Hari keenam…
Aku berkaca, mematut diri. Kubenahi jilbabku
yang sebenarnya tak miring. Aku suka sekali berlama-lama bercermin, memandang
pantulan wajahku yang balik menatapku. Mereka benar, orang-orang benar, aku
jauh dari cantik, aku jauh dari sempurna secara fisik karena ukuran tubuhku
yang membulat. Tapi aku suka pipi dan mataku yang lucu –menurutku-.
Aku yang tak cantik ini sedang sedih dibalik
kebahagiaan dilamar seorang pria. Sedihku karena salah pahamku dengan Nala
ternyata belum selesai. Nala menolak berbicara denganku usai makan siang
kemarin. Dia jelas-jelas menghindariku. Dia bahkan menyuruh OB meletakkan file
di mejaku padahal jarak meja kerja kami hanya tiga langkah. Ouh…
Lengkap sudah penderitaanku. Tak cantik, tak
punya teman pula. Tapi aku sungguh beruntung masih ada Ummi, Abi dan Kak Ayu
yang terus mendukungku. Bukankah Ummi dan Kak Ayu selalu mengajarkan aku untuk
bersyukur terhadap segala yang telah kumiliki? Ah, astaghfirullah…
“Sya, masih lama ya?” teriak Kak Ayu sembari
mengetuk pintu kamar.
“Bentar lagi, Kak!” jawabku sambil teriak
pula.
“Kalo gitu buruan turun! Ada yang jemput kamu
noooh.” Balas Kak Ayu tak kalah kerasnya.
“Kalian ini perempuan kok teriak-teriak sih?
Pagi-pagi pula.” Kali ini suara sopran Ummi terdengar dari dapur. Eh, lah itu
Ummi juga teriak. Hihihi…
Kak Ayu tadi bilang ada yang menjemputku?
Siapa ya? Selama ini aku tak pernah ada yang menjemput kecuali kalau mendesak.
Itu pun di jemput supir kantor yang sudah dikenal semua orang di rumah ini.
Kupastikan dulu penampilanku pagi ini kemudian
buru-buru menyambar ransel dan berlari keluar kamar. Aku melewati ruang makan,
tak menghiraukan panggilan ummi dan iming-iming nasi gorengnya. Aku melesat
menuju ruang tamu.
Di dekat jendela, seorang lelaki besandar di
tembok. Sosoknya terasa asing meski aku merasa pernah bertemu dengannya. Dia
asik menatap keluar hingga aku hanya bisa menatap punggungnya. Dadaku berdesir
norak.
“Thasyaaaa!!!” ummi mulai ngerock.
Kesal karena sejak tadi aku tak menghiraukan panggilan beliau.
Kuurungkan niat untuk menyapanya. Aku berbalik
menuju ruang makan, mengambil tempat di sebelah kak Ayu dan menunggu ummi
menghidangkan nasi goreng untukku.
“Itu..” ucapanku terpotong.
“Kenapa ga diajak makan aja sekalian,
Mi?” Tanya kak Ayu. Kulihat Ummi tersenyum dan mengangguk.
“Sana, Ayu coba ajak … (ummi menyebut
nama TPM) makan sekalian.”
Kalimat Ummi membuat aku tersedak nasi goreng
yang baru satu suapan. Cepat-cepat kuteguk air minum.
“Siapa, Ummi?” tanyaku.
Ummi menatapku dengan dahi berkerut. “Loh?
Kamu belum ketemu dia, Neng? Kirain tadi udah. Dia bilang dia mau jemput kamu.
Waktu ummi tanya dia siapa, dia sebutkan namanya dan bilang kalau dia calon
suami kamu. Bener, Neng?”
Glek!
Pantesan aku merasa pernah melihatnya. Tentu
saja. Belakangan ini aku sering mencuri waktu untuk melihat profilnya.
Kujelajahi album fotonya, kuhapal info tentangnya sebisaku. Meski bisa saja
info itu palsu.
Tak lama Kak Ayu muncul bersamanya. Sialnya,
dia duduk di hadapanku. Membuat aku terus tertunduk sepanjang acara sarapan
pagi itu. Untung saja Abi sedang ke luar kota. Kalau tidak, tentu aku sudah diledek beliau sampai menangis. Kubiarkan saja Kak Ayu dan Ummi bercanda
dengannya. Sementara aku hanya jadi pengamat saja.
Kini, aku sudah duduk manis di
sampingnya yang mengemudikan mobil menuju kantorku. Jantungku mendadak berisik.
Aku berkali-kali melirik wajahku di kaca, takut kelihatan tersipu norak.
“Kok diam?” tanyanya.
Duuuh, ini suara aslinya. Ups…
“Memang aku harus bagaimana?
Loncat-loncat?” nadaku terdengar judes. Dia tertawa.
“Ga surprise liat aku di sini
sekarang?”
“Surprise, tapi kan tenggat waktu untuk
menjawab sampai besok. Mas ga sabar banget sih?”
“Ih, siapa bilang aku ke sini menagih
jawaban dari kamu? Aku hanya ingin melihat wajah calon istriku.”
Rayuan pulau kelapa. Huweek..
“Dan aku harap Mas kecewa setelah
melihat aku yang tak cantik seperti ini.” Jawabku. Mobil sudah dekat sekali
dengan kantor.
Dia tersenyum. Menatapku intens, membuat
aku tertunduk lagi. Aku takut jatuh cinta pada tatapan matanya. Mata yang setenang
air di danau.
“Aku tak pernah menilai cantik
berdasarkan fisik. Aku menilainya dari hati. Insyaallah Adek punya semua kriteria
yang aku idamkan.” Bisiknya.
Blushing. Pipiku pasti
merona mendengarnya. Mobil sudah berhenti di depan kantor dan aku bergegas
turun. Dia sempat bilang akan menjemputku sepulang kerja sebelum aku menutup
pintu mobil dan berlalu.
Norak! Norak! Hatiku ribut
berteriak. Tapi aku tak peduli. Aku terus melangkah menuju ruang kerja di
lantai tiga. Ketika aku sampai di sana, Nala sedang menatap keluar jendela.
Hatiku mencelos. Jendela itu menghadap ke
jalan raya. Dari jendela itu bisa melihat mobil yang keluar masuk bahkan
berhenti di depan kantor.
0 komentar:
Posting Komentar