Hari ketiga…
Pagi ini, eh, masih terlalu pagi, dini hari lebih tepatnya.
Pukul tiga aku terbangun dengan tubuh bersimbah peluh. Aku mimpi buruk. Nala
membenciku dan menolak untuk memaafkanku. Kemudian semua orang menganggap aku
ini penghianat. Karena tak bisa tidur lagi, aku putuskan untuk mendirikan
sholat lail dan sedikit merenung sambil menanti waktu subuh tiba.
Ketika adzan subuh menggema, handphoneku berbunyi. Sebuah sms
masuk. Kulihat namanya (The Prabumulih Man) muncul didisplay.
“Ayo sholat, Dek. Dan
aku berharap kau sudah temukan satu kata sebagai jawabanmu.”
Hatiku mendadak kesal membacanya. Semua berawal dari dia,
seorang pria yang belum pernah kujumpai wajahnya, hanya mendengar suaranya
saja. Tapi sudah membuat hatiku hancur porak-poranda. Huhuhu… Sholat dulu ah.
Kantor, yang semula kuanggap rumah kedua, kini bak penjara
bagiku. Aku tak bebas lagi bergosip ria bersama staff lain, tak bisa lagi
bercanda dengan Nala tentang pria idamannya. Dan tidak sanggup lagi untuk
memandang wajah Bram berlama-lama mengingat aku sedang dalam masa berpikir tuk
menentukan sebuah jawaban.
Aku diambang batas kejujuran. Bagaimanapun aku harus jujur kepada Nala, dan juga Bram meskipun ia
bukan siapa-siapaku. Aku ingin bertanya pada Bram bagaimana perasaannya
terhadapku. Ingin sebuah pengakuan, karena aku tak ingin menyesal dalam mengambil
sebuah keputusan.
Kukenakan seragam kantor berwarna soft green dengan jilbab warna senada. Nala, yang pagi ini membiarkan
rambut ikalnya terurai, datang dengan wajah riang seperti biasa. Wajah bidadari
yang membuatku tak tega untuk bicara.
“Sya, ngapain ngelamun di depan dispenser?” tegur Kania.
Hah? Rupanya sedari tadi aku berdiri di depan dispenser.
Hahaha… aku menyingkir dari sana dengan wajah malu.
“Kamu ada masalah, Sya?” Tanya Nala.
Mengangguk? Atau menggeleng? Kuputuskan untuk menggeleng
saja.
“Dua hari ini kamu kelihatan ga fokus. Ga seperti biasanya.
Kalau memang ada masalah, cerita aja.” Bujuk Nala.
Mataku mendadak memanas. Ketulusan terdengar jelas dalam
setiap kalimat yang Nala ucapkan. Aku mengusap wajahku sebelum air mata
benar-benar jatuh. Kemudian mendongak, menatap matanya yang imut dan tersenyum
semanis mungkin.
“I’m okay, Sist.”
Jawabku pasti.
Aku memutuskan untuk menunda kabar ini dari Nala. Meski iblis
dan malaikat sibuk berperang dalam hati, aku merasa harus membicarakannya dulu
dengan The Prabumulih Man. Ohya, aku
belum menyebutkan namanya ya? Penting kah? Hmmm… sebaiknya nanti saja aku buka
profilnya.
Hpku bergetar. Waduh, Nala malah memegang hp itu dan
menyodorkannya padaku. Tapi setidaknya aku lega karena tadi pagi aku telah
mengganti namanya di phonebook
menjadi TPM, singkatan dari The Prabumulih Man. Hehe…
“Assalamu’alaikum?” aku berbisik. Dia menjawab salamku.
“Kok bisik-bisik ngomongnya?”
“Eh, anu..ini lagi di kantor, Mas. Masih jam kerja. Ga enak
kalo terima telpon pribadi.” Jawabku. Jurus ngasal aja. Hehe…
“Ooh… ya sudah. Jangan lupa makan. Gimana sudah ada jawaban?”
Hadoooh… kenapa juga
dia harus tanya tentang itu sekarang? Aku melempar cengiran pada Nala yang
memandangku heran.
“Belum. Sudah ya, Mas? Ga enak tu bos datang. Bye.
Assalamu’alaikum?”
Klik!
Kuhembuskan napas lega.
“Siapa, Sya?” Tanya Nala.
“Anu…”
“Anu siapa?”
“Eng… itu, si Anu.”
“Itunya si Anu atau anunya si itu?” Nala mulai gak jelas.
“Hehehe…”
“Kekasih kamu ya, Sya?” pertanyaan Nala masih berlanjut.
“Bukan.” Jawabku. Memang bukan kan? Kami tak perna terikat
dalam suatu hubungan asmara selama ini. Entah esok hari.
“Hem… kalau bukan berarti dia cowok pujaan kamu ya?”
Pujaan? Di hatiku cuma ada Bram. Dia mah nyempil dikit doang.
“Bukan, La.”
“Uuuhh…. Penasaran nih, Sya. Siapa sih? Cerita dong.” Bujuk
Nala.
Pip..pip…
Jam imut di mejaku berbunyi menandakan pukul lima telah tiba.
Sudah waktunya pulang. Save by the time.
Thank’s God!
“Kamu utang cerita sama aku.” Teriak Nala ketika aku membuka pintu kantor. Fiuuhh…
***
0 komentar:
Posting Komentar