Jumat, 24 Mei 2019

Maaf, Dia memilihku (END)

Hari ketujuh...

Cinta memang ga bisa dipaksakan datang dalam waktu hanya tujuh hari. Tapi aku yakin cinta akan tumbuh seiring waktu. Aku tak mau lagi menghabiskan waktu untuk menanti Bram menyatakan cinta padaku. Aku akan mencoba mencintai orang yang telah lebih dulu mencintaiku. Itu lebih baik.
 Separuh hatiku masih bimbang, tapi separuh yang lain merasa yakin akan diri lelaki yang meminangku. Keyakinan yang timbul setelah aku bertemu dengannya secara langsung. Semalam aku diantar pulang. Hatiku letih, penat dan berbagai rasa mendera. Wajahku terlihat sangat pucat. Dia berulang kali menanyakan kondisiku dengan nada cemas. Kujawab hanya dengan gelengan kepala.
 Sampai dengan pagi ini penat terus menderaku. Aku masih berdiri di ambang dilema. Jika kuterima, Nala akan semakin membenciku. Jika kutolak, itu artinya aku menyia-nyiakan hadiah yang Allah sediakan. Hiks...
 Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju ruangan di lantai tiga. Aku sudah berniat untuk meminta ketegasan dari Nala. Jika dia tidak mengijinkan, maka aku tak akan meneruskannya hingga ia bisa memberi restu.
 “Nala mana, Mbak?” tanyaku pada Mbak Enny demi melihat meja kerja Nala kosong. Tidak biasanya ia belum datang jam segini. Nala itu tipe yang sangat disiplin.
 “Ijin, Sya. Memangnya ga bilang sama kamu?” tanya Mbak Enny.
 Hiks... Bahkan aku sudah tidak bicara dengannya selama dua hari ini, Mbak. Namun aku hanya bisa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Mbak Enny.
 Kuhempaskan tubuhku di kursi. Kubiarkan tas dan jaketku tergeletak di meja. Hilang sudah kesempatanku bicara dengan Nala. Padahal nanti malam aku harus segera memberi jawaban pada lelaki itu.
 “Sya, ada telepon tuh.” Mbak Enny bersuara lagi.
 Aku bahkan tak mendengar dering telepon itu. Lampu indikatornya berkelip-kelip. Tanda ada telepon masuk untukku.
 “Ya?”
 “Thasya? Ini aku, Nala.”
 Alhamdulillah...
 “Ada apa, La?”
“Kamu yang sabar ya, Sya?” Nala mulai terisak.
Hah? Ada apa sih? Kenapa Nala harus nangis? Firasatku mulai tak enak.
“Ada apa, La? Kenapa kamu nangis?” tanyaku mulai panik.
 Nala menghela napas sejenak. “Sya, Mas Prama kecelakaan. Kondisinya cukup parah...”
 Hatiku mencelos. Kecelakaan? Parah? Inikah teguran untukku dari Allah karena telah menyia-nyiakan seseorang yang ingin menjalin ukhuwah suci denganku? Inikah yang aku dapatkan setelah berjuang selama tujuh hari untuk menaklukan hatiku agar bisa menerimanya? Ya Allah...
 “... kebetulan tadi aku lewat. Ternyata dia, Sya. Kamu bisa kesini? Aku masih di lokasi kejadian. Kamu tahu kan daerah...” Aku masih mendengar sayup suara Nala menyebutkan lokasinya. Ya, aku tahu tempat itu. sebuah tempat yang sangat aku idamkan untuk kujadikan tempat sakral kala calon suamiku mengucap ijab kabul kelak.
 Logikaku berhenti, berganti dengan perasaan khawatir dan rasa bersalah yang menyesak di dada. Kutelepon taksi dan memintanya segera mengirimkan satu armada ke kantorku. Aku tergesa menyambar jaket dan tas.
 “Mbak Enny, aku ijin ya? Calon suamiku kecelakaan.”
 Setelah itu aku melesat menuju bagian depan kantor, menanti taksi datang dengan gelisah. Baru kali ini aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Aku tak ingin menyesal. Aku ingin menemuinya di saat terakhirnya. Kan kuucap cinta meski hanya sedetik saja. Ijinkanlah, wahai Rabb...
 Handphoneku tak berhenti berdering. Puluhan sms masuk dari Ummi, Kak Ayu dan Abi. Aku semakin di landa cemas yang tak karuan. Kuminta supir taksi mempercepat laju kendaraannya, tapi aku terhambat oleh kemacetan. Yang bisa kulakukan hanya istighfar sebanyak mungkin.
 Aku tiba di halaman masjid. Keadaan sudah ramai. Banyak kendaraan dan kerumunan orang di sana. Tak kupedulikan lagi apa keperluan mereka. Aku harus segera mencarinya. Aku harus segera bilang bahwa aku menerima pinangannya.
 “Sya!” teriak Nala. Ia berlari menghampiriku kemudian memelukku dengan erat.
 “La, gimana? Apa yang terjadi?” aku mulai terbata. Airmataku jatuh tanpa kuminta.
 Nala membimbingku menuju bagian dalam masjid. Kulihat Ummi, Abi, Kak Ayu dan beberapa orang lain sudah hadir di sana. Tidak ada sosok tubuh berselimut kain di tengah ruangan sejauh aku memandang. Kemanakah dia?
 Ummi menyongsongku dan memelukku erat disusul Kak Ayu. Mereka tidak mengucapkan apa pun. Hanya memelukku erat yang sambil membelai punggungku.
Pandanganku semakin nanar. Aku tidak menemukan sosok yang aku cari. Apa aku terlambat?
 “Mana Mas Prama, Ummi?” tanyaku.
Umi masih tidak melepaskan pelukannya.
“Mas Prama…” aku memanggil namanya lebih keras.
Tidak ada sahutan sama sekali.
“Mas Prama…” aku menjerit.
Tetap tak ada suara yang menjawab.
 “Kau jahat, Mas. Kenapa kau tinggalkan aku di saat aku sudah semakin mantab padamu? Kau bilang akan menungguku sampai hari ini? Ayo bangun, Mas. Bilang kalau ini hanya candaanmu.” Aku semakin histeris.
 Ummi memelukku dari belakang. Aku meronta minta di lepaskan.
 “Mas Prama, aku ingin bilang aku mau menjadi istrimu, Mas…” Jeritku. Aku memeluk Ummi dan terisak. Sesak rasanya. Inikah kehilangan? Padahal aku ingin sekali bermanja padanya. Mendengar lagi kalimat-kalimat manis dari bibirnya.
 Ummi mengendurkan pelukannya. Bersamaan dengan itu, kurasakan sebuah pelukan erat. Tangan yang kokoh memelukku dari belakang. Membelai kepalaku yang terbalut jilbab.
“Kalau begitu, kalian segera menikah saja.”
Suara ini? Abi? Apa maksudnya?
Abi bergeser, membiarkan seseorang masuk dalam jarak pandangku. Membuat aku terpaku. Loh? Bukannya dia kecelakaan? Kenapa dia berdiri disana? Berpakaian rapi? Apa itu arwahnya? Ah, tidak mungkin.
Tanpa kusadari keadaan telah berubah. Tepuk tangan membahana. Rupanya ini hanya sebuah siasat darinya. Ah, aku terjebak lagi. Kususut airmataku, kupasang wajah marah. Namun dia tetap tersenyum. Pak penghulu telah siap pula disana. Uh, betapa malunya aku.
Aaaaarrrggghh... kejutan yang memalukan tapi membahagiakan.
Usut punya usut, ternyata ini semua sudah di rencanakannya, TPM bersama Nala. Dan mereka berhasil membuat aku terjebak. Tak lama Nala datang padaku dan mengatakan kalimat yang tak akan pernah aku lupa.

"Sya, mana mungkin aku marah sama kamu. Aku sudah bilang, kalau kamu bahagia, aku pasti ikutan bahagia. Aku merestuimu dan Prama. Semoga kalian menjadi sakinah. amin."

0 komentar:

Posting Komentar