Hari
ketujuh...
Cinta memang ga
bisa dipaksakan datang dalam waktu hanya tujuh hari. Tapi aku yakin cinta akan
tumbuh seiring waktu. Aku tak mau lagi menghabiskan waktu untuk menanti Bram
menyatakan cinta padaku. Aku akan mencoba mencintai orang yang telah lebih dulu
mencintaiku. Itu lebih baik.
Separuh
hatiku masih bimbang, tapi separuh yang lain merasa yakin akan diri lelaki yang
meminangku. Keyakinan yang timbul setelah aku bertemu dengannya secara
langsung. Semalam aku diantar pulang. Hatiku letih, penat dan berbagai rasa
mendera. Wajahku terlihat sangat pucat. Dia berulang kali menanyakan kondisiku
dengan nada cemas. Kujawab hanya dengan gelengan kepala.
Sampai
dengan pagi ini penat terus menderaku. Aku masih berdiri di ambang dilema. Jika
kuterima, Nala akan semakin membenciku. Jika kutolak, itu artinya aku
menyia-nyiakan hadiah yang Allah sediakan. Hiks...
Kulangkahkan
kaki dengan gontai menuju ruangan di lantai tiga. Aku sudah berniat untuk
meminta ketegasan dari Nala. Jika dia tidak mengijinkan, maka aku tak akan
meneruskannya hingga ia bisa memberi restu.
“Nala mana,
Mbak?” tanyaku pada Mbak Enny demi melihat meja kerja Nala kosong. Tidak
biasanya ia belum datang jam segini. Nala itu tipe yang sangat disiplin.
“Ijin, Sya.
Memangnya ga bilang sama kamu?” tanya Mbak Enny.
Hiks...
Bahkan aku sudah tidak bicara dengannya selama dua hari ini, Mbak. Namun
aku hanya bisa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Mbak Enny.
Kuhempaskan
tubuhku di kursi. Kubiarkan tas dan jaketku tergeletak di meja. Hilang sudah
kesempatanku bicara dengan Nala. Padahal nanti malam aku harus segera memberi
jawaban pada lelaki itu.
“Sya, ada
telepon tuh.” Mbak Enny bersuara lagi.
Aku bahkan
tak mendengar dering telepon itu. Lampu indikatornya berkelip-kelip. Tanda ada
telepon masuk untukku.
“Ya?”
“Thasya? Ini
aku, Nala.”
Alhamdulillah...
“Ada apa,
La?”
“Kamu yang sabar
ya, Sya?” Nala mulai terisak.
Hah? Ada apa sih? Kenapa Nala harus nangis? Firasatku mulai tak enak.
“Ada apa, La?
Kenapa kamu nangis?” tanyaku mulai panik.
Nala
menghela napas sejenak. “Sya, Mas Prama kecelakaan. Kondisinya cukup parah...”
Hatiku
mencelos. Kecelakaan? Parah? Inikah
teguran untukku dari Allah karena telah menyia-nyiakan seseorang yang ingin
menjalin ukhuwah suci denganku? Inikah yang aku dapatkan setelah berjuang
selama tujuh hari untuk menaklukan hatiku agar bisa menerimanya? Ya Allah...
“...
kebetulan tadi aku lewat. Ternyata dia, Sya. Kamu bisa kesini? Aku masih di
lokasi kejadian. Kamu tahu kan daerah...” Aku masih mendengar sayup suara Nala
menyebutkan lokasinya. Ya, aku tahu tempat itu. sebuah tempat yang sangat aku
idamkan untuk kujadikan tempat sakral kala calon suamiku mengucap ijab kabul
kelak.
Logikaku
berhenti, berganti dengan perasaan khawatir dan rasa bersalah yang menyesak di
dada. Kutelepon taksi dan memintanya segera mengirimkan satu armada ke
kantorku. Aku tergesa menyambar jaket dan tas.
“Mbak Enny,
aku ijin ya? Calon suamiku kecelakaan.”
Setelah itu
aku melesat menuju bagian depan kantor, menanti taksi datang dengan gelisah.
Baru kali ini aku merasa waktu berjalan sangat lambat. Aku tak ingin menyesal.
Aku ingin menemuinya di saat terakhirnya. Kan kuucap cinta meski hanya sedetik
saja. Ijinkanlah, wahai Rabb...
Handphoneku
tak berhenti berdering. Puluhan sms masuk dari Ummi, Kak Ayu dan Abi. Aku
semakin di landa cemas yang tak karuan. Kuminta supir taksi mempercepat laju
kendaraannya, tapi aku terhambat oleh kemacetan. Yang bisa kulakukan hanya
istighfar sebanyak mungkin.
Aku tiba di
halaman masjid. Keadaan sudah ramai. Banyak kendaraan dan kerumunan orang di
sana. Tak kupedulikan lagi apa keperluan mereka. Aku harus segera mencarinya.
Aku harus segera bilang bahwa aku menerima pinangannya.
“Sya!”
teriak Nala. Ia berlari menghampiriku kemudian memelukku dengan erat.
“La, gimana?
Apa yang terjadi?” aku mulai terbata. Airmataku jatuh tanpa kuminta.
Nala
membimbingku menuju bagian dalam masjid. Kulihat Ummi, Abi, Kak Ayu dan
beberapa orang lain sudah hadir di sana. Tidak ada sosok tubuh
berselimut kain di tengah ruangan sejauh aku memandang. Kemanakah dia?
Ummi
menyongsongku dan memelukku erat disusul Kak Ayu. Mereka tidak
mengucapkan apa pun. Hanya memelukku erat yang sambil membelai punggungku.
Pandanganku semakin nanar. Aku tidak menemukan sosok yang aku
cari. Apa aku terlambat?
“Mana
Mas Prama, Ummi?” tanyaku.
Umi masih tidak melepaskan pelukannya.
“Mas Prama…” aku memanggil namanya lebih keras.
Tidak ada sahutan sama sekali.
“Mas Prama…” aku menjerit.
Tetap tak ada suara yang menjawab.
“Kau jahat,
Mas. Kenapa kau tinggalkan aku di saat aku sudah semakin mantab padamu? Kau
bilang akan menungguku sampai hari ini? Ayo bangun, Mas. Bilang kalau ini hanya
candaanmu.” Aku semakin histeris.
Ummi
memelukku dari belakang. Aku meronta minta di lepaskan.
“Mas
Prama, aku ingin bilang aku mau menjadi istrimu,
Mas…” Jeritku. Aku memeluk Ummi dan
terisak. Sesak rasanya. Inikah kehilangan? Padahal aku ingin sekali bermanja
padanya. Mendengar lagi kalimat-kalimat manis dari bibirnya.
Ummi
mengendurkan pelukannya. Bersamaan dengan itu, kurasakan sebuah pelukan erat.
Tangan yang kokoh memelukku dari belakang. Membelai kepalaku yang terbalut
jilbab.
“Kalau begitu, kalian
segera menikah saja.”
Suara ini? Abi?
Apa maksudnya?
Abi bergeser, membiarkan seseorang masuk dalam jarak
pandangku. Membuat aku terpaku. Loh? Bukannya dia kecelakaan? Kenapa dia berdiri
disana? Berpakaian rapi? Apa itu arwahnya? Ah, tidak mungkin.
Tanpa kusadari
keadaan telah berubah. Tepuk tangan membahana. Rupanya ini hanya sebuah siasat
darinya. Ah, aku terjebak lagi. Kususut airmataku, kupasang wajah marah. Namun
dia tetap tersenyum. Pak penghulu telah siap pula disana. Uh, betapa malunya
aku.
Aaaaarrrggghh... kejutan yang memalukan tapi membahagiakan.
Usut punya usut,
ternyata ini semua sudah di rencanakannya, TPM bersama Nala. Dan mereka
berhasil membuat aku terjebak. Tak lama Nala datang padaku dan mengatakan
kalimat yang tak akan pernah aku lupa.
"Sya, mana
mungkin aku marah sama kamu. Aku sudah bilang, kalau kamu bahagia, aku pasti
ikutan bahagia. Aku merestuimu dan Prama. Semoga kalian menjadi sakinah.
amin."
0 komentar:
Posting Komentar