Kamis, 21 September 2017
Demon Covered In Scars - 2017 (Review)
Demon Covered in Scars / Iblis berbalut luka
Japan : Kizudarake No Akuma
Tahun : 2017
Runtime : 97 menit
Judulnya serem ya? Tapi tenang aja, ini bukan film horror kok. Settingnya adalah dunia sekolah menengah di Jepang.
Openingnya sedikit serem. Tentang penindasan di sekolah. Penindasan yang terbilang kejam untuk anak SMP.
Tokoh utamanya, Mai Kasai (Rika Adachi), adalah seorang siswi pindahan dari Tokyo ke sebuah pedesaan. Hari pertama dia pindah bukanlah hari keberuntungannya. Dia yang tadinya ingin belajar akrab dengan teman sekelasnya, malah menjadi korban penindasan.
Adalah Shino Odagiri (Manami Enosawa) yang tiba-tiba merasa ketakutan di kelas. Kemudian dia mengeluarkan statement bahwa dia adalah korban penindasan Kasai dan Gank-nya semasa SMP. Loh? Kok bisa?
Ternyata, si Odagiri ini dulunya bernama Kumura. Dia duku teman sekelas Kasai. Dan memang benar dulu Kumura selalu jadi korban penindasan Gank-nya Kasai. Meski Kasai hanya diam dan menonton, Kumura menganggap bahwa Kasai juga terlibat.
Kali ini keadaan berbalik. Kasai adalah korban penindasan teman sekelasnya. Ditambah lagi Yuria Fujitsuka yang –menurut saya- berusaha untuk memberi pelajaran kepada Kasai dan membalaskan sakit hati Odagiri. Fujitsuka ini cukup ekstrem dan berani. Dia tidak segan menindas Kasai di depan teman sekelasnya. Kasai, bagi saya, cukup tangguh. Meski dia ditindas, dia tidak lantas melaporkan pada Guru tentang hal yang menimpanya. Dia lebih memilih sendirian. Merekam semua yang terjadi dengan ponselnya, makan di tepi kolam renang sendirian. Dan tidak memperdulikan tindakan teman-temannya.
Pada persiapan pekan olah raga, Wali kelasnya sebenarnya tahu ada yang tidak beres di kelas. Hanya saja lebih memilih diam dengan alasan anak-anak harus menyelesaikan masalah mereka sendiri agar lebih kuat dan bisa bertahan. Yang paling bikin saya nyesek adalah, ketika pekan olah raga tiba, Kasai ini di kurung di gudang oleh Fujitsuka dan Gank-nya. Dia kebelet pipis. Dia sudah gedor-gedor pintu sekencangnya, tapi tidak ada yang membukakan pintu. Pun dengan seorang guru yang berdiri di depan pintu gudang, tidak melakukan apa-apa. Kasai ini terpaksa pipis di celana. Sialnya, kedapatan oleh Fujitsuka. Semakin menjadi-lah penindasan ini.
Long story short, setelah mendengar Quote ibunya tentang ikan sarden, Kasai pun perlahan berubah. Perlahan tapi pasti, Kasai menyusun strategi untuk membalas dendam. Diam-diam dia mendekati teman-teman sekelasnya. Membuat mereka berubah pandangan terhadap dirinya. Dia tidak langsung menyerang Shino Odagiri dan Fujitsuka. Saya akui, Kasai di sini cerdas. Hobinya merekam segala sesuatu ternyata membantunya mengembalikan keadaan.
Terakhir, dia memposting semua rekaman ucapan Odagiri di WEB, menuliskan Link-nya besar-besar di papan tulis kelas dan di ruang guru. Hingga Fujitsuka merasa dia salah telah menindas Kasai. Saya tidak membahas Shino di film ini. Dia, untuk ukuran anak SMA lebih mirip psikopat. Ditambah dengan latar belakang ibunya yang memiliki gangguan jiwa. Trus, nasihat film ini apa? Nonton sendiri aja. ^__^
Nb: pemeran Shino, sekilas mirip banget sama Kim Soo Hyun di drama School 2015. Tapi kalo diamati baik-baik beda kok. Mirip tapi beda. 😊
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar