Jumat, 29 September 2017

Hotaru No Haka / Grave of Fireflies (Review)

sumber gambar: imdb.com

Judul   : Hotaru no Haka / Grave Of The Fireflies
Negara: Jepang
Durasi : 1 jam 28 menit
Rating : SU/BO

Belakangan saya lagi seneng banget ngumpulin film-film garapan Studio Ghibli. Yaah... setelah menghabiskan sekian GB paketan data, akhirnya nemu juga beberapa film yang bagus dan berkesan. Seperti yang satu ini. Film lama tapi enggak nyesel deh sudah nonton.
Judulnya Hotaru No Haka. Artinya, makam kunang-kunang. Film ini mengambil setting Jepang jaman peperangan. Dimana-mana ada bom yang dijatuhkan, menghanguskan apa saja. Dan tidak peduli siapa korbannya.
Dalam film ini, tokoh utamanya adalah sepasang kakak-adik, Seita dan Seitzuku. Seita ini kira-kira usianya remaja SMA. Sedangkan Seitzuku adiknya, masih kecil. Sebaya anak SD lah. Masih polos.
Nah, ceritanya ini berawal ketika mereka harus mengungsi karena penjajah sudah meluncurkan bom hingga ke lingkungan mereka. Mereka harus mengungsi. Seperti kebanyakan penduduk pada jaman itu, mereka menyimpan beberapa barang berharga di lubang dalam tanah. Baru kemudian mereka mengungsi. Ibu mereka berangkat terlebih dahulu. Seita dan adiknya menyusul kemudian.
Perjalanan ke pengungsian tidak semudah yang dibayangkan. Bom berjatuhan dari pesawat yang melintas. Seita tidak segera pergi ke pengungsian. Dia mencari perlindungan terlebih dahulu. Tapi dia dan ibunya sudah berjanji untuk bertemu kembali di dekat pohon cemara kembar.
Ketika sampai di pengungsian, Seita mendapat kabar dari seorang wanita paruh baya tentang kondisi ibunya. Wanita itu meminta Seita menemui ibunya sementara dia menjaga adiknya. Petugas kesehatan yang mengenalnya membawanya menemui ibunya. Petugas itu mengenali ibu Seita dari cincin yang dikenakannya. Lukanya parah. Seluruh tubuh di perban. Ditambah lagi ibunya menderita penyakit jantung. Ibunya harus dibawa ke rumah sakit.
Seita menitipkan adiknya kerumah kerabat lain. Dia sendiri mengurus ibunya yang akhirnya meninggal di pengungsian. Ibunya meninggal, tapi Seita tidak berani memberitahukan hal itu pada Bibi dan adiknya. Dia menyembunyikannya.
Pada akhirnya bibinya tahu kenyataan bahwa ibu Seita sudah meninggal ketika Seita kembali dari rumah lamanya membawa barang-barang yang ia kuburkan sebelum mengungsi. Bibinya ini, menurutku, tidak baik dan tidak tulus.
Satu per satu barang peninggalan ibu Seita dijual, ditukar dengan beras.
Aslinya, Seita ini berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya anggota angkatan laut, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Namun perang membuat keduanya menjadi yatim piatu.
Paling suka ketika Seita mengajak adiknya main di pantai, ketawa lepas, mengenang ibu mereka. Namun semua kenangan itu buyar karena bunyi sirine tanda bahaya. Kalau sirine berbunyi, berarti mereka harus segera mengungsi.
Setelah berkali-kali tidak cocok dengan Bibinya, Seita dan adiknya memutuskan pindah ke sebuah Gua yang tidak sengaja mereka temukan. Gua di dekat danau.  Makan seadanya, kadang harus minta pada warga. Hingga Seita terpaksa mencuri. Kalau malam gelap gulita. Namanya juga gua, tidak ada penerangannya. Satu-satunya yang sedikit menerangi gua mereka adalah kunang-kunang. Seita mengajak adiknya menangkap kunang-kunang.
Hidup sederhana di Gua, tanpa ada orang tua, makan seadanya dan cuaca yang tidak menentu membuat Seitzuku akhirnya sakit. Diare berkepanjangan. Sakit inilah yang menyebabkan Seitzuku meninggal dunia.
Seita menyimpan abu Seitzuku dalam kaleng permen, dan dia tidak pernah kembali ke gua itu.

Sedih. Mengharukan. Tapi berkesan. 

0 komentar:

Posting Komentar