Kamis, 21 September 2017

Refrain [Winna Efendi]


Judul Buku                             : Refrain
Pengarang                              : Winna Efendi
Penerbit                                 : GagasMedia
Tebal                                      : 318 halaman
Tahun terbit                          : 2009 (cetakan pertama)

***
Asli.
Awalnya enggak ada keinginan untuk baca buku ini, meskipun kakak sepupu sudah koar-koar kasih rekomendasi berkali-kali. Setelah nonton filemnya (ada Afghaaaaaan... ^_^), akhirnya mulai tertarik untuk membacanya. Iya, ngacir ke tobuk habis nonton, beli trus autis deh baca sampai tuntas. Selama membaca buku ini, selalu membayangkan Nata (Afghan) dan Niki (Maudy Ayunda) sesuai filmnya.

Nathaniel Wirawan namanya. Panggil saja Nata. Cowok yang –menurutku- judes, jutek, dingin, dan blak-blakan. Dia enggak akan repot-repot mengeluarkan kata-kata manis sebagai bentuk perhatian. Romantisme itu sepertinya jauh dari dirinya. Cool banget lah pokoknya.
Nikola Ciputra atau Niki, tetangga sekaligus sahabat Nata sejak kecil. Sampai dengan SMA, persahabatan mereka masih terisi oleh mereka berdua saja. Niki yang –menurutku- riang, lompat sana-lompat sini, aktif dan punya mimpi cinta yang sempurna serta cowok yang romantis.

Trampolin, adalah salah satu tempat yang menjadi saksi persahabatan mereka berdua. Tempat mereka biasanya menatap bintang-bintang di malam hari, atau sekedar mendengarkan lagu baru dari Nata.
Suatu hari, seorang murid pindahan baru datang ke sekolah mereka. Menempati kelas mereka. Annalise namanya. Putri dari model dan fashion designer terkenal, Vidia Rosa yang juga idola Niki. Anna, panggilannya demikian, sedikit tertutup. Berkali-kali pindah sekolah membuatnya sulit untuk berteman dalam jangka waktu yang lama. Kalau Nata menyukai musik, Niki menyukai cheerleading, Annalise berbeda. Dia menyukai fotografi.

Dan mereka pun kini bertiga. Termasuk ketika membolos demi menjemput mama Anna di bandara. Meski setelah menunggu berjam-jam mama Anna tetap tidak datang, mereka tidak beranjak. Pun ketika dimarahi karena ketahuan membolos. Mereka menanggung hukuman bertiga. Hukuman yang mereka kira ringan, mencuci bis sekolah. Meski hukuman itu berat menurut mereka, tapi mereka melaksanakannya dengan penuh tawa.

Hingga kemudian perasaan Anna terungkap. Perasaan yang ingin Anna simpan, tak sengaja terungkap oleh Niki ketika mereka mencari foto untuk lomba di kamar Anna. Lembar-lembar foto itu akhirnya diketahui pula oleh Nata. Tidak ada yang berubah meski Nata sudah tahu perasaan Anna. Pun demikian dengan Anna, dia tidak ingin ada yang berubah dari Nata.

Kemudian ada Oliver. Kapten tim basket sekolah lawan yang mulai PDKT pada Niki. Perhatian dan perlakuan Oliver membuat Niki melayang. Hingga kemudian Nata dan Anna tersisihkan, demi Oliver.
Paling suka di bagian Nata yang gugup ketika hendak pentas solo, kemudian Niki hadir. Masih dengan seragam cheerleaders-nya, ia mulai memberi semangat pada Nata. Itu sebelum Oliver mengajak Niki kenalan.

Setelah itu, hari-hari Niki penuh dengan cerita Oliver, Oliver dan Oliver.

Anna akhirnya tahu kepada siapa Nata menaruh hati ketika tak sengaja ia melihat Nata memasukkan surat ke dalam kotak rahasia pada event valentine’s day yang setiap tahun diadakan sekolahnya. Anna tahu, Nata menyimpan cinta untuk Niki.

Pada akhirnya perasaan Nata pun diketahui oleh Niki setelah tak sengaja ia membuka-buka buku partitur lagu milik Nata di kamarnya. Ada catatan kecil di setiap lagu yang Nata buat. Dan itu menjelaskan segalanya. Karena itu pula, persahabatan mereka terkoyak. Niki menghindari Nata, sementara Nata tak punya kesempatan untuk menjelaskan pada Niki. Anna yang mencoba membujuk Niki pun ikut menyerah.

Klimaksnya, ketika malam prom, Oliver menghubungi Niki, mengatakan tidak bisa mengajaknya datang ke acara itu. Niki dan Nata punya kebiasaan main monopoli ketika salah satu dari mereka sedang sakit. Dengan membawa monopoli, Niki menuju rumah Oliver, untuk pertama kalinya.
Tapi satpam di rumah itu mengatakan Oliver pergi. Meski Niki ngotot Olliver menghubunginya dan mengatakan sedang sakit, satpam itu juga tetap kukuh bahwa Oliver pergi.

Niki tahu kemana Oliver pergi. SMA Pelita, dimana prom dilaksanakan.

Benar saja. Niki melihat Oliver disana. Bersama Helena, Kapten cheerleaders-nya yang menatapnya penuh kemenangan. Aku ikut nangis ketika akhirnya Niki keluar dari sekolah itu sambil menangis. Terluka dong pastinya.

Tapi, bak pahlawan yang dibutuhkan tepat waktu, Nata datang dengan sepedanya. Niki mengabaikan permusuhan mereka, dan kembali duduk di boncengan sepeda Nata. Mereka duduk di trampolin hingga pagi tiba.

Ihh... gemes sama si Oliver dan Helena.

Setelah semuanya kembali normal, masalah kembali bermunculan. Anna yang hendak pindah ke Milan, mengikuti ibunya. Nata yang diterima kuliah musik di luar negeri.

Soal Anna, mereka akhirnya bisa membantu Anna mengambil keputusan. Anna pun tidak jadi pindah ke Milan. Dan ibunya juga hanya sebentar ke sana. Anna senang akhirnya bisa terus bersama Niki dan Nata.

Tentang Nata yang diterima kuliah di luar negeri, semua orang sudah tahu. Keluarganya, bahkan Anna sudah tahu. Hanya tinggal Niki saja. Nata tidak tega memberitahukannya pada Niki. Dia tidak ingin melukai hati gadis itu.

Keputusan tetap harus diambil. Nata harus berangkat. Dan dengan berat hati dia harus memberitahu Niki. Mereka berpisah di bandara.

Sediiihhhhh....

Tapi endingnya bagus. Happy end lah.

Penasaran kaaaaaan?

Aku suka menulis seperti ini. Mengambang. Alasannya sederhana. Biar kalian membaca sendiri. Tulisan ini tidak mencantumkan detil yang menjadi daya tarik sebuah novel. Hanya sekilas saja. Sekali lagi, agar kalian juga ikut membaca. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar