![]() |
| sumber gambar: imdb.com |
Judul
: Hotaru no Haka / Grave Of The Fireflies
Negara:
Jepang
Durasi
: 1 jam 28 menit
Rating
: SU/BO
Belakangan
saya lagi seneng banget ngumpulin film-film garapan Studio Ghibli. Yaah...
setelah menghabiskan sekian GB paketan data, akhirnya nemu juga beberapa film
yang bagus dan berkesan. Seperti yang satu ini. Film lama tapi enggak nyesel
deh sudah nonton.
Judulnya
Hotaru No Haka. Artinya, makam kunang-kunang. Film ini mengambil setting Jepang
jaman peperangan. Dimana-mana ada bom yang dijatuhkan, menghanguskan apa saja.
Dan tidak peduli siapa korbannya.
Dalam
film ini, tokoh utamanya adalah sepasang kakak-adik, Seita dan Seitzuku. Seita
ini kira-kira usianya remaja SMA. Sedangkan Seitzuku adiknya, masih kecil.
Sebaya anak SD lah. Masih polos.
Nah,
ceritanya ini berawal ketika mereka harus mengungsi karena penjajah sudah
meluncurkan bom hingga ke lingkungan mereka. Mereka harus mengungsi. Seperti
kebanyakan penduduk pada jaman itu, mereka menyimpan beberapa barang berharga
di lubang dalam tanah. Baru kemudian mereka mengungsi. Ibu mereka berangkat
terlebih dahulu. Seita dan adiknya menyusul kemudian.
Perjalanan
ke pengungsian tidak semudah yang dibayangkan. Bom berjatuhan dari pesawat yang
melintas. Seita tidak segera pergi ke pengungsian. Dia mencari perlindungan
terlebih dahulu. Tapi dia dan ibunya sudah berjanji untuk bertemu kembali di
dekat pohon cemara kembar.
Ketika
sampai di pengungsian, Seita mendapat kabar dari seorang wanita paruh baya
tentang kondisi ibunya. Wanita itu meminta Seita menemui ibunya sementara dia
menjaga adiknya. Petugas kesehatan yang mengenalnya membawanya menemui ibunya.
Petugas itu mengenali ibu Seita dari cincin yang dikenakannya. Lukanya parah.
Seluruh tubuh di perban. Ditambah lagi ibunya menderita penyakit jantung.
Ibunya harus dibawa ke rumah sakit.
Seita
menitipkan adiknya kerumah kerabat lain. Dia sendiri mengurus ibunya yang
akhirnya meninggal di pengungsian. Ibunya meninggal, tapi Seita tidak berani
memberitahukan hal itu pada Bibi dan adiknya. Dia menyembunyikannya.
Pada
akhirnya bibinya tahu kenyataan bahwa ibu Seita sudah meninggal ketika Seita
kembali dari rumah lamanya membawa barang-barang yang ia kuburkan sebelum
mengungsi. Bibinya ini, menurutku, tidak baik dan tidak tulus.
Satu
per satu barang peninggalan ibu Seita dijual, ditukar dengan beras.
Aslinya,
Seita ini berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya anggota angkatan
laut, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Namun perang membuat
keduanya menjadi yatim piatu.
Paling
suka ketika Seita mengajak adiknya main di pantai, ketawa lepas, mengenang ibu
mereka. Namun semua kenangan itu buyar karena bunyi sirine tanda bahaya. Kalau
sirine berbunyi, berarti mereka harus segera mengungsi.
Setelah
berkali-kali tidak cocok dengan Bibinya, Seita dan adiknya memutuskan pindah ke
sebuah Gua yang tidak sengaja mereka temukan. Gua di dekat danau. Makan seadanya, kadang harus minta pada
warga. Hingga Seita terpaksa mencuri. Kalau malam gelap gulita. Namanya juga
gua, tidak ada penerangannya. Satu-satunya yang sedikit menerangi gua mereka
adalah kunang-kunang. Seita mengajak adiknya menangkap kunang-kunang.
Hidup
sederhana di Gua, tanpa ada orang tua, makan seadanya dan cuaca yang tidak
menentu membuat Seitzuku akhirnya sakit. Diare berkepanjangan. Sakit inilah
yang menyebabkan Seitzuku meninggal dunia.
Seita
menyimpan abu Seitzuku dalam kaleng permen, dan dia tidak pernah kembali ke gua
itu.
Sedih.
Mengharukan. Tapi berkesan.

0 komentar:
Posting Komentar