Selasa, 26 September 2017

Cemburuku Keliru (Majalah Sekar, Edisi 85, 13-27 Juni 2012)


Daun-daun mengering sempurna. Terombang ambing tak tentu arah. Lalu angin bertiup, menerbangkan helaiannya yang tergeletak pasrah di tanah. Daun-daun mengering sempurna. Seolah tak pernah terjamah hujan. Jatuh setelah berjuang berjuntaian di dahan, tak kenal menyerah. Kesiut angin menjadi irama sempurna pengiring kesendirian. Perlahan, seperti mendengar lonceng kematian, sayup kudengar nyanyian. Pilu, namun selalu kurindukan.
Aku tak lagi menahan diri. Biar, biar saja air mata ini habis. Meski aku tahu penyesalan selalu tak berguna, meski air mata tak bisa mengembalikan segalanya seperti semula. Aku harus bertekuk lutut di kaki sang waktu yang gagah menjadi saksi segalanya. Yang terus berputar meski beban berat menggelayut di kakinya.
“Ibu pilih kasih!” teriakku. Usiaku dua belas tahun ketika itu.
Ibu, wanita dengan danau kesabaran terluas itu memandangku sendu. “Tidak, Nak. Ibu memperlakukan kalian semua sama adilnya.” Ucap beliau.
Berhari-hari aku merajuk, mogok makan dan bicara. Membanting apa saja yang bisa kujangkau dengan tangan. Bosan menghancurkan rumah, aku pergi bermain dan pulang larut malam. Seperti itu terus. Tapi ibu tetap tak bergeming. Jangankan menuruti kemauanku akan sebuah sepeda, menegurku pun tidak. Membuat kejengkelanku memuncak.
“Pake aja sepeda kakak, Dek.” Kak Tino masuk ke kamar setelah seminggu aksi ‘demo’ku berjalan.
Aku mendengus sebal pada pemilik suara itu. Justru aku enggan berbagi dengan dia. Apa dia tak tahu bahwa sumber dari rasa jengkelku adalah karena iri pada apa yang dia miliki? Semua yang dia minta selalu dipenuhi. Sedangkan aku? Hanya janji-janji saja yang aku dapat.
Dan kini semua itu berkelebat, menyesakkan. Aku terhimpit oleh penyesalan mendalam. Aku menangis sendirian di taman kota jauh dari rumah.
Angin masih saja berhembus ringan. Menerpa lembut rambutku dan memainkan ujung-ujungnya. Menerbangkan helaian daun-daun kering itu. Serta meniupkan alunan irama yang menentramkan. Suara yang khas.
Segalanya seperti baru saja terjadi. Ibu. Kak Tino. Rasa iri juga cemburu. Pilih kasih.
Dari situlah semua bermula. Api cemburu yang telah membakar semuanya. Hingga tersisa abu yang kan lenyap disapu angin.
Kak Tino kini tiada.
Ibu sangat kehilangan dirinya. Sosok kakak yang selalu kubenci kehadirannya. Ya. Sosok yang selalu membuatku terbakar amarah. Amarah karena berbagi. Berbagi atas apa yang tak bisa kumiliki sendiri.
Penyesalan. Hanya itu yang tersisa. Hanya ada air mata yang berlinang. Meski takkan pernah kembalikan semuanya seperti sedia kala.
Kini aku tahu. Pilih kasih itu tidak ada. Tidak pernah ada! Tidak seperti yang kupikirkan selama ini. Justru orang yang kubenci itu yang membuatku sadar. Sadar akan apa arti cinta dan sayang yang sejatinya.
Lagi-lagi. Di kursi taman ini aku menangis..
Memutar waktu, andai aku bisa...
“Kau tahu, Kak. Aku sungguh cemburu padamu. Pada segala yang kau miliki dan dengan mudah bisa kau peroleh. Termasuk kasih sayang Ayah dan Ibu.” Bisikku lirih. Tak ada yang menyahuti bisikanku. Pohon flamboyan di dekatku pun tidak. Hanya terdengar gemerisik dedaunan tertiup semilir angin.
Ya, aku cemburu. Bahkan sebelum aku mengenal apa itu cinta, aku sudah merasakan cemburu yang menyiksa. Dan ironisnya, rasa itu kubawa hingga aku beranjak dewasa. Aku cemburu pada kakakku sendiri. Aku menilai ayah dan ibu tidak adil berdasarkan pandanganku sendiri. Apa namanya? Subjektif? Entahlah. Yang pasti aku kini menyesali yang sudah terjadi.
Ibu, perempuan paruh baya itu masih sama baik dan lembutnya. Tapi rona kehidupan perlahan meredup. Semakin hari semakin kelam saja. Ada pedih ketika menatapnya. Kalau boleh memilih, lebih baik aku terbakar cemburu pada Kak Tino dibandingkan harus melihat kepedihan di wajah Ibu. Seandainya...
Aku mendesah. Entah untuk keberapa kali. Perlahan tapi pasti, bak film yang diputar dengan alur mundur, kejadian belakangan ini kembali hadir dalam benakku. Pertistiwa yang membuat aku harus kembali ke kota ini.
Usiaku 17 tahun ketika memutuskan untuk menerima beasiswa yang ditawarkan ITB. Meski konsekuensinya aku harus pindah ke Bandung, meninggalkan rumah yang sudah tak nyaman bagiku. Terlebih karena dua tahun sebelumnya, Kak Tino akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Unair.
Ayah dan Ibu menghadiahinya mobil, sesuatu yang selama ini kuimpikan. Mobil baru yang aku tahu sekali sangat Kak Tino inginkan. Sedangkan aku? Jangankan hadiah, penerimaan Ibu dan Ayah biasa saja. Seolah beasiswa ke ITB bisa didapatkan siapa saja.
Kemudian…
“Pulanglah, Nak.” Bisik ibu di telepon suatu hari. Suaranya begitu lirih dan sepertinya menyimpan banyak beban.
“Tidak bisa, Bu. Minggu ini Julie banyak tugas.” Aku berbohong hanya agar tidak dipaksa untuk pulang.
Sudah enam semester aku kuliah di Bandung, jauh dari orang tua. Dan terutama jauh dari Kak Tino. Belum pernah sekali pun aku pulang sekedar melepas kangen atau menghabiskan liburan semester. Itu artinya sudah tiga tahun aku memisahkan diri. Bandung – Surabaya memang bisa ditempuh dalam beberapa jam menggunakan jalur udara. Namun aku memilih diam di kos. Menikmati masa-masa kuliah dan masa-masa bebas menjadi diri sendiri.
“Tapi ibu kangen, Nduk.” Bisik Ibu.
Aku menelan ludah. Sisi iblis dalam hatiku berkilah. Bukankah biasanya ibu selalu mengacuhkan aku kalau ada Kak Tino? Buat apa aku pulang?
“Usahakan pulang sehari atau dua hari saja, Nduk. Ibu kangen sekali. Lagipula... Kakakmu Tino sakit.” Lanjut Ibu.
Sakit? Kak Tino adalah olahragawan sejati. Tak pernah melewatkan hari-hari tanpa olah raga. Mulai dari jogging, basket, sepak bola, aikido, jiujitsu hingga yoga ia lakoni rutin. Rasanya tak mungkin kalau orang setangguh Kak Tino kini terbaring sakit.
“Kak Tino sakit apa, Bu?” tanyaku.
“Demam, Nak. Sudah berhari-hari. Dia terus menanyakan kamu.”
Aku yakin aku mendengar isakan ibu meski perlahan. Tapi nada suara ibu tetap sama.
“Julie usahakan pulang kalau ada waktu luang ya, Bu?”
“Terima kasih, Nak. Hati-hati ya? Jaga diri baik-baik.
Nyatanya waktu luang yang aku janjikan hanya sekedar angin lalu bagiku. Aku tak benar-benar menjadwalkan untuk pulang. Aku terlalu sibuk dengan duniaku hingga tak menyadari apa yang telah terjadi berkilo-kilo meter jauhnya di sana. Sesuatu telah terjadi, yang hingga kini harus aku sesali.
Pagi yang dingin dibulan Maret menyapa ketika akhirnya pesawat yang membawaku dari Bandung mendarat di bandara Juanda. Sejak semalam perasaanku tak enak. Pikiranku terus tertuju pada satu nama, Kak Tino.
Sepanjang perjalanan aku terus gelisah. Teringat bagaimana aku dulu selalu membentaknya. Selalu membantahnya dan selalu menimbulkan pertengkaran di rumah kami hingga dia harus mengalah. Sepanjang perjalanan pula aku menyadari betapa baiknya kakakku itu. Kak Tino yang selalu membelaku ketika ada anak nakal yang jahil menarik-narik kepang rambutku sepulang sekolah. Kak Tino yang selalu bersedia mengantarku ke sekolah tanpa mengeluh meski ia harus memutar karena jarak sekolahku yang jauh.
Ingatanku terus berjalan mundur hingga mencapai suatu masa. Usiaku sepuluh tahun ketika dokter memvonis gagal ginjal. Kedua ginjalku tak mau berfungsi secara normal. Dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan aku adalah dengan operasi transplantasi ginjal sesegera mungkin. Aku ingat, tiga bulan penuh aku terbaring di rumah sakit pasca operasi. Dan selama itu, Kak Tino sama sekali tak pernah menemuiku.
“Selamat dataang...” ucap Kak Tino riang saat aku tiba di rumah.
Aku mendengus sebal. Kakak macam apa yang tega membiarkan adiknya sendirian di rumah sakit? Jangankan menemani, menjenguk pun tidak. Itulah awal kebencianku padanya.
Perlahan, banyak hal tentangnya yang kian tak bisa kuterima. Tentang sikap ayah yang meluluskan permintaannya akan sebuah sepeda. Lalu notebook yang hampir tiap malam aku rindukan. Belum lagi hal-hal lain yang bisa dengan mudah ia dapatkan. Tanpa merajuk tentunya.
Kini pukulan telak mengenai wajahku. Selama ini, aku menutup mata atas kebaikannya. Bukankah dengan sepeda itu juga aku diantarnya ke sekolah? Kak Tino pun tidak pernah melarang aku untuk menggunakannya. Dan notebook itu? siapa yang lebih banyak memakainya? Aku. Kak Tino hanya akan menggunakan bila aku sudah bosan atau sudah selesai dengan urusanku sendiri. Belum lagi mobil yang selalu setia menemaniku menghabiskan hari-hari kuliah. Sementara Kak Tino mengalah menggunakan motor tua ayah.
Tidak! Pukulan yang lebih telak lagi ketika aku menyadari kenyataan yang coba disembunyikan ayah dan ibu. Selama ini aku tak tahu bahwa Kak Tino adalah donor yang telah merelakan satu ginjalnya untukku. Kak Tino tak hadir pasca operasiku kala itu juga karena ia sedang memulai masa pemulihan. Dan yang paling menyakitkan, orang yang telah rela membagi nyawanya denganku bukanlah siapa-siapa. Ia hanya anak angkat ayah dan ibu.
Kini, cahaya mata ibu itu telah tiada. Dia meninggal setelah berjuang melawan kanker otak selama dua tahun. Dua tahun? Waktu yang panjang untuk tersiksa dalam kesengsaraan. Lalu di manakah aku saat itu? Asyik dengan duniaku sendiri. Asyik dengan prasangka yang kubangun sendiri.
Dan di antara kesenangan semu itu, aku tak menemukan apa-apa selain penyesalan dalam. Andai saja aku menuruti ibu untuk segera pulang. Andai saja aku tak perlu merasa iri dan cemburu. Andai saja aku bisa bersikap lebih dewasa. Namun semua andai-andai itu tak akan bisa membalikkan keadaan.

Aku mendengar lagi. Nyanyian itu, pilu namun kurindukan. Kidung kesayangan Kak Tino untukku, yang setiap malam ia dendangkan.

0 komentar:

Posting Komentar