“Milik
siapa ini?” tanya Pak Togar sambil mengacungkan temuannya saat ulangan
matematika berlangsung.
Seisi
kelas terdiam. Kepala-kepala yang tadinya sibuk menunduk, memecahkan soal
ulangan matematika, terangkat.
“Kertas
buram ini, milik siapa?” tanya Pak Togar sekali lagi.
Kertas
buram dalam genggaman Pak Togar itu tidak berwarna buram, melainkan ungu
keabuan. Agak kusut, namun tulisan yang tertera di atasnya masih bisa terbaca
dengan jelas. Pada sudut bawah sebelah kanan terdapat gambar sekuntum bunga mimosa pudica.
Kertas
buram itu seharusnya berfungsi sebagaimana kertas buram lainnya, untuk membantu
menghitung soal-soal ulangan matematika. Namun sayangnya, kertas buram itu
berisi beberapa rumus yang tidak muncul pada soal ulangan matematika kali ini.
Karena itulah, Pak Togar menganggap kertas itu sebagai perbuatan curang
seseorang.
Ketika
Pak Togar menunjukkannya dalam keadaan terbuka, semua mata memandang ke satu
arah, Gita. Begitu juga dengan Leo yang duduk bersebelahan dengan gadis itu.
Dia memandang gadis yang duduk berbagi meja dengannya itu setengah tidak
percaya. Yang dipandang menundukkan kepala dalam-dalam. Itu memang salah satu
kertasnya. Dia masih punya banyak yang persis sama. Tapi dia tidak pernah melakukan
itu, dia tidak pernah mencontek.
“Gita,
benar ini kertasmu?” tanya Pak Togar.
“I-iya,
Pak.” Gita mengangguk takut-takut. Tangannya merogoh tas, mengeluarkan kertas
yang sama yang masih terjilid rapi.
“Tapi...”
Gita baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika suara menggelegar Pak Togar
kembali terdengar.
“Ulangan
kali ini, nilaimu nol, Gita.” Pak Togar mengambil kertas ulangan yang baru
sebagian dikerjakan Gita.
Gadis
itu diam saja. Tak ada gunanya membantah Pak Togar. Malah akan semakin membuat
beliau marah. Masalah nilai, dia akan berusaha lebih keras di ulangan
berikutnya.
Hingga
bel istirahat berbunyi, Gita tetap duduk diam di samping Leo. Dia sibuk
mencoret-coret kertas yang sama seperti yang tadi di temukan Pak Togar. Membuat
garis-garis absurd, hanya untuk
menghabiskan waktu dan mengusir rasa kesal di hatinya.
“Jadi,
bukan kamu yang bikin rumus contekan itu?” tanya Leo pada Gita, ketika Pak
Togar melangkah meninggalkan kelas mereka.
Yang
di tanya mengangguk sambil tetap menundukkan kepala.
“Iya
sih. Enggak mungkin kamu bikin seperti itu.” gumam Leo.
Gadis
di hadapannya ini cukup pintar. Tidak ada kesulitan dalam menghapal rumus
matematika.
“Mau
menemui Pak Togar?” tanya Leo saat Gita beranjak. Gadis itu menggeleng. Tidak
saat ini. Pak Togar masih marah. Jadi, apa pun pembelaannya tak akan berguna.
Gita bangkit, melangkah keluar kelas.
Setelah
Gita pergi, Leo kembali berpikir. Mungkin saja dia ingat sesuatu yang berguna
untuk melepaskan Gita dari hukuman Pak Togar. Nilai nol untuk ulangan
matematika itu bencana namanya. Apalagi karena dianggap berbuat curang.
Oke,
oke, batin Leo, mari kita coba memutar kembali kejadian hari ini.
Pagi
ini, kelas masih kinclong ketika Leo datang. Masih sepi. Hanya ada Merry and the gank di sudut kelas yang asik
berhaha-hihi sambil membuka buku FISIKA. Pasti mereka lupa mengerjakan PR FISIKA
kemarin. Setelah Leo datang, ada Rudi Chairudin. Namanya memang diambil dari
nama chef yang terkernal. Itu karena
mama Rudi ngefans berat sama Om Rudi
yang jago masak. Rudi yang ini mah,
jago bolos.
Leo
ngobrol sebentar dengan Rudi. Tidak penting. Hanya membicarakan kakak kelas
yang sebentar lagi lulus dan pensi yang segera di gelar. Maklumlah, mereka
adalah anggota MPK alias Majelis Permusyawaratan Kelas.
Tak
lama, Asep, ketua kelas mereka bergabung. Cowok alim satu ini hanya sebentar
bergabung dengan mereka, untuk mengingatkan akan ada tamu istimewa pada kajian
minggu depan.
“Pokoknya
harus datang,” asep mengacungkan telunjuknya sebelum pergi meninggalkan Leo dan
Rudi.
“Beres!”
Leo ganti mengacungkan ibu jarinya pada Asep. Rudi hanya mengangguk-anggukkan
kepala.
Setelah
Asep berlalu, sosok lain datang tergesa menghampiri Leo dan Rudi. “Lihat PR
matematika kalian, dong.” Katanya. Sosok ini agak sedikit berbeda. Cowok yang
sedikin feminin, menyukai barang-barang feminin berwarna pink, menyukai
film-film romantis, tapi sesekali jiwa machonya akan muncul ketika dibutuhkan.
Jiwa Macho yang lebih garang dari Pak Sut, Satpam sekolah. Namanya Natan.
Leo
dan Rudi saling pandang, memangnya ada PR matematika? Kalau PR FISIKA memang
ada, dan Leo sudah mengerjakannya. Tapi...
“Pasti
lupa juga ya?” Natan kembali bersuara sembari gaduh mengeluarkan berbagai
peralatan kiyut dari tasnya. Kotak pensil berwarna pink segera menghiasi
mejanya, membuat Leo dan Rudi berjengit.
“Memangnya
ada ya, Tan?” tanya Leo sembari mengintip Natan yang sibuk membuka lembar demi
lembar LKS matematika.
“Niiih...”
Natan menunjukkan satu halaman yang sudah dia tandai dengan sticky-note warna pink bertuliskan PR. Padahal
sudah ditandai, tapi Natan sendiri lupa mengerjakannya. Leo dan Rudi segera
kembali ke bangku masing-masing dan mulai sibuk mengerjakan PR. Pak Togar super
galak. Siapa yang tidak mengerjakan PR akan mendapatkan hukuman yang enggak
lucu, berdiri depan kelas ala anak SD. Enggak lucu banget, kan?
Saat
sedang sibuk berkutat dengan PR matematika, teman sebangku Leo tiba. Gita,
gadis pindahan dari Surabaya yang rambutnya selalu dikuncir kuda. Leo
mendongakkan kepala, tersenyum pada Gita yang segera membalas senyumnya.
“PR
matematika, ya?” tanya Gita sambil duduk di samping Leo. Tas selempangnya ia
letakkan diatas meja.
Leo
menganggukkan kepala. “Sudah bikin?” tanyanya.
Gita
mengangguk, “Sudah, dong.” Jawabnya.
Gita
menarik buku tulis dan LKS yang sedang Leo tekuni, memeriksa jawaban Leo
sejenak.
“Ini
masih salah,” Gita menunjuk bagian yang salah dan mulai mengoreksi. Leo
mendengarkan. Leo memang lemah pada wanita, eh, matematika. Itu sebabnya ketika
Gita menjelaskan, dia dengan senang hati akan mendengarkan. Penjelasan Gita
lumayan, kok.
“Paham?”
tanya Gita.
Leo
menggeleng. Benar, dia belum paham. Bukan karena ingin mendengar suara merdu
Gita yang langka. Gita dikenal pendiam di kelas, jarang bersuara.
“Kalau
Cuma mendengarkan saja, susah mengertinya. Coba kita kerjakan, ya?” saran Gita.
Leo setuju.
Gita
mengeluarkan sebuah note berwarna
ungu keabuan, bergambar bunga mimosa
pudica di salah satu sudutnya. Dia merobek dua lembar kertas. Selembar
untuknya, dan selembar lagi untuk Leo.
“Coba
kerjakan nomor 2 dulu, yang lebih mudah.” Katanya.
Leo
menurut. Dia mulai mengerjakan soal sesuai instruksi Gita.
“Bisa
kan?” Gita mengakhiri sesi belajar mereka setelah bel masuk berbunyi. Sebagian
soal sudah terjawab. Itu jauh lebih baik daripada tidak mengerjakan sama
sekali.
“Gita,
aku minta lagi ya?” Leo menunjuk note yang
tergeletak di meja. Gita menganggukkan kepala.
Leo
menyobek selembar dan mulai mengerjakan soal-soal berikutnya. Kalau sudah paham
rumusnya, ternyata memang gampang, batin Leo. Tangannya sibuk mencoret-coret
kertas buram hingga tak menyadari Guru FISIKA mereka sudah hadir di kelas.
Sampai
di sini, lamunan Leo terhenti. Tidak ada yang aneh. Dan tidak ada petunjuk
untuk kertas buram kusut yang kini di tangan Pak Togar itu. Kepalanya mulai
pusing.
Sepanjang
pelajaran FISIKA berlangsung, tidak ada yang aneh. Leo tidak melihat Gita
melakukan tindakan mencurigakan seperti membuat contekan. Sudah pasti Gita
tidak akan melakukannya. Sekali lagi, Gita tidak kesulitan menghapal rumus
matematika, tidak seperti dirinya.
“Woooii...
bengong aja.” Teriak Asep di telinga Leo.
Lamunan
Leo buyar seketika.
“Apaan,
sih, Sep?” tanya Leo.
“Daritadi
dipanggilin malah ngelamun. Mana PR Matematika kamu?” tanya Asep.
Leo
meraba lacinya, mengeluarkan LKS Matematika, tapi tidak segera ia serahkan pada
Asep.
“Buat
apaan? Kamu mau nyontek ya?” tanya Leo curiga.
“Sembarangan!
Pak Togar tadi bilang, setelah ulangan, kumpulkan PR yang kemarin.” Asep
gondok.
Leo
terkekeh. Dia menyempatkan diri memeriksa kembali PR-nya. Eh, tapi kok ada yang
aneh? Sebagian jawaban di LKS enggak ada. Padahal dia tadi yakin sudah
mengerjakannya di...
Leo
menepuk dahinya. Kertas itu, kertas yang ditemukan Pak Togar. Akhirnya dia tahu
siapa pemiliknya. Itu kertasnya. Berisi jawaban PR matematika yang tadi ia
kerjakan. Sepertinya kertas itu terjatuh ketika dia terburu-buru menyisipkan
bukunya ke dalam laci.
“Leoo...
mau kemana? PR kamu mana?” teriak Asep.
Tapi
Leo sudah terlanjur lari menuju satu tempat. Ruangan Pak Togar. Dia harus
bertanggungjawab untuk memperbaiki kesalahan yang ia buat. Nilai nol untuk
ulangan matematika itu bencana memang. Sungguh. Tapi dia akan berusaha lebih
keras di ulangan selanjutnya.
***

0 komentar:
Posting Komentar