Rabu, 27 September 2017

Getir (Majalah Sekar, Edisi 90, 1208-0509 2012)


“Pagi ini dingin sekali, Bang. Apa kau merasakannya juga?” Aku berbisik padamu. Lirih dan jelas, namun kau diam saja. Sama sekali tak menyahut. Bekedip pun tidak.
Kubelai wajahmu perlahan. Kau tampan sekali, Bang. Aku suka memandang wajahmu. Terlebih ketika kau sedang serius membaca buku. Rahang yang terpahat tegas, hidung yang lancip dan kaca mata yang kau kenakan membuatmu tampak sangat menawan.
Tentu saja! Jauh sebelum menikah denganku, kau adalah idaman para wanita. Dan aku pun merasa beruntung ketika 'Sang Idola Wanita' meminangku untuk menjadi pendamping hidupnya. Kau tahu berapa banyak wanita yang kecewa saat itu? Banyak, Bang. Bahkan beberapa diantaranya memandangku sebal seolah aku yang merebutmu dari tangan mereka.
Bersyukur sekali aku bisa mendapatkan suami sebaik dirimu, Bang. Kau suami yang sangat istimewa. Kebaikanmu, kesabaranmu, dan perhatianmu membuat aku merasa menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Apakah kau juga merasa begitu, Bang? Jawablah!

***
“Bang, semalam aku bermimpi.” Ucapku padamu ketika sarapan pagi ini. Kulihat kau dengan lahap menghabiskan nasi goreng buatanku. Aku tersenyum. Kau memang sangat suka nasi goreng.
“Mimpi apa? Dikejar hantu ya?” Candamu.
Aku merengut. “Bukan, Bang. Aku mimpi kehilangan sebelah sandal. Sudah dua kali aku bermimpi itu, Bang.”
Kau terbahak. “Kalau yang sebelah hilang, ya dibuang saja. Nanti Abang belikan sandal yang baru berapa pun yang Neng mau.” Kau masih saja bercanda.
Mungkin buatmu mimpi itu lucu. Tapi tidak denganku, Bang. Orang bilang, kalau seorang wanita bermimpi kehilangan satu dari sepasang sandal, artinya suaminya tak lagi setia. Aku tak berani bilang tentang arti mimpi itu padamu. Aku takut mimpi itu akan berbalik menjadi kecurigaan buatku. Kau terlalu baik untuk dicurigai, Bang.
“Abang pergi dulu ya?” Pamitmu.
“Mau kemana?” tanyaku sembari mengantarmu hingga ke depan pintu.
“Biasalah, ada urusan bisnis.” Jawabmu. Kucium tanganmu.
Ini kesekian kalinya kau pergi di hari Minggu. Sebelumnya kau selalu menghabiskan hari minggu bersama aku dan anakmu, Ryan. Kau bilang sedang ada bisnis dengan kawanmu tanpa menyebutkan bisnis apa yang kalian geluti. Sebagai istri aku tak ingin terlalu mencampuri urusan bisnis suami, namun sebagai wanita, aku pun punya rasa khawatir. Terlebih mendengar omongan tetangga tentangmu.
Kita memang harmonis ya, Bang? Banyak orang yang iri dengan keakraban dan kerukunan kita. Kita memang hampir tak pernah bertengkar. Kau selalu punya cara menyelesaikan masalah dengan baik hingga tak timbul pertengkaran. Kau lebih banyak mengalah dalam hal tertentu. Tapi tak jarang kau pun bertindak tegas. Tegas, bukan kasar.
Kemudian suatu hari,
“Nit, kau sudah dengar?” tanya Mila, sahabatku, saat berkunjung kerumah. Dia tinggal di komplek sebelah.
“Apa?”
“Kemarin ada yang melihat Abangmu di ujung jalan sana bersama seorang wanita.” Ujar Mila sambil menunjuk sebuah arah.
Aku terkejut dengan cerita Mila. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar kabar serupa. Tapi aku tak mau percaya begitu saja. “Mungkin dia hanya teman kantornya, Mil. Abang kan begitu orangnya. Baik sama siapa saja.” Sanggahku.
“Tapi mereka berboncengan mesra, Nit. Apa teman ada yang seperti itu? Ada lagi. Beberapa hari yang lalu kudapati Abangmu membeli sebuah jam tangan di Mall. Untukmu kah?” tanya Mila lagi.
Jam tangan? Aku tak pernah mendapat jam tangan darimu, Bang. Kau pun tahu kalau aku tidak suka menggunakan jam tangan. Harus kujawab apa pada Mila, Bang?
“Oh, iya. Jam yang bagus. Abang memang beli untukku.” Terpaksa aku berbohong. Maafkan aku, Mil.
Kabar tentang kedekatanmu dengan seorang wanita semakin hari semakin santer saja. Aku sudah mencoba menutup telinga, Bang. Tapi itu hanya bertahan sebentar. Kini kemanapun aku pergi, mereka memandangku sambil berbisik-bisik.
Aku risih. Sebenarnya apa yang terjadi diluar sana, Bang? Kau pun tak tampak berbeda. Masih sama seperti Abang yang kukenal sebelumnya.
Kenapa tak kucari tahu saja? Pikirku suatu hari. Perlahan kukumpulkan bukti dan kebenaran omongan tetangga. Dalam dompetmu, kau simpan banyak struck belanja dari sebuah butik. Kau membeli gaun dan tas dengan harga yang sama dengan uang belanja selama sebulan.
Butik? Selama ini tak pernah kita kesana. Berpikir untuk kesana pun tidak. Aku tahu keadaan keuangan kita. Baju-baju yang kita beli selama ini tergolong murahan. Asal nyaman dan menutup aurat, kita tak pernah peduli dimana kita beli. Biasanya kau mengajakku ke pasar. Ke mall pun jarang, apalagi butik. Kemudian ada lagi nota pembelian jam tangan merk terkenal. Semua ada tanda buktinya. Lalu barangnya kemana?
Ketika kutunjukkan semua bukti itu, kau bilang hanya titipan seorang teman untuk istrinya. Masih ada curiga yang tersisa, namun aku mencoba untuk percaya saat itu. Bodoh bukan aku, Bang? Pasti dalam hati kau tertawa puas karena kebodohanku.

***
“Pagi ini dingin sekali, Bang.” Bisikku sambil terus membelai wajahmu. Wajah yang biasanya penuh senyum kini membeku. Ada bening hangat jatuh dari mataku membasahi pipimu. Kusapu dengan ujung jemariku.
Pagi ini memang dingin sekali, Bang. Yah, ketika mentari bersinar, hangat hatiku menjadi dingin menuju titik beku. Pemandangan di depan sana tak mau lepas dari pandangan mataku.
Aku berjalan menuju apotek yang tak jauh dari rumah kita pagi ini. Ryan demam sejak semalam. Persediaan obat demam di rumah sudah habis. Kutitipkan Ryan yang sedang tidur pada Kak Ayu, kakakmu, sebelum aku pergi.
Tas keresek berisi obat terjatuh dari genggamanku. Aku terpaku. Disana, diseberang apotek aku melihatmu, Bang. Kau bercanda mesra dengan seorang wanita. Aku mengenalinya. Dia salah satu mantanmu ketika kuliah. Airmataku mengaburkan pandangan. Tapi masih bisa kulihat ketika kau mengecup keningnya, kemudian kalian berlalu berboncengan.
Langkahku gontai. Aku kembali kerumah dengan hati hancur. Abang yang kusayang tak lagi menjadi milikku seorang. Abang yang setia menguap entah kemana. Aku menatap Ryan. Kemudian menangis sejadinya. Apa yang terjadi dengan kemesraan kita, Bang? Apa yang kurang dari diri ini hingga kau menghadirkan perempuan lain dalam kehidupan kita?
“Nita!” Kak Ayu menyerbu masuk. Aku segera menghapus sisa tangisku.
“Ya, Kak!” sahutku. Kubenahi jilbab dan baju yang kupakai sebelum menemuinya.
“Nita! Astaghfirullah hal ‘adzim...” Kak Ayu terengah-engah sembari memegang dadanya.
“Ada apa, Kak?” Tanyaku bingung.
“Abangmu, Nit. Dia kecelakaan di perempatan jalan di depan sana. Dia tertabrak Bis. Motornya hancur.” Jelas Kak Ayu.
“Astaghfirullah!! Bagaimana keadaannya, Kak?” tanyaku. Degup jantungku tak lagi beraturan.
“Entahlah. Kakak juga tak tahu. Tapi sudah ada ambulance yang membawanya kerumah sakit. Cepat susul Abangmu. Biar Kakak yang menunggu Ryan sambil memberi kabar keluarga yang lain.” Kak Ayu mendorongku.
Kuambil jaket dan dompet kemudian segera pergi menuju rumah sakit yang disebutkan Kak Ayu. Kutitipkan Ryan padanya. Lagi-lagi aku merepotkan kakakmu, Bang. Tapi ia tetap baik padaku.
Sejujurnya aku marah padamu, Bang. Marah atas penghiatanmu di belakangku. Siapa yang tak sakit hati ketika dibohongi oleh suami? Apalagi aku telah menyaksikan sendiri kebenaran kabar burung yang dihembuskan orang-orang. Tapi, Bang, tak pernah sekalipun aku ingin kau celaka. Aku tak berdoa demikian, Bang. Aku bahkan ingin kau segera kembali kepelukan kami, kembali menjadi Abang yang hanya punya satu rumah untuk singgah dan tinggal. Abang, jangan pergi dulu. Aku ingin dengar penjelasanmu. Akan kumaafkan kekhilafanmu.

***
“Nit!” panggilan Kak Ayu menyadarkan aku. Rupanya aku tenggelam dalam lamunan dihadapanmu, Bang. Tanpa sadar aku telah memelukmu begitu lama.
“Nita! Bangunlah. Sudah saatnya.” Ujar Kak Ayu sembari memeluk bahuku. Sejak awal menikah denganmu, aku merasakan Kak Ayu begitu sayang padamu. Dan tentu saja padaku. Andai ia tahu bahwa adik kesayangannya menghancurkan ikatan suci yang sudah bertahun kita bina, apa yang akan terjadi ya, Bang? Aku sungguh tak berani membayangkanya.
Aku melayangkan pandangan. Ibu-ibu sibuk mondar-mandir entah menyiapkan apa. Kudengar beberapa orang melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Kususut airmata yang masih menggenang. Kuciumi kau untuk terakhir kalinya. Kumasukkan banyak-banyak cinta. Kalau saja bisa, aku ingin memelukmu hingga esok tiba.
“Pagi yang dingin, bukan? Sedingin hatiku ataukah hatimu, Bang? Hingga kau tega menghianati aku.” ucapku begitu saja. Seolah bukan aku yang bicara. Mana janji setiamu, Bang?
Kesetiaan itu akan selalu dipertanyakan meski aku tahu tak akan menemukan jawaban. Kenapa? Karena kau membawa pergi semua hal yang ingin kuketahui. Segalanya kau simpan sendiri hingga kini kau tak bisa lagi kembali ke dunia ini.
“Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi bapak tidak bisa diselamatkan.” Ucap Dokter yang merawatmu. Mendung menggelayuti wajahnya.
Dunia berputar dikepalaku. Tuhan, kuatkan aku.
“Bagaimana dengan perempuan itu, Dok?” tanyaku. Suaraku bergetar.
Dokter menggeleng perlahan. “Wanita itu sudah meninggal ketika tiba di rumah sakit ini, Bu.” Jawab Dokter.
Dadaku sesak, Bang. Bahkan ke alam baka pun kalian bersama. Aku cemburu, Bang. Hati ini penuh berbagai macam rasa. Marah, cemburu, tapi juga sedih atas kepergianmu. Aku merasa diri ini melayang, tak lagi berpijak dibumi. Abang, apa artinya penikahan yang kita pertahankan selama ini?

Perlahan hatiku menjadi getir seiring kepergianmu.

0 komentar:

Posting Komentar