Rabu, 22 Mei 2019

Maaf, Dia Memilihku (Part 6)

Hari keenam…

Aku berkaca, mematut diri. Kubenahi jilbabku yang sebenarnya tak miring. Aku suka sekali berlama-lama bercermin, memandang pantulan wajahku yang balik menatapku. Mereka benar, orang-orang benar, aku jauh dari cantik, aku jauh dari sempurna secara fisik karena ukuran tubuhku yang membulat. Tapi aku suka pipi dan mataku yang lucu –menurutku-.
Aku yang tak cantik ini sedang sedih dibalik kebahagiaan dilamar seorang pria. Sedihku karena salah pahamku dengan Nala ternyata belum selesai. Nala menolak berbicara denganku usai makan siang kemarin. Dia jelas-jelas menghindariku. Dia bahkan menyuruh OB meletakkan file di mejaku padahal jarak meja kerja kami hanya tiga langkah. Ouh… 
Lengkap sudah penderitaanku. Tak cantik, tak punya teman pula. Tapi aku sungguh beruntung masih ada Ummi, Abi dan Kak Ayu yang terus mendukungku. Bukankah Ummi dan Kak Ayu selalu mengajarkan aku untuk bersyukur terhadap segala yang telah kumiliki? Ah, astaghfirullah
“Sya, masih lama ya?” teriak Kak Ayu sembari mengetuk pintu kamar.
“Bentar lagi, Kak!” jawabku sambil teriak pula.
“Kalo gitu buruan turun! Ada yang jemput kamu noooh.” Balas Kak Ayu tak kalah kerasnya.
“Kalian ini perempuan kok teriak-teriak sih? Pagi-pagi pula.” Kali ini suara sopran Ummi terdengar dari dapur. Eh, lah itu Ummi juga teriak. Hihihi…
Kak Ayu tadi bilang ada yang menjemputku? Siapa ya? Selama ini aku tak pernah ada yang menjemput kecuali kalau mendesak. Itu pun di jemput supir kantor yang sudah dikenal semua orang di rumah ini.
Kupastikan dulu penampilanku pagi ini kemudian buru-buru menyambar ransel dan berlari keluar kamar. Aku melewati ruang makan, tak menghiraukan panggilan ummi dan iming-iming nasi gorengnya. Aku melesat menuju ruang tamu.
Di dekat jendela, seorang lelaki besandar di tembok. Sosoknya terasa asing meski aku merasa pernah bertemu dengannya. Dia asik menatap keluar hingga aku hanya bisa menatap punggungnya. Dadaku berdesir norak.
“Thasyaaaa!!!” ummi mulai ngerock. Kesal karena sejak tadi aku tak menghiraukan panggilan beliau.
Kuurungkan niat untuk menyapanya. Aku berbalik menuju ruang makan, mengambil tempat di sebelah kak Ayu dan menunggu ummi menghidangkan nasi goreng untukku.
 “Itu..” ucapanku terpotong.
 “Kenapa ga diajak makan aja sekalian, Mi?” Tanya kak Ayu. Kulihat Ummi tersenyum dan mengangguk.
 “Sana, Ayu coba ajak … (ummi menyebut nama TPM) makan sekalian.”
Kalimat Ummi membuat aku tersedak nasi goreng yang baru satu suapan. Cepat-cepat kuteguk air minum.
“Siapa, Ummi?” tanyaku.
Ummi menatapku dengan dahi berkerut. “Loh? Kamu belum ketemu dia, Neng? Kirain tadi udah. Dia bilang dia mau jemput kamu. Waktu ummi tanya dia siapa, dia sebutkan namanya dan bilang kalau dia calon suami kamu. Bener, Neng?”
Glek!
Pantesan aku merasa pernah melihatnya. Tentu saja. Belakangan ini aku sering mencuri waktu untuk melihat profilnya. Kujelajahi album fotonya, kuhapal info tentangnya sebisaku. Meski bisa saja info itu palsu.
Tak lama Kak Ayu muncul bersamanya. Sialnya, dia duduk di hadapanku. Membuat aku terus tertunduk sepanjang acara sarapan pagi itu. Untung saja Abi sedang ke luar kota. Kalau tidak, tentu aku sudah diledek beliau sampai menangis. Kubiarkan saja Kak Ayu dan Ummi bercanda dengannya. Sementara aku hanya jadi pengamat saja.
 Kini, aku sudah duduk manis di sampingnya yang mengemudikan mobil menuju kantorku. Jantungku mendadak berisik. Aku berkali-kali melirik wajahku di kaca, takut kelihatan tersipu norak.
 “Kok diam?” tanyanya.
Duuuh, ini suara aslinya. Ups…
 “Memang aku harus bagaimana? Loncat-loncat?” nadaku terdengar judes. Dia tertawa.
“Ga surprise liat aku di sini sekarang?”
Surprise, tapi kan tenggat waktu untuk menjawab sampai besok. Mas ga sabar banget sih?”
 “Ih, siapa bilang aku ke sini menagih jawaban dari kamu? Aku hanya ingin melihat wajah calon istriku.”
 Rayuan pulau kelapa. Huweek..
 “Dan aku harap Mas kecewa setelah melihat aku yang tak cantik seperti ini.” Jawabku. Mobil sudah dekat sekali dengan kantor.
 Dia tersenyum. Menatapku intens, membuat aku tertunduk lagi. Aku takut jatuh cinta pada tatapan matanya. Mata yang setenang air di danau.
 “Aku tak pernah menilai cantik berdasarkan fisik. Aku menilainya dari hati. Insyaallah Adek punya semua kriteria yang aku idamkan.” Bisiknya.
 Blushing. Pipiku pasti merona mendengarnya. Mobil sudah berhenti di depan kantor dan aku bergegas turun. Dia sempat bilang akan menjemputku sepulang kerja sebelum aku menutup pintu mobil dan berlalu.
 Norak! Norak! Hatiku ribut berteriak. Tapi aku tak peduli. Aku terus melangkah menuju ruang kerja di lantai tiga. Ketika aku sampai di sana, Nala sedang menatap keluar jendela.

Hatiku mencelos. Jendela itu menghadap ke jalan raya. Dari jendela itu bisa melihat mobil yang keluar masuk bahkan berhenti di depan kantor.

0 komentar:

Posting Komentar