Senin, 20 Mei 2019

Maaf, Dia memilihku (Part 4)

Hari keempat...

Dear Diary,
Mungkin sebagian orang merasa aneh kalau di usiaku yang sudah hampir seperempat abad masih saja menulis buku harian. Tapi inilah aku. Aku bukan tipe extrovert. Tidak semua yang ada di hati bisa kubicarakan dengan orang lain. Untuk hal-hal tertentu aku malah lebih senang mencoret-coret halamanmu yang semakin lama semakin gendut ya, Ry? Hehe... Lagipula aku teringat pesan seorang penulis asal Malang saat usiaku masih 12 tahun, agar bisa menjadi penulis yang baik, mulailah dengan menulis buku harian. Dan kebiasaan itu aku lakukan sampai sekarang.
Berapa hari ya aku tak lagi menarikan pena di atasmu? Hem.. empat hari. Ya, empat hari tepat sejak kekacauan ini timbul. Kacau karena seorang pria nekat yang membuat hatiku merinding.
Sampai hari keempat aku masih juga belum menemukan kemantapan akan pinangannya. Aku tahu dia serius, tapi entah kenapa sosok Bram tak jua pergi dari ingatanku. Semakin keras aku berusaha melupakannya, semakin kuat ia menempel dalam benakku. Aku jadi bertanya-tanya, dia menggunakan lem apa sih hingga aku tak bisa melepaskan diri dari bayangannya? Hiks...
Siang ini aku bercengkerama (ga mesra) dengan TPM. Tau kan? The Prabumulih Man. Aku mencari ketulusan dari nada suaranya karena tak mungkin menatap matanya. Aku menginginkan ketegasan dalan setiap kata-katanya. Aku harus benar-benar cermat. Jangan sampai menyesal untuk sebuah keputusan besar.
Aku, lagi-lagi, bertanya tentang keseriusannya. Dan dia bilang dia serius. Dia sudah memikirkannya matang-matang. Restu dari orang tuanya pun sudah turun. Hanya tinggal menanti jawaban dariku sebagai calon istrinya. Dia juga bilang, “Aku tak peduli masa lalumu. Aku mencintaimu karena Allah dan insyaallah akan bisa menerima segala yang ada pada dirimu.”
Hiks, aku meleleh, Ry. Baru kali ini aku mendengar seorang pria bilang cinta dan itu ditujukan padaku. Aku tersanjung, tapi segera kukuasai diri. Kata-kata saja tak akan cukup. Harus ada bukti.
“Gimana aku bisa membuktikan keseriusanku, Nyonya ... (Dia menyebutkan nama belakangnya)? Sementara pinanganku belum terjawab.”
Hihihihi... rasanya lucu kalau di belakang namaku akan muncul nama baru, namanya. Tapi tak urung panggilan itu menggetarkan hatiku. Duh, aku merasa mulai tak setia pada Bram nih, Ry.
By the way, tadi aku juga ketemu Bram secara ga sengaja di Mall ketika sedang mencari kado. Dia berjalan sendirian seperti biasa. Akhirnya kami sempatkan mampir di foodcourt sambil ngobrol dan ngopi (aku ngeteh ding. Hehe...).
Ry, dia makin cakep aja. Sedikit lebih segar dibanding sebelumnya dan tetap dingin. Sedingin beruang kutub. Lebih banyak diam dan akhirnya aku yang salah tingkah. Selalu begitu. Dia tak tampak ingin memulai obrolan. Jadilah aku yang harus memutar otak untuk mengajaknya bicara.
Ry, aku berdiri di sampingnya dan merasa kecil sekali. Sebenarnya dia tidak terlalu tinggi untuk ukutan laki-laki. Tapi karena aku yang mungil jadinya aku seperti kurcaci di sampingnya. Hihihi... aku harus mendongak untuk bisa menatap wajahnya.
Ry, untuk pertama dan terakhir kalinya, hari itu aku bersama Bram seharian. Dari siang sampai senja. Aku menemukan pesona sendu nan teduh di matanya. Aku terkesima setiap kali ia tersenyum dan merasa dunia ini sunyi ketika ia bicara. aku bisa mendengar suaranya, bahkan tarikan nafasnya. Telingaku menjadi sensitif terhadap dirinya.
Aku memutuskan untuk bertanya padanya. Bertanya tentang perasaannya padaku, Ry. Agar kelak aku tak menyesal telah melepaskannya. Kau benar, Ry. Aku sudah mempertimbangkan pinangan TPM baik-baik. Bukan aji mumpung, mumpung ada yang ngelamar terus di terima. Enggak Ry. Empat hari ini aku sadar akan sesuatu yang tak bisa datang dengan cepat dan perlu di hargai. Toh cinta akan tumbuh seiring waktu.
“Bram, boleh aku tanya?”
Dia mengangguk dan tersenyum.
“Selama ini kita sudah sangat dekat bukan? Apa kau nyaman bersamaku?”
Bram tertawa. “Justru aku yang harus tanya. Apa kau nyaman bersama orang aneh sepertiku?”
“Jangan selalu memandang rendah dirimu, Bram. Jawab pertanyaanku.”
“Selama ini aku cukup nyaman bersamamu. Kenapa memangnya?”
“Aku harus jujur bahwa aku tak nyaman, Bram. Kita sudah sangat dekat tanpa ikatan hubungan apa pun. Kini saatnya aku bertanya tentang kejujuranmu, bagaimana perasaanmu terhadapku?” tanyaku pasti. Dia terdiam, Ry. Mungkin seharusnya aku tak menanyakannya karena aku sudah tahu pasti jawabannya.
“Untuk apa, Sya?”
“Penting untukku, Bram. Aku tak ingin selamanya terpenjara dalam rasa yang tak ada ujungnya.”
Dia menghela napas. “Aku tak tahu, Sya. Aku hanya tahu aku nyaman bersamamu. Tak ada pikiran untuk menjauh atau pun melangkah ke kehidupan lain bersamamu.”
Jleb!
Kejujurannya menghujam hatiku, Ry. Aku bisa apa kalau dia sudah bilang begitu? Hiks... Baiklah. Bismillah, semoga keputusanku tak salah.
“Bram, aku akan segera menikah.”
Dia tetap datar. Tak ada kesan terkejut sama sekali.
“Selamat...”
Hanya itu? Tak tahukah kalau hati ini menjerit menginginkan dia melarangku menikah dan bilang kalau dia cinta padaku?

Dan kini aku memang harus melepasnya, Ry. Melepaskan Bram yang selalu mengisi hatiku. Aku tak ingin melangkah ke hidup baru dengan membawa bayangan lama. Semoga aku bisa ya, Ry? Amiin.

0 komentar:

Posting Komentar