Vinna
benci sekali ketika ayah dan ibu pergi. Itu artinya dia hanya berdua saja di
rumah bersama Kak Sherly. Sebetulnya bertiga dengan Mbak Saras, asisten rumah
tangga mereka, tapi tetap saja dia yang kebagian tugas untuk menemani Kak
Sherly. Vinna jadi tidak bisa bermain ke taman, bersepeda dan lain-lain. Kak
Sherly tidak mungkin ditinggal sendiri.
Siang
ini, Vinna membawa sebagian tugasnya ke ruang tengah, sementara Kak Sherly sedang
menonton televisi. Tugas yang ia kerjakan adalah tugas untuk mata pelajaran
Seni, Budaya dan Keterampilan. Bu Guru meminta murid-murid kelas IV untuk
membuat kolase atau mozaik seindah mungkin. Vinna memilih kolase untuk tugas
kali ini.
Vinna
jago menggambar. Sketsa pemandangan pantai sudah dibuat, tinggal menempelnya
dengan kertas lipat beraneka warna. Dia sudah menggunting bulatan kecil untuk
matahari. Dua bulatan, kuning untuk bagian luar dan orens untuk bagian dalam.
Keduanya akan mengesankan matahari sedang bersinar terik di langit biru.
Vinna juga
sudah menggunting kertas hijau dan cokelat untuk pohon di tepi pantai. Awan
berwarma biru muda pun sudah siap.
"Itu
apa?" Tiba-tiba Kak Sherly sudah berada di sampingnya. Televisi masih
menyala, tapi sepertinya Kak Sherly lebih tertarik pada pekerjaan Vinna.
"Tugas."
Jawab Vinna. Tangannya sibuk menempel.
Kak
Sherly meraih gunting yang tak jauh dari Vinna. Vinna segera meraih gunting
dari tangan kakaknya dan menyembunyikannya.
"Ibu
bilang, kakak enggak boleh mainan gunting. Bahaya." Vinna mengingatkan.
Kak
Sherly tidak mendengarkan. Dia sudah asik memainkan sisa potongan kertas yang
berserakan. Vinna pun sudah kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aduh,
mana ya bulatan untuk mataharinya?" Vinna bergumam. Dia kehilangan dua
bulatan kuning dan orens untuk mataharinya. Dia yakin tadi meletakkannya di
dekat botol lem. Tapi tidak ada.
Ternyata
dua bulatan itu sudah berada di tangan Kak Sherly. Satu bulatan sudah berubah
bentuk menjadi setengah lingkaran, sobek. Dan satunya lagi sudah kusut tak
karuan.
"Kakaaak...
itu... itu..." Vinna tak bisa melanjutkan kalimatnya. Kakaknya menatap
dengan pandangan tidak mengerti.
Akhirnya
Vinna mengalah, memutuskan untuk membuat lagi. Toh tidak susah. Hanya perlu
menggunting dua bulatan berbeda ukuran. Bulatan itu pun bisa digambar
menggunakan jangka.
"Kakak,
jangan sentuh tugas Vinna ya? Vinna mau ambil jangka di kamar." Pesan
Vinna. Kak Sherly menganggukkan kepala.
Vinna
beranjak ke kamarnya, mengambil jangka di atas meja belajar. Saat kembali, dia
terkejut melihat Kak Sherly sedang asik bermain dengan lem dan kertas. Dan ia
menempelkan kertas-kertas mainannya diatas tugas Vinna.
"Kak
Sherly!!!" Jerit Vinna.
Bukan
hanya Kak Sherly yang terkejut dengan jeritan Vinna. Mbak Saras yang sedari
tadi sibuk di belakang setengah berlari menghampiri mereka berdua.
"Ada
apa, Vinna?" Tanya Mbak Saras.
Wajar
Vinna memerah, menahan tangis. Tugas yang sudah dia kerjakan kini hancur
berantakan.
"Sudah
Vinna bilang jangan sentuh tugas Vinna, 'kan?" Masih dengan nada tinggi
Vinna bertanya pada kakaknya yang ketakutan.
"Enggak...enggak..."
rintih Sherly.
"Enggak
apa?!" Hardik Vinna. Kak Sherly semakin ketakutan.
"Lihat
tuh, tugas Vinna jadi rusak." Kali ini Vinnaa benar-benar tidak bisa
menahan isak tangisnya.
Mbak
Saras yang paham situasinya segera meraih tangan Sherly dan mengajaknya ke
belakang.
"Kak
Sherly sama Mbak saja di belakang. Biar Vinna bisa mengerjakan tugas."
Hibur Mbak Saras.
Masih
dengan sisa tangis, Vinna membereskan tugasnya yang sudah tak karuan,
memasukkannya dalam kantung plastik dan membuangnya. Terpaksa, dia harus
mengerjakan ulang.
"Aku
benci Kak Sherly." Desis Vinna.
Saat
menjelang makan siang, tugasnya baru separuh jadi. Masih ada beberapa bagian
yang belum ia tempel.
"Makan
dulu, Vinna." Panggil Mbak Saras.
Kali ini
Vinna membereskan tugasnya, meletakkannya diatas meja belajar agar Kak Sherly
tidak menyentuhnya. Pintu kamar juga ia kunci.
Mbak
Saras menyuguhkan sepiring nasi ketika Vinna tiba di meja makan. Lauknya soto
ayam kesukaannya, lengkap dengan kerupuk udang dan sambal.
Vinna
celingukan, mencari kakaknya. Biasanya kakaknya sudah duduk manis di kursi yang
ada di seberang kursinya. Dan Mbak Saras akan menyuapiya dengan telaten.
"Nyari
kakak ya?" Tanya Mbak Saras.
Vinna
mengangguk malu-malu.
"Kakak
sudah makan. Tadi Mbak Saras suapi di belakang. Sekarang sedang tidur di kamar
belakang." Jawab Mbak Saras.
Yang
dimaksud kamar belakang adalah kamar Mbak Saras.
"Vinna,
tahu enggak? Sebenarnya tadi Kak Sherly mau membantu Vinna mengerjakan
tugas." Cerita Mbak Saras.
Vinna
menggeleng. "Kak Sherly cuma mau mainan, Mbak." Bantahnya.
Mbak
Saras tersenyum. "Meski akhirnya merusak tugas Vinna, niat Kak Sherly
sebenarnya baik. Ingin membantu. Cuma karena Kak Sherly spesial, makanya
pemahamannya berbeda. Dia tidak sepenuhnya paham kalau tindakannya merusak.
Vinna tahu kan?"
Vinna
terdiam. Kalimat Mbak Saras barusan menyadarkannya sesuatu.
"Itu
cara Kak Sherly mengungkapkan rasa sayangnya ke Vinna." Tambah Mbak Sekar.
Vinna
masih terdiam.
"Vinna
sudah kelas empat. Mbak yakin, Vinna mengerti. Kak Sherly itu spesial. Dan itu
bukan atas keinginannya sendiri." Lanjut Mbak Saras.
Vinna
terisak. Kali ini menyadari ia salah. Seharusnya dia tak perlu marah. Toh tugas
itu mudah. Bisa dikerjakan lagi.
Vinna
lupa kalau kakaknya berbeda dengan orang lain. Kakaknya menderita down
syndrome. Dia akan takut pada suara keras. Kadang ketakutan itu akan
menyebabkan demam berhari-hari.
Seharusnya
ia tadi tidak marah. Terlebih pada kakaknya.
"Sekarang
makan dulu, ya? Nanti kalau Kak Sherly bangun, Vinna bisa minta maaf, 'kan?
Pasti Kak Sherly senang sekali." Hibur Mbak Saras.
Vinna
mengangguk. Dia berjanji akan minta maaf ketika Kak Sherly bangun dan akan
mengajaknya mengerjakan tugas bersama.
***

0 komentar:
Posting Komentar