Kamis, 21 September 2017

Kak Sherly (Majalah Bobo edisi 21, terbit 31 Agustus 2017)


Vinna benci sekali ketika ayah dan ibu pergi. Itu artinya dia hanya berdua saja di rumah bersama Kak Sherly. Sebetulnya bertiga dengan Mbak Saras, asisten rumah tangga mereka, tapi tetap saja dia yang kebagian tugas untuk menemani Kak Sherly. Vinna jadi tidak bisa bermain ke taman, bersepeda dan lain-lain. Kak Sherly tidak mungkin ditinggal sendiri.
Siang ini, Vinna membawa sebagian tugasnya ke ruang tengah, sementara Kak Sherly sedang menonton televisi. Tugas yang ia kerjakan adalah tugas untuk mata pelajaran Seni, Budaya dan Keterampilan. Bu Guru meminta murid-murid kelas IV untuk membuat kolase atau mozaik seindah mungkin. Vinna memilih kolase untuk tugas kali ini.
Vinna jago menggambar. Sketsa pemandangan pantai sudah dibuat, tinggal menempelnya dengan kertas lipat beraneka warna. Dia sudah menggunting bulatan kecil untuk matahari. Dua bulatan, kuning untuk bagian luar dan orens untuk bagian dalam. Keduanya akan mengesankan matahari sedang bersinar terik di langit biru.
Vinna juga sudah menggunting kertas hijau dan cokelat untuk pohon di tepi pantai. Awan berwarma biru muda pun sudah siap.
"Itu apa?" Tiba-tiba Kak Sherly sudah berada di sampingnya. Televisi masih menyala, tapi sepertinya Kak Sherly lebih tertarik pada pekerjaan Vinna.
"Tugas." Jawab Vinna. Tangannya sibuk menempel.
Kak Sherly meraih gunting yang tak jauh dari Vinna. Vinna segera meraih gunting dari tangan kakaknya dan menyembunyikannya.
"Ibu bilang, kakak enggak boleh mainan gunting. Bahaya." Vinna mengingatkan.
Kak Sherly tidak mendengarkan. Dia sudah asik memainkan sisa potongan kertas yang berserakan. Vinna pun sudah kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aduh, mana ya bulatan untuk mataharinya?" Vinna bergumam. Dia kehilangan dua bulatan kuning dan orens untuk mataharinya. Dia yakin tadi meletakkannya di dekat botol lem. Tapi  tidak ada.
Ternyata dua bulatan itu sudah berada di tangan Kak Sherly. Satu bulatan sudah berubah bentuk menjadi setengah lingkaran, sobek. Dan satunya lagi sudah kusut tak karuan.
"Kakaaak... itu... itu..." Vinna tak bisa melanjutkan kalimatnya. Kakaknya menatap dengan pandangan tidak mengerti.
Akhirnya Vinna mengalah, memutuskan untuk membuat lagi. Toh tidak susah. Hanya perlu menggunting dua bulatan berbeda ukuran. Bulatan itu pun bisa digambar menggunakan jangka.
"Kakak, jangan sentuh tugas Vinna ya? Vinna mau ambil jangka di kamar." Pesan Vinna. Kak Sherly menganggukkan kepala.
Vinna beranjak ke kamarnya, mengambil jangka di atas meja belajar. Saat kembali, dia terkejut melihat Kak Sherly sedang asik bermain dengan lem dan kertas. Dan ia menempelkan kertas-kertas mainannya diatas tugas Vinna.
"Kak Sherly!!!" Jerit Vinna.
Bukan hanya Kak Sherly yang terkejut dengan jeritan Vinna. Mbak Saras yang sedari tadi sibuk di belakang setengah berlari menghampiri mereka berdua.
"Ada apa, Vinna?" Tanya Mbak Saras.
Wajar Vinna memerah, menahan tangis. Tugas yang sudah dia kerjakan kini hancur berantakan.
"Sudah Vinna bilang jangan sentuh tugas Vinna, 'kan?" Masih dengan nada tinggi Vinna bertanya pada kakaknya yang ketakutan.
"Enggak...enggak..." rintih Sherly.
"Enggak apa?!" Hardik Vinna. Kak Sherly semakin ketakutan.
"Lihat tuh, tugas Vinna jadi rusak." Kali ini Vinnaa benar-benar tidak bisa menahan isak tangisnya.
Mbak Saras yang paham situasinya segera meraih tangan Sherly dan mengajaknya ke belakang.
"Kak Sherly sama Mbak saja di belakang. Biar Vinna bisa mengerjakan tugas." Hibur Mbak Saras.
Masih dengan sisa tangis, Vinna membereskan tugasnya yang sudah tak karuan, memasukkannya dalam kantung plastik dan membuangnya. Terpaksa, dia harus mengerjakan ulang.
"Aku benci Kak Sherly." Desis Vinna.
Saat menjelang makan siang, tugasnya baru separuh jadi. Masih ada beberapa bagian yang belum ia tempel.
"Makan dulu, Vinna." Panggil Mbak Saras.
Kali ini Vinna membereskan tugasnya, meletakkannya diatas meja belajar agar Kak Sherly tidak menyentuhnya. Pintu kamar juga ia kunci.
Mbak Saras menyuguhkan sepiring nasi ketika Vinna tiba di meja makan. Lauknya soto ayam kesukaannya, lengkap dengan kerupuk udang dan sambal.
Vinna celingukan, mencari kakaknya. Biasanya kakaknya sudah duduk manis di kursi yang ada di seberang kursinya. Dan Mbak Saras akan menyuapiya dengan telaten.
"Nyari kakak ya?" Tanya Mbak Saras.
Vinna mengangguk malu-malu.
"Kakak sudah makan. Tadi Mbak Saras suapi di belakang. Sekarang sedang tidur di kamar belakang." Jawab Mbak Saras.
Yang dimaksud kamar belakang adalah kamar Mbak Saras.
"Vinna, tahu enggak? Sebenarnya tadi Kak Sherly mau membantu Vinna mengerjakan tugas." Cerita Mbak Saras.
Vinna menggeleng. "Kak Sherly cuma mau mainan, Mbak." Bantahnya.
Mbak Saras tersenyum. "Meski akhirnya merusak tugas Vinna, niat Kak Sherly sebenarnya baik. Ingin membantu. Cuma karena Kak Sherly spesial, makanya pemahamannya berbeda. Dia tidak sepenuhnya paham kalau tindakannya merusak. Vinna tahu kan?"
Vinna terdiam. Kalimat Mbak Saras barusan menyadarkannya sesuatu.
"Itu cara Kak Sherly mengungkapkan rasa sayangnya ke Vinna." Tambah Mbak Sekar.
Vinna masih terdiam.
"Vinna sudah kelas empat. Mbak yakin, Vinna mengerti. Kak Sherly itu spesial. Dan itu bukan atas keinginannya sendiri." Lanjut Mbak Saras.
Vinna terisak. Kali ini menyadari ia salah. Seharusnya dia tak perlu marah. Toh tugas itu mudah. Bisa dikerjakan lagi.
Vinna lupa kalau kakaknya berbeda dengan orang lain. Kakaknya menderita down syndrome. Dia akan takut pada suara keras. Kadang ketakutan itu akan menyebabkan demam berhari-hari.
Seharusnya ia tadi tidak marah. Terlebih pada kakaknya.
"Sekarang makan dulu, ya? Nanti kalau Kak Sherly bangun, Vinna bisa minta maaf, 'kan? Pasti Kak Sherly senang sekali." Hibur Mbak Saras.
Vinna mengangguk. Dia berjanji akan minta maaf ketika Kak Sherly bangun dan akan mengajaknya mengerjakan tugas bersama.


***

0 komentar:

Posting Komentar