan padanya. “Mas bilang apa sama dia?” tanyaku.
“Ga bilang apa-apa, kok. Aku sudah coba jelasin seperti yang Adek minta. Tapi dia tetap tak mau percaya.”
Aku menghela napas. Kesal? Tentu. Bagaimana aku bisa melanjutkan pinangan ini jika ada satu hati yang terluka. Dan hati itu milik sahabat baikku.
Ketika aku tengah cemberut, ada sebuah bisikan yang sangat jelas di telingaku untuk berbalik menatap pintu masuk. Posisiku memang membelakangi pintu. Aku, entah mengapa, menuruti bisikan itu. Berbalik dan menatapnya, sosok gagah yang kemarin baru saja membuatku patah hati melangkah masuk dengan tenang sambil menenteng tasnya.
Tanpa sadar aku bangkit.
“Bram?”
Dia melihat ke arahku, tersenyum sejenak. Kemudian pandangannya beralih pada lelaki yang tengan duduk bersamaku.
“Hai, Sya? Sama siapa?” sapanya.
Kuperkenalkan mereka berdua. Tentu saja aku tak bilang bahwa TPM adalah calon suamiku. Kuajak Bram bergabung di meja kami daripada aku harus berdua saja dengannya. Setidaknya aku bisa puas memandangi wajah Bram sore ini. Karena besok bukan tak mungkin segalanya sudah tidak bisa lagi kulakukan.
Pip..pip..
Sms masuk. TPM? Duduk bareng semeja kok pake smsan sih? Namun tak urung aku membukanya.
 “Ooh, ini yang namanya Bram, idolanya Adek ya? Puas-puasin deh memandang wajahnya. Esok sudah tak akan bisa karena Adek sudah jadi milikku.”
 What? Percaya dirinya berlebihan sekali. Segera kuhapus sms itu tanpa mengirim balasan. Tuhaaaan, jangan-jangan aku telah salah mencondongkan hatiku pada pria norak dan narsis itu? hiks...

***

“Sya, ayo makan malam dulu. Ummi sudah menunggu di meja makan.” Kak Ayu mengetuk pintu kamarku. Aku menggeliat malas. Kurapikan bajuku, kusambar jilbab kaus serampangan, dan segera membuka pintu.
Kak Ayu berdiri di hadapanku. Kak Ayu yang sederhana, yang selalu baik meski aku selalu jahil padanya. Kak Ayu tak pernah memarahiku secara berlebihan. Bahkan ketika aku sakit, Kak Ayu lah orang yang setia di sampingku. Tiba-tiba mataku memanas. Seketika aku memeluknya dan meluapkan airmataku di bahunya.
“Kenapa, Neng?”
Kak Ayu membimbingku kembali ke dalam kamar. Kami duduk berhadapan di tepi pembaringan.
Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku dan perasaan Nala saja. Sedangkan perasaan keluargaku sama sekali tak kuhiraukan. Padahal mereka seharusnya menjadi orang pertama yang tahu tentang pinangan itu. Terlebih Kak Ayu. Kakak yang belum memiliki pendamping. Seharusnya, restu dari Kak Ayu lebih penting dari segalanya.
Kak Ayu membiarkan aku menceritakan semua permasalahanku dengan terbata diselingi isak tangis. Sesekali ia mengangguk dan tersenyum. Kemudian jemarinya mengusap pipiku kala ceritaku usai.
“Neng, Kakak ikhlas kalau Neng mau menikah duluan. Toh ini takdir yang harus kita terima. Insyaallah, nanti kalau sudah saatnya Kakak akan segera menyusul kamu untuk menikah.”
Ucapan Kak Ayu makin menderaskan airmataku. Sebegitu lapangnya kakakku hingga rela kulangkahi. Hiks…
“Tapi, Kak. Nala…”
Kak Ayu tersenyum. “Dia hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, Neng. Kalau memang ia sahabatmu, insyaallah ia akan merestuimu.”
Kususut airmataku. Kubenahi letak jilbabku.
“Jadi, kamu sudah mantab akan menikah dengannya?” Tanya Kak Ayu. Senyumnya kembali jenaka.
Aku tersipu. Namun tak urung kuanggukkan kepala.
Kami segera turun ke ruang makan setelah Kak Ayu membantuku membersihkan sisa airmata di pipi. Ummi menatap kami dengan heran. Karena sejak keluar kamar, aku tak melepas genggaman tangan Kak Ayu, hal yang sangat jarang terjadi.
“Mi, ada kabar gembira.” Kak Ayu membuka pembicaraan. Kami bertiga sudah duduk mengelilingi meja makan. Ummi, yang tengah menghidangkan piring ke hadapanku menghentikan gerakan tangannya.
“Adik kecilku akan menikah. Akhirnya Thasya menerima pinangan dari…”
Aku menyikut Kak Ayu. Wajahku sudah merona. Ummi dan Kak Ayu tertawa bahagia dan berulang kali menyebutkan hamdalah.
“Kebetulan. Abi baru saja bertemu dengan Prama di Prabumulih dua hari lalu. Dia memintamu dari Abi dan Abi langsung menyetujuinya. Kalau kamu setuju, berarti sudah tak ada masalah lagi kan? Kapan menikah nih? Mumpung Prama ada di sini.”
“Ummiiiiiiiii… apaan sih? Masa harus langsung menikah?” aku memprotes.
“Iya dong. Habis nikah terus pacaran. Baru kereeeen.” Kak Ayu menimpali.
Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Kubiarkan saja Ummi dan Kak Ayu membicarakan rencana-rencana pernikahanku kelak. Masih ada satu hal yang mengganjal di hati ini. Satu hal yang membuat aku ragu untuk bilang ‘iya’ meski hatiku sudah hampir sepenuhnya mantab pada pria itu.
“Insyaallah Nala akan mengerti, Neng.” Ucap Kak Ayu sebelum aku tidur.

Ya, semoga saja dia akan mengerti dan bisa menerima semuanya. Amiin. 

0 komentar:

Posting Komentar