“Ayo
kita memelihara kucing, Kak!” kata Mia suatu sore saat membantu kakaknya
menyiram tanaman.
“Kucing?”
tanya Amel, kakaknya.
Mia
mengangguk. Kuncir kudanya berayun. “Iya, kucing.”
Amel
tertawa. “Kamu habis nonton film ya?” tanyanya. Amel tahu, setiap kali adiknya
selesai menonton film kartun, dia akan menginginkan hal yang sama seperti yang
ditontonnya. Kemarin Mia ingin dikuncir dua seperti Sailormoon. Di lain hari
Mia ingin punya beruang seperti Masha.
“Kok
tahu?” tanya Mia heran.
“Memangnya
tadi Mia nonton film apa?” tanya Amel lembut.
Mia
beringsut mendekati kakaknya. “Film tentang kucing. Lucu deh, Kak. Kucingnya
gemuk, bulunya lebat.” Jawab Mia.
“Mia
minta ijin dulu sama Ayah dan Ibu. Kalau boleh, kita ke rumah Tante Ani.” Kata
Amel. Tante Ani adalah adik dari Ayah mereka, dan beliau punya banyak kucing
cantik di rumahnya.
Amel
mengakhiri kegiatan menyiram tanaman. Hari sudah semakin sore.
***
“Ada?”
tanya Amel sambil membuntuti adiknya mengelilingi rumah Tante Ani.
Hari
itu, Ayah dan Ibu mengajak Amel dan Mia ke rumah Tante Ani. Mereka akan
mengadopsi salah satu anak kucing di sana.
“Ingat,
Mia harus rajin memeriksa makan, minum dan pasirnya ya?” kata Ibu ketika Mia
mengatakan ingin memelihara kucing.
“Nanti
kakak bantu.” Tambah Amel.
Ketika
Ayah menyampaikan keinginan Mia pada Tante Ani, Tante Ani bilang akan
memberikan anak kucing yang diinginkan Mia. Mereka diminta datang kerumahnya.
Rumah
Tante Ani sangat besar. Punya satu ruangan khusus untuk kucing yang disekat
dengan kaca. Ada enam kucing dewasa. Ada enam belas anak kucing. Masing-masing
ruangan yang disekat punya satu tempat pasir, satu tempat makan dan satu tempat
minum. Ada pula keranjang rotan lengkap dengan kasur untuk mereka tidur. Karena
kucing termasuk binatang jinak, Amel dan Mia tidak takut untuk mendekat.
Apalagi kucing-kucing Tante Ani terawat dengan baik.
Tapi
sudah sejak beberapa menit lalu, Mia belum memutuskan akan memilih salah satu
dari enam belas anak kucing yang ada di rumah Tante Ani.
“Yang
ini?” tunjuk Amel pada anak kucing berbulu abu-abu yang sedang tidur pulas di
atas tempat tidurnya. Ada nama Grey di pintu masuk ruangan anak kucing itu.
Mia
menggeleng. Tidak. Bukan itu yang Mia inginkan.
“Ini?”
Amel menunjukkan kucing dalam gendongannya. Bulu kucing itu berwarna krem dan
putih.
Mia
menggeleng lagi.
Amel
mulai putus asa. Dia meletakkan kucing dalam gendongannya ke tempat semula.
“Mia
cari dulu, deh. Kakak tunggu di luar.” Kata Amel. Dia melangkah meninggalkan
adiknya sendirian dalam ruangan penuh kucing itu.
Setengah
jam kemudian Mia keluar, bergabung dengan ayah, Ibu, Tante Ani dan kakaknya di
ruang keluarga. Mereka sedang menonton televisi sambil duduk di atas karpet
ketika Mia datang.
“Sudah
ketemu?” tanya Amel.
Mia
tidak menjawab. Wajahnya ditekuk.
“Mia
mau anak kucing yang mana?” tanya Tante Ani.
Mia
menggeleng, “Tidak jadi.”
Ayah,
Ibu dan Tante Ani heran. Tadi Mia lama sekali di dalam kamar kucing. Mereka
mengira Mia sedang memilih dengan hati-hati.
“Kenapa,
Sayang? Mereka kurang menarik ya?” tanya Tante Ani.
Mia
menggeleng lagi. “Mereka semua menarik, Tante. Cantik, bulunya lembut dan manja
sekali.” Jawab Mia cepat-cepat.
“Lalu?
Kenapa Mia tidak jadi mengambil salah satu dari mereka?” kali ini Ayah yang
bertanya.
Semua
mata tertuju pada Mia, menanti jawaban gadis kecil itu. Tapi bukannya menjawab,
Mia malah menangis kencang. Membuat semuanya kebingungan.
“Kucing
yang Mia mau tidak ada.” Kata Mia disela tangisnya.
Ibu
membelai kepala Mia. “Memangnya Mia mau kucing yang seperti apa?” tanya Ibu.
Mia
menyeka air mata di pipinya. “Mia mau kucing yang bulunya berwarna orens,
hidungnya pesek dan gemuk.” Jawabnya.
“Tante
punya. Namanya Chibi. Bulunya orens. Gemuk dan bulunya lembut sekali.” Bujuk
Tante Ani.
Mia
tetap menggeleng. “Chibi tidak pesek.”
Gemuk,
berbulu orens dan berhidung pesek? Sepertinya Amel tahu kucing seperti apa yang
dimaksud adiknya. Dia segera bangkit, mengambil ponselnya dan mencari gambar
kucing yang diinginkan adiknya.
“Seperti
ini?” tanya Amel pada Mia sambil menunjukkan gambar yang berhasil ia temukan.
Mata
Mia berubah riang. Dia segera mengangguk. “Iya. Itu kucingnya. Mia mau yang
seperti itu.” Jawabnya.
Amel
tertawa. “Yang seperti ini cuma ada di film, Mia. Kalau pun ada, susah untuk
mendapatkannya dan harganya mahal sekali.”
Jawaban
Amel membuat Mia kembali cemberut.
Tahukah
kalian kucing apa yang dimaksud Mia? Itu, si kucing lucu dan menggemaskan
bernama Garfield. Kalian tahu, kan?

0 komentar:
Posting Komentar