Jumat, 22 September 2017

Mia Ingin Kucing (Majalah Bobo, edisi 32, terbit 17 November 2016)


“Ayo kita memelihara kucing, Kak!” kata Mia suatu sore saat membantu kakaknya menyiram tanaman.
“Kucing?” tanya Amel, kakaknya.
Mia mengangguk. Kuncir kudanya berayun. “Iya, kucing.”
Amel tertawa. “Kamu habis nonton film ya?” tanyanya. Amel tahu, setiap kali adiknya selesai menonton film kartun, dia akan menginginkan hal yang sama seperti yang ditontonnya. Kemarin Mia ingin dikuncir dua seperti Sailormoon. Di lain hari Mia ingin punya beruang seperti Masha.
“Kok tahu?” tanya Mia heran.
“Memangnya tadi Mia nonton film apa?” tanya Amel lembut.
Mia beringsut mendekati kakaknya. “Film tentang kucing. Lucu deh, Kak. Kucingnya gemuk, bulunya lebat.” Jawab Mia.
“Mia minta ijin dulu sama Ayah dan Ibu. Kalau boleh, kita ke rumah Tante Ani.” Kata Amel. Tante Ani adalah adik dari Ayah mereka, dan beliau punya banyak kucing cantik di rumahnya.
Amel mengakhiri kegiatan menyiram tanaman. Hari sudah semakin sore.

***

“Ada?” tanya Amel sambil membuntuti adiknya mengelilingi rumah Tante Ani.
Hari itu, Ayah dan Ibu mengajak Amel dan Mia ke rumah Tante Ani. Mereka akan mengadopsi salah satu anak kucing di sana.
“Ingat, Mia harus rajin memeriksa makan, minum dan pasirnya ya?” kata Ibu ketika Mia mengatakan ingin memelihara kucing.
“Nanti kakak bantu.” Tambah Amel.
Ketika Ayah menyampaikan keinginan Mia pada Tante Ani, Tante Ani bilang akan memberikan anak kucing yang diinginkan Mia. Mereka diminta datang kerumahnya.
Rumah Tante Ani sangat besar. Punya satu ruangan khusus untuk kucing yang disekat dengan kaca. Ada enam kucing dewasa. Ada enam belas anak kucing. Masing-masing ruangan yang disekat punya satu tempat pasir, satu tempat makan dan satu tempat minum. Ada pula keranjang rotan lengkap dengan kasur untuk mereka tidur. Karena kucing termasuk binatang jinak, Amel dan Mia tidak takut untuk mendekat. Apalagi kucing-kucing Tante Ani terawat dengan baik.
Tapi sudah sejak beberapa menit lalu, Mia belum memutuskan akan memilih salah satu dari enam belas anak kucing yang ada di rumah Tante Ani.
“Yang ini?” tunjuk Amel pada anak kucing berbulu abu-abu yang sedang tidur pulas di atas tempat tidurnya. Ada nama Grey di pintu masuk ruangan anak kucing itu.
Mia menggeleng. Tidak. Bukan itu yang Mia inginkan.
“Ini?” Amel menunjukkan kucing dalam gendongannya. Bulu kucing itu berwarna krem dan putih.
Mia menggeleng lagi.
Amel mulai putus asa. Dia meletakkan kucing dalam gendongannya ke tempat semula.
“Mia cari dulu, deh. Kakak tunggu di luar.” Kata Amel. Dia melangkah meninggalkan adiknya sendirian dalam ruangan penuh kucing itu.
Setengah jam kemudian Mia keluar, bergabung dengan ayah, Ibu, Tante Ani dan kakaknya di ruang keluarga. Mereka sedang menonton televisi sambil duduk di atas karpet ketika Mia datang.
“Sudah ketemu?” tanya Amel.
Mia tidak menjawab. Wajahnya ditekuk.
“Mia mau anak kucing yang mana?” tanya Tante Ani.
Mia menggeleng, “Tidak jadi.”
Ayah, Ibu dan Tante Ani heran. Tadi Mia lama sekali di dalam kamar kucing. Mereka mengira Mia sedang memilih dengan hati-hati.
“Kenapa, Sayang? Mereka kurang menarik ya?” tanya Tante Ani.
Mia menggeleng lagi. “Mereka semua menarik, Tante. Cantik, bulunya lembut dan manja sekali.” Jawab Mia cepat-cepat.
“Lalu? Kenapa Mia tidak jadi mengambil salah satu dari mereka?” kali ini Ayah yang bertanya.
Semua mata tertuju pada Mia, menanti jawaban gadis kecil itu. Tapi bukannya menjawab, Mia malah menangis kencang. Membuat semuanya kebingungan.
“Kucing yang Mia mau tidak ada.” Kata Mia disela tangisnya.
Ibu membelai kepala Mia. “Memangnya Mia mau kucing yang seperti apa?” tanya Ibu.
Mia menyeka air mata di pipinya. “Mia mau kucing yang bulunya berwarna orens, hidungnya pesek dan gemuk.” Jawabnya.
“Tante punya. Namanya Chibi. Bulunya orens. Gemuk dan bulunya lembut sekali.” Bujuk Tante Ani.
Mia tetap menggeleng. “Chibi tidak pesek.”
Gemuk, berbulu orens dan berhidung pesek? Sepertinya Amel tahu kucing seperti apa yang dimaksud adiknya. Dia segera bangkit, mengambil ponselnya dan mencari gambar kucing yang diinginkan adiknya.
“Seperti ini?” tanya Amel pada Mia sambil menunjukkan gambar yang berhasil ia temukan.
Mata Mia berubah riang. Dia segera mengangguk. “Iya. Itu kucingnya. Mia mau yang seperti itu.” Jawabnya.
Amel tertawa. “Yang seperti ini cuma ada di film, Mia. Kalau pun ada, susah untuk mendapatkannya dan harganya mahal sekali.”
Jawaban Amel membuat Mia kembali cemberut.

Tahukah kalian kucing apa yang dimaksud Mia? Itu, si kucing lucu dan menggemaskan bernama Garfield. Kalian tahu, kan?

0 komentar:

Posting Komentar