Tulisan ini pernah diterbitkan dalam sebuah buku keroyokan bersama beberapa teman penulis yang lain. sayang, enggak ada cetak ulangnya. T_T
***

Judul : Serba-Serbi Mudik, series #2
Penulis : Nenny Makmun, Tomy M. Saragih, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-17198-2-4 (jil.2)
Tebal : v + 148 hlm.; 13x19 cm
Mudik yuuk? Kalau
ditanya seperti itu, tentu saja aku akan langsung bilang ayuuk. Maklum saja,
aku lahir di kota metropolitan Jakarta, kemudian tumbuh besar di Surabaya.
Semuanya di tengah kota. Tentu saja tak ada pemandangan segar yang bisa dilihat
kecuali cowok cakep yang sering lewat. Hehe...
Sejak kecil, aku suka
melakukan kegiatan alam. Main air disungai, jalan-jalan ke sawah, memanjat
pohon jambu atau rambutan, dan yang paling aku suka adalah naik sepeda
mengelilingi desa di sore hari. Yah, meskipun aku hanya membonceng. Sebab aku
tak bisa mengendarai sepeda. Hiks...
Tahun ini aku mudik
setelah tiga tahun tak menyambangi Eyang. Tujuannya sebuah kota kecil Jawa
Tengah, Purbalingga. Ga tahu ya? Wajar. Banyak orang yang tidak tahu kota itu.
Padahal wanawisata dan kulinarinya berlimpah. Kotanya ‘cantik’ sekali. belum
banyak moll eh mall disana. Pasar modern pun masih jarang. Yang banyak sawah
dan pepohonannya. Segeeer...
Perjalanan kesana
membutuhkan waktu lebih dari 12 jam. Aku berangkat dari rumah pukul 7.45 pagi
dan tiba di lokasi pukul 22.30. Lewat jalur mana? Pantura atau Selatan? Bukan
keduanya. kami lewat jalur tengah. Caruban, Saradan (Madiun), Ngawi, Sragen
Jogja kemudian berhenti. Loh kok? Iya, kesasar sedikit. Hehe... Oh iya, di
daerah Madiun aku sempat mampir ke sebuah warung pecel. Enak banget. Warungnya
di tepi jalan. Ramai. Tapi sayang ga ada nama warungnya. Hanya tulisan ‘Waroeng
Pecel Pincuk Madiun’ saja yang terbentang di depan rumah kecil itu.
Pincuk apaan sih? Alas
makan berbentuk kerucut yang terbuat dari daun pisang. Jadi ga pake piring
makannya. Duduknya pun lesehan. Menunya variatif dan terbilang murah meriah.
Tapi antrinya, wiiihh, kayak antri sembako. Panjang dan harus ekstra sabar.
Apalagi kalau pas lauknya habis dan mereka masih menggoreng. Tambah lama
nungguinnya. Sabaaarr.
Kembali ke Jogja. Kami
memang berhenti disana untuk beristirahat sekalian sholat maghrib dan isi BBM.
Sambil istirahat, kuperkenalkan dulu ya keluarga yang aku ajak serta. Mama,
adekku Anto, anakku Ayra dan driver handal, Mas Wahyu. Papa kemana? Sudah lebih
dulu berangkat ke Purbalingga dari Jakarta. Suami? Ada di surga. Cukup dulu
perkenalannya ya? Lanjut ke perjalanan.
Jogja nih. Udaranya
seger. Pemadangannya bagus dan teratur. Padahal kesasar, masih juga sempat liat
kanan kiri. Peta yang kami bawa tak banyak membantu. Wah, sepertinya perjalanan
terhambat nih. Ketika sedang bingung, tiba-tiba si Mas Wahyu bilang kalau kita
akan dibantu sampai wonosobo oleh seseorang. Maksudnya disuruh mengikuti mobil
mereka. Alhamdulilaah... Oke, Siap!!
“Waaaa... Mama..!
Astagfirullahhh...!” Teriakanku membahana di dalam mobil. Bagaimana tidak?
Ditengah hutan belantara daerah wonosobo, jalanan sempit, kanan-kiri banyak
jurang, mobil yang kami tumpangi melaju seperti di arena balap f1. Ngebuuuuut.
Si Mas Wahyu cuek aja penumpangnya jejeritan sedari tadi. Yang penting ga
kehilangan pandangan dari mobil depan. Ya Allah, lindungi kami.
Alhamdulillah kami tiba
di lokasi dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Eh, ada yang kurang.
Kurang makan. Lapeer.
Ada tradisi yang akan
selalu dilakukan warga ketika Idul Fitri tiba. Menyediakan hidangan lengkap
untuk keluarga berupa ketupat, sambel goreng kentang – ati ampela, kering tempe
(orek), dan makanan kecil lain. Selain itu mereka juga memasak untuk diberikan
kepada tetangga terdekat. Nah, enak kan?
Kalau berkunjung
kesana, hal yang hampir tak pernah terlewat adalah... ke pasar. Ke pasar kok
seneng banget sih? Ya iyalah. Banyak jajanan pasar yang ga mungkin aku temukan
di Surabaya. Lagi pula pasar-pasar yang ada disana hanya ada di hari-hari
tertentu saja. Kebetulan, pasar yang paling dekat dengan rumah eyang hanya
beroperasi di hari Senin dan Kamis saja.
Yeeeaahh... It’s time to wisata kuliner. Hari itu
kami berangkat ke pasar bersama rombongan. Rame banget deh pokoknya. Nah,
sekarang kita lihat apa saja yang ada di pasar, dan apa saja makanan khas sana.
Baru saja tiba di
pasar, aku sudah bertemu dengan penjaja cilok. Cilok itu jajanan khas anak
sekolah yang juga selalu ada di pasar ini. Terbuat dari tepung kanji, bentuk
bulat seperti bakso tapi kecil-kecil sekali. Makannya ditaburi dengan bumbu
sambal kacang dan kecap. Harganya pun murah, seratus rupiah untuk setiap butir
cilok.
Tak jauh dari penjual
cilok, ada juga penjual es cincau. Seperti nama minuman dari bandung ya?
Bentuknya sama seperti cincau bandung, tapi bahannya beda. Cincau yang ini
dibuat dari daun cincau, di rebus dengan air (tanpa gula) kemudian dihidangkan
dengan santan, gula merah cair dan es batu. Selain cincau, ada juga es cendol.
Yang ini cendolnya seperti cendol pada umumnya.
Semakin masuk ke dalam
pasar, semakin banyak makanan unik yang bisa kita dapat. Ada klanting, jajanan
pasar berbentuk lonjong ditaburi parutan kelapa dan gula merah cair. Ada juga
jipang yang bahan dasarnya beras ketan. Ada jenang eh, maksudnya dodol yang
terbuat dari ketan. Ada lagi Wajik Bandung. Tapi itu hanya nama saja. Bahan
dasar wajik ini kebanyakan terbuat dari kacang hijau. Rasanya manis legit.
Dibungkus dengan kertas warna-warni. Semuanya memanggil minta dicicipi.
Kalau sudah ke pasar, tak
lupa mampir untuk icip-icip makanan yang paling digemari disana. Namanya Soto.
Eh bukan, Sroto. Irisan ketupat, di taburi taoge (kecambah), mie, kacang tanah,
kerupuk (kalau disana namanya mireng), irisan ayam atau daging sapi (sesuai
pesanan), diberi bumbu kacang, baru deh disiram kuah. Kuahnya berwarna
kecokelatan. Efek dari rempah-rempah yang direbus bersama tulang ayam atau sapi
untuk dijadikan kaldu. Hmm... nikmat. Kalau ada kesempatan kesana, jangan lupa
cobain ya?
Kalau mengenai tempat
wisata, ada Waterboom Owabong. Disana bisa menikmati sensasi ‘ember tumpah’.
Aku ga tahu namanya. Tapi ada satu ember raksasa yang kalau airnya sudah penuh
akan tumpah mengenai pengunjung yang sedang berenang di bawahnya. Para
pengunjung bukan lari, malah menikmati setiap guyuran airnya. Selain Owabong,
ada kolam renang Walik. Yang ini berenang diantara perbukitan. Kolam renangnya
kecil tapi disekeliling banyak sekali bukit menghijau. Bagus untuk foto PreWed. Hehe…
Lokasi wisata yang
terkenal lainnya ada di Banyumas. Sekitar satu jam perjalanan dari Purbalingga.
Namanya Baturraden. Sumber air panas yang mengandung belerang dan dapat
dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit. Ada empat wisata yang bisa dinikmati di
Baturraden, yaitu Pancuran Tiga, Pancuran Pitu atau Pancuran Tujuh, dan Telaga
Sunyi. Karena waktunya terbatas, kami hanya sempat mengunjungi Pancuran Pitu
saja.
Udaranya segar karena
terhitung masih di kaki Gunung Selamet. Ada air mancur yang panasnya mencapai
60 derajat celcius. Air itu keluar dari dalam tanah bertahun yang lalu. Karena
mengandung belerang, maka tanah dan bebatuan yang dialiri berubah menjadi
kecokelatan. Kalau mau bawa buah tangan dari sana, bisa beli bubuk belerang.
Oleh-oleh yang murah meriah tapi bermanfaat kan? Selain itu ada juga kolam
berendam air belerang dan ada jasa pijat. Eh, pijat yang ini spesial. Kita
hanya diminta duduk saja (tanpa lepas pakaian) di dekat sebuah selokan yang
dialiri air panas, sambil di pijat, tangan dan kaki kita dilumuri dengan
belerang. Setelah beberapa menit, kemudian di bilas dengan air panas dari
selokan itu. Wiiihh,,, capek hilang, kulit pun cemerlang. Kok jadi promosi ya?
Begitulah.
Yuk, kita geser sedikit
ke kota sebelah. Setiap kali hendak pulang ke Sidoarjo, kami selalu melewati
daerah yang namanya Sokaraja. Meskipun agak memutar dari rute seharusnya tapi
tak masalah. Sebab ada satu oleh-oleh khas yang tak boleh lupa. Getuk Goreng. Bahan
dasarnya sama seperti getuk pada umumnya, tapi kemudian di goreng. Warnanya
cokelat kehitaman. Rasanya manis. Getuk ini dikemas dalam wadah ‘besek’ alias
wadah yang terbuat dari bambu. Jangan lupa, karena makanan ini tanpa bahan
pengawet, maka hanya bisa tahan selama satu minggu saja. TOP kan?
Itu hanya beberapa.
Masih banyak kecantikan Purbalingga yang belum sempat kami eksplorasi. Nah, ayo
siapa yang mau kesana? Aku siap jadi tour
guide-nya.
0 komentar:
Posting Komentar