Daun-daun
mengering sempurna. Terombang ambing tak tentu arah. Lalu angin bertiup,
menerbangkan helaiannya yang tergeletak pasrah di tanah. Daun-daun mengering
sempurna. Seolah tak pernah terjamah hujan. Jatuh setelah berjuang berjuntaian
di dahan, tak kenal menyerah. Kesiut angin menjadi irama sempurna pengiring
kesendirian. Perlahan, seperti mendengar lonceng kematian, sayup kudengar
nyanyian. Pilu, namun selalu kurindukan.
Aku
tak lagi menahan diri. Biar, biar saja air mata ini habis. Meski aku tahu
penyesalan selalu tak berguna, meski air mata tak bisa mengembalikan segalanya
seperti semula. Aku harus bertekuk lutut di kaki sang waktu yang gagah menjadi
saksi segalanya. Yang terus berputar meski beban berat menggelayut di kakinya.
“Ibu
pilih kasih!” teriakku. Usiaku dua belas tahun ketika itu.
Ibu,
wanita dengan danau kesabaran terluas itu memandangku sendu. “Tidak, Nak. Ibu
memperlakukan kalian semua sama adilnya.” Ucap beliau.
Berhari-hari
aku merajuk, mogok makan dan bicara. Membanting apa saja yang bisa kujangkau
dengan tangan. Bosan menghancurkan rumah, aku pergi bermain dan pulang larut
malam. Seperti itu terus. Tapi ibu tetap tak bergeming. Jangankan menuruti
kemauanku akan sebuah sepeda, menegurku pun tidak. Membuat kejengkelanku
memuncak.
“Pake
aja sepeda kakak, Dek.” Kak Tino masuk ke kamar setelah seminggu aksi ‘demo’ku
berjalan.
Aku
mendengus sebal pada pemilik suara itu. Justru aku enggan berbagi dengan dia.
Apa dia tak tahu bahwa sumber dari rasa jengkelku adalah karena iri pada apa
yang dia miliki? Semua yang dia minta selalu dipenuhi. Sedangkan aku? Hanya
janji-janji saja yang aku dapat.
Dan
kini semua itu berkelebat, menyesakkan. Aku terhimpit oleh penyesalan mendalam.
Aku menangis sendirian di taman kota jauh dari rumah.
Angin masih saja
berhembus ringan. Menerpa lembut rambutku dan memainkan ujung-ujungnya.
Menerbangkan helaian daun-daun kering itu. Serta meniupkan alunan irama yang
menentramkan. Suara yang khas.
Segalanya seperti baru saja terjadi. Ibu. Kak Tino. Rasa iri
juga cemburu. Pilih kasih.
Dari situlah semua
bermula. Api cemburu yang telah membakar semuanya. Hingga tersisa abu yang kan
lenyap disapu angin.
Kak Tino kini tiada.
Ibu sangat kehilangan
dirinya. Sosok kakak yang selalu kubenci kehadirannya. Ya. Sosok yang selalu
membuatku terbakar amarah. Amarah karena berbagi. Berbagi atas apa yang tak
bisa kumiliki sendiri.
Penyesalan. Hanya itu
yang tersisa. Hanya ada air mata yang berlinang. Meski takkan pernah kembalikan
semuanya seperti sedia kala.
Kini aku tahu. Pilih
kasih itu tidak ada. Tidak pernah ada! Tidak seperti yang kupikirkan selama
ini. Justru orang yang kubenci itu yang membuatku sadar. Sadar akan apa arti
cinta dan sayang yang sejatinya.
Lagi-lagi. Di kursi
taman ini aku menangis..
Memutar
waktu, andai aku bisa...
“Kau tahu, Kak. Aku
sungguh cemburu padamu. Pada segala yang kau miliki dan dengan mudah bisa kau
peroleh. Termasuk kasih sayang Ayah dan Ibu.” Bisikku lirih. Tak ada yang
menyahuti bisikanku. Pohon flamboyan di dekatku pun tidak. Hanya terdengar gemerisik dedaunan tertiup semilir angin.
Ya, aku cemburu. Bahkan
sebelum aku mengenal apa itu cinta, aku sudah merasakan cemburu yang menyiksa.
Dan ironisnya, rasa itu kubawa hingga aku beranjak dewasa. Aku cemburu pada
kakakku sendiri. Aku menilai ayah dan ibu tidak adil berdasarkan pandanganku
sendiri. Apa namanya? Subjektif? Entahlah. Yang pasti aku kini menyesali yang
sudah terjadi.
Ibu, perempuan paruh
baya itu masih sama baik dan lembutnya. Tapi rona kehidupan perlahan meredup.
Semakin hari semakin kelam saja. Ada pedih ketika menatapnya. Kalau boleh memilih, lebih baik aku
terbakar cemburu pada Kak Tino dibandingkan harus melihat kepedihan di wajah
Ibu. Seandainya...
Aku mendesah. Entah
untuk keberapa kali. Perlahan tapi pasti, bak film yang diputar dengan alur
mundur, kejadian belakangan ini kembali hadir dalam benakku. Pertistiwa yang
membuat aku harus kembali ke kota ini.
Usiaku 17 tahun ketika
memutuskan untuk menerima beasiswa yang ditawarkan ITB. Meski konsekuensinya
aku harus pindah ke Bandung, meninggalkan rumah yang sudah tak nyaman bagiku.
Terlebih karena dua tahun sebelumnya,
Kak Tino akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Unair.
Ayah dan Ibu
menghadiahinya mobil, sesuatu yang selama ini kuimpikan. Mobil baru yang aku
tahu sekali sangat Kak Tino inginkan. Sedangkan aku? Jangankan hadiah,
penerimaan Ibu dan Ayah biasa saja. Seolah beasiswa ke ITB bisa didapatkan
siapa saja.
Kemudian…
“Pulanglah, Nak.” Bisik
ibu di telepon suatu hari.
Suaranya begitu lirih dan sepertinya menyimpan banyak beban.
“Tidak bisa, Bu. Minggu
ini Julie banyak tugas.” Aku berbohong hanya agar tidak dipaksa untuk pulang.
Sudah enam semester aku
kuliah di Bandung, jauh dari orang tua. Dan terutama jauh dari Kak Tino. Belum
pernah sekali pun aku pulang sekedar melepas kangen atau menghabiskan liburan
semester. Itu artinya sudah tiga tahun aku memisahkan diri. Bandung – Surabaya
memang bisa ditempuh dalam beberapa jam menggunakan jalur udara. Namun aku
memilih diam di kos. Menikmati masa-masa kuliah dan masa-masa bebas menjadi
diri sendiri.
“Tapi ibu kangen, Nduk.” Bisik Ibu.
Aku menelan ludah. Sisi
iblis dalam hatiku berkilah. Bukankah biasanya ibu selalu mengacuhkan aku kalau
ada Kak Tino? Buat apa aku pulang?
“Usahakan pulang sehari
atau dua hari saja, Nduk. Ibu kangen
sekali. Lagipula...
Kakakmu Tino sakit.” Lanjut Ibu.
Sakit? Kak Tino adalah
olahragawan sejati. Tak pernah melewatkan hari-hari tanpa olah raga. Mulai dari
jogging, basket, sepak bola, aikido, jiujitsu hingga yoga ia lakoni rutin.
Rasanya tak mungkin kalau orang setangguh Kak Tino kini terbaring sakit.
“Kak Tino sakit apa,
Bu?” tanyaku.
“Demam, Nak. Sudah
berhari-hari. Dia terus menanyakan kamu.”
Aku yakin aku mendengar
isakan ibu meski perlahan. Tapi nada suara ibu tetap sama.
“Julie usahakan pulang
kalau ada waktu luang ya, Bu?”
“Terima kasih, Nak.
Hati-hati ya? Jaga diri baik-baik.”
Nyatanya waktu luang
yang aku janjikan hanya sekedar angin lalu bagiku. Aku tak benar-benar
menjadwalkan untuk pulang. Aku terlalu sibuk dengan duniaku hingga tak
menyadari apa yang telah terjadi berkilo-kilo meter jauhnya di sana. Sesuatu telah terjadi, yang hingga
kini harus aku sesali.
Pagi yang dingin
dibulan Maret menyapa ketika akhirnya pesawat yang membawaku dari Bandung
mendarat di bandara Juanda. Sejak semalam perasaanku tak enak. Pikiranku terus
tertuju pada satu nama, Kak Tino.
Sepanjang perjalanan
aku terus gelisah. Teringat bagaimana aku dulu selalu membentaknya. Selalu
membantahnya dan selalu menimbulkan pertengkaran di rumah kami hingga dia harus mengalah. Sepanjang perjalanan pula
aku menyadari betapa baiknya kakakku itu. Kak Tino yang selalu membelaku ketika
ada anak nakal yang jahil menarik-narik kepang rambutku sepulang sekolah. Kak
Tino yang selalu
bersedia mengantarku ke sekolah tanpa mengeluh meski ia harus memutar karena jarak
sekolahku yang jauh.
Ingatanku terus
berjalan mundur hingga mencapai suatu masa. Usiaku sepuluh tahun ketika dokter
memvonis gagal ginjal. Kedua ginjalku tak mau berfungsi secara normal. Dan
jalan satu-satunya untuk menyelamatkan aku adalah dengan operasi transplantasi
ginjal sesegera mungkin. Aku ingat, tiga bulan penuh aku terbaring di rumah
sakit pasca operasi. Dan selama itu, Kak Tino sama sekali tak pernah menemuiku.
“Selamat dataang...”
ucap Kak Tino riang saat aku tiba di rumah.
Aku mendengus sebal.
Kakak macam apa yang tega membiarkan adiknya sendirian di rumah sakit?
Jangankan menemani, menjenguk pun tidak. Itulah awal kebencianku padanya.
Perlahan, banyak hal
tentangnya yang kian tak bisa kuterima. Tentang sikap ayah yang meluluskan
permintaannya akan sebuah sepeda. Lalu notebook yang hampir tiap malam aku
rindukan. Belum lagi hal-hal lain yang bisa dengan mudah ia dapatkan. Tanpa
merajuk tentunya.
Kini pukulan telak
mengenai wajahku. Selama ini, aku menutup mata atas kebaikannya. Bukankah
dengan sepeda itu juga aku diantarnya ke sekolah? Kak Tino pun tidak pernah
melarang aku untuk menggunakannya. Dan notebook itu? siapa yang lebih banyak
memakainya? Aku. Kak Tino hanya akan menggunakan bila aku sudah bosan atau
sudah selesai dengan urusanku sendiri. Belum lagi mobil yang selalu setia
menemaniku menghabiskan hari-hari kuliah. Sementara Kak Tino mengalah
menggunakan motor tua ayah.
Tidak! Pukulan yang
lebih telak lagi ketika aku menyadari kenyataan yang coba disembunyikan ayah
dan ibu. Selama ini aku tak tahu bahwa Kak Tino adalah donor yang telah
merelakan satu ginjalnya untukku. Kak Tino tak hadir pasca operasiku kala itu
juga karena ia sedang memulai masa pemulihan. Dan yang paling menyakitkan,
orang yang telah rela membagi nyawanya denganku bukanlah siapa-siapa. Ia hanya
anak angkat ayah dan ibu.
Kini, cahaya mata ibu
itu telah tiada. Dia meninggal setelah berjuang melawan kanker otak selama dua
tahun. Dua tahun? Waktu yang panjang untuk tersiksa dalam kesengsaraan. Lalu di
manakah aku saat itu? Asyik dengan duniaku sendiri. Asyik dengan prasangka yang
kubangun sendiri.
Dan di antara
kesenangan semu itu, aku tak menemukan apa-apa selain penyesalan dalam. Andai
saja aku menuruti ibu untuk segera pulang. Andai saja aku tak perlu merasa iri
dan cemburu. Andai saja aku bisa bersikap lebih dewasa. Namun semua andai-andai
itu tak akan bisa membalikkan keadaan.
Aku mendengar lagi.
Nyanyian itu, pilu namun kurindukan. Kidung kesayangan Kak Tino untukku, yang
setiap malam ia dendangkan.

0 komentar:
Posting Komentar