Hari keempat...
Dear Diary,
Mungkin sebagian orang merasa aneh kalau di usiaku yang sudah hampir seperempat abad
masih saja menulis buku harian. Tapi inilah aku. Aku bukan tipe extrovert.
Tidak semua yang ada di hati bisa kubicarakan dengan orang lain. Untuk hal-hal
tertentu aku malah lebih senang mencoret-coret halamanmu yang semakin lama
semakin gendut ya, Ry? Hehe... Lagipula aku teringat pesan seorang penulis asal
Malang saat usiaku masih 12 tahun, agar bisa menjadi penulis yang baik,
mulailah dengan menulis buku harian. Dan kebiasaan itu aku lakukan sampai
sekarang.
Berapa hari ya aku
tak lagi menarikan pena di atasmu? Hem.. empat hari. Ya, empat hari tepat sejak
kekacauan ini timbul. Kacau karena seorang pria nekat yang membuat hatiku
merinding.
Sampai hari
keempat aku masih juga belum menemukan kemantapan akan pinangannya. Aku tahu
dia serius, tapi entah kenapa sosok Bram tak jua pergi dari ingatanku. Semakin
keras aku berusaha melupakannya, semakin kuat ia menempel dalam benakku. Aku
jadi bertanya-tanya, dia menggunakan lem apa sih hingga aku tak bisa melepaskan
diri dari bayangannya? Hiks...
Siang ini aku
bercengkerama (ga mesra) dengan TPM. Tau kan? The Prabumulih Man. Aku mencari
ketulusan dari nada suaranya karena tak mungkin menatap matanya. Aku
menginginkan ketegasan dalan setiap kata-katanya. Aku harus benar-benar cermat.
Jangan sampai menyesal untuk sebuah keputusan besar.
Aku, lagi-lagi,
bertanya tentang keseriusannya. Dan dia bilang dia serius. Dia sudah
memikirkannya matang-matang. Restu dari orang tuanya pun sudah turun. Hanya
tinggal menanti jawaban dariku sebagai calon istrinya. Dia juga bilang, “Aku
tak peduli masa lalumu. Aku mencintaimu karena Allah dan insyaallah akan bisa
menerima segala yang ada pada dirimu.”
Hiks, aku meleleh,
Ry. Baru kali ini aku mendengar seorang pria bilang cinta dan itu ditujukan
padaku. Aku tersanjung, tapi segera kukuasai diri. Kata-kata saja tak akan
cukup. Harus ada bukti.
“Gimana aku bisa
membuktikan keseriusanku, Nyonya ... (Dia menyebutkan nama belakangnya)?
Sementara pinanganku belum terjawab.”
Hihihihi...
rasanya lucu kalau di belakang namaku akan muncul nama baru, namanya. Tapi tak
urung panggilan itu menggetarkan hatiku. Duh, aku merasa mulai tak setia pada
Bram nih, Ry.
By the way, tadi
aku juga ketemu Bram secara ga sengaja di Mall ketika sedang mencari kado. Dia
berjalan sendirian seperti biasa. Akhirnya kami sempatkan mampir di foodcourt
sambil ngobrol dan ngopi (aku ngeteh ding. Hehe...).
Ry, dia makin
cakep aja. Sedikit lebih segar dibanding sebelumnya dan tetap dingin. Sedingin
beruang kutub. Lebih banyak diam dan akhirnya aku yang salah tingkah. Selalu
begitu. Dia tak tampak ingin memulai obrolan. Jadilah aku yang harus memutar
otak untuk mengajaknya bicara.
Ry, aku berdiri di
sampingnya dan merasa kecil sekali. Sebenarnya dia tidak terlalu tinggi untuk
ukutan laki-laki. Tapi karena aku yang mungil jadinya aku seperti kurcaci di
sampingnya. Hihihi... aku harus mendongak untuk bisa menatap wajahnya.
Ry, untuk pertama
dan terakhir kalinya, hari itu aku bersama Bram seharian. Dari siang sampai
senja. Aku menemukan pesona sendu nan teduh di matanya. Aku terkesima setiap
kali ia tersenyum dan merasa dunia ini sunyi ketika ia bicara. aku bisa
mendengar suaranya, bahkan tarikan nafasnya. Telingaku menjadi sensitif
terhadap dirinya.
Aku memutuskan
untuk bertanya padanya. Bertanya tentang perasaannya padaku, Ry. Agar kelak aku
tak menyesal telah melepaskannya. Kau benar, Ry. Aku sudah mempertimbangkan
pinangan TPM baik-baik. Bukan aji mumpung, mumpung ada yang ngelamar terus di
terima. Enggak Ry. Empat hari ini aku sadar akan sesuatu yang tak bisa datang
dengan cepat dan perlu di hargai. Toh cinta akan tumbuh seiring waktu.
“Bram, boleh aku
tanya?”
Dia mengangguk dan
tersenyum.
“Selama ini kita
sudah sangat dekat bukan? Apa kau nyaman bersamaku?”
Bram tertawa.
“Justru aku yang harus tanya. Apa kau nyaman bersama orang aneh sepertiku?”
“Jangan selalu
memandang rendah dirimu, Bram. Jawab pertanyaanku.”
“Selama ini aku
cukup nyaman bersamamu. Kenapa memangnya?”
“Aku harus jujur
bahwa aku tak nyaman, Bram. Kita sudah sangat dekat tanpa ikatan hubungan apa
pun. Kini saatnya aku bertanya tentang kejujuranmu, bagaimana perasaanmu
terhadapku?” tanyaku pasti. Dia terdiam, Ry. Mungkin seharusnya aku tak
menanyakannya karena aku sudah tahu pasti jawabannya.
“Untuk apa, Sya?”
“Penting untukku,
Bram. Aku tak ingin selamanya terpenjara dalam rasa yang tak ada ujungnya.”
Dia menghela
napas. “Aku tak tahu, Sya. Aku hanya tahu aku nyaman bersamamu. Tak ada pikiran
untuk menjauh atau pun melangkah ke kehidupan lain bersamamu.”
Jleb!
Kejujurannya
menghujam hatiku, Ry. Aku bisa apa kalau dia sudah bilang begitu? Hiks...
Baiklah. Bismillah, semoga keputusanku tak salah.
“Bram, aku akan
segera menikah.”
Dia tetap datar.
Tak ada kesan terkejut sama sekali.
“Selamat...”
Hanya itu? Tak
tahukah kalau hati ini menjerit menginginkan dia melarangku menikah dan bilang
kalau dia cinta padaku?
Dan kini aku
memang harus melepasnya, Ry. Melepaskan Bram yang selalu mengisi hatiku. Aku
tak ingin melangkah ke hidup baru dengan membawa bayangan lama. Semoga aku bisa
ya, Ry? Amiin.
0 komentar:
Posting Komentar