Senin, 25 September 2017

Mudik Yuuk?

Tulisan ini pernah diterbitkan dalam sebuah buku keroyokan bersama beberapa teman penulis yang lain. sayang, enggak ada cetak ulangnya. T_T
***
252329_198525376950964_1718566990_n
Judul : Serba-Serbi Mudik, series #2
Penulis : Nenny Makmun, Tomy M. Saragih, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-17198-2-4 (jil.2)
Tebal : v + 148 hlm.; 13x19 cm



Mudik yuuk? Kalau ditanya seperti itu, tentu saja aku akan langsung bilang ayuuk. Maklum saja, aku lahir di kota metropolitan Jakarta, kemudian tumbuh besar di Surabaya. Semuanya di tengah kota. Tentu saja tak ada pemandangan segar yang bisa dilihat kecuali cowok cakep yang sering lewat. Hehe...
Sejak kecil, aku suka melakukan kegiatan alam. Main air disungai, jalan-jalan ke sawah, memanjat pohon jambu atau rambutan, dan yang paling aku suka adalah naik sepeda mengelilingi desa di sore hari. Yah, meskipun aku hanya membonceng. Sebab aku tak bisa mengendarai sepeda. Hiks...
Tahun ini aku mudik setelah tiga tahun tak menyambangi Eyang. Tujuannya sebuah kota kecil Jawa Tengah, Purbalingga. Ga tahu ya? Wajar. Banyak orang yang tidak tahu kota itu. Padahal wanawisata dan kulinarinya berlimpah. Kotanya ‘cantik’ sekali. belum banyak moll eh mall disana. Pasar modern pun masih jarang. Yang banyak sawah dan pepohonannya. Segeeer...
Perjalanan kesana membutuhkan waktu lebih dari 12 jam. Aku berangkat dari rumah pukul 7.45 pagi dan tiba di lokasi pukul 22.30. Lewat jalur mana? Pantura atau Selatan? Bukan keduanya. kami lewat jalur tengah. Caruban, Saradan (Madiun), Ngawi, Sragen Jogja kemudian berhenti. Loh kok? Iya, kesasar sedikit. Hehe... Oh iya, di daerah Madiun aku sempat mampir ke sebuah warung pecel. Enak banget. Warungnya di tepi jalan. Ramai. Tapi sayang ga ada nama warungnya. Hanya tulisan ‘Waroeng Pecel Pincuk Madiun’ saja yang terbentang di depan rumah kecil itu.
Pincuk apaan sih? Alas makan berbentuk kerucut yang terbuat dari daun pisang. Jadi ga pake piring makannya. Duduknya pun lesehan. Menunya variatif dan terbilang murah meriah. Tapi antrinya, wiiihh, kayak antri sembako. Panjang dan harus ekstra sabar. Apalagi kalau pas lauknya habis dan mereka masih menggoreng. Tambah lama nungguinnya. Sabaaarr.
Kembali ke Jogja. Kami memang berhenti disana untuk beristirahat sekalian sholat maghrib dan isi BBM. Sambil istirahat, kuperkenalkan dulu ya keluarga yang aku ajak serta. Mama, adekku Anto, anakku Ayra dan driver handal, Mas Wahyu. Papa kemana? Sudah lebih dulu berangkat ke Purbalingga dari Jakarta. Suami? Ada di surga. Cukup dulu perkenalannya ya? Lanjut ke perjalanan.
Jogja nih. Udaranya seger. Pemadangannya bagus dan teratur. Padahal kesasar, masih juga sempat liat kanan kiri. Peta yang kami bawa tak banyak membantu. Wah, sepertinya perjalanan terhambat nih. Ketika sedang bingung, tiba-tiba si Mas Wahyu bilang kalau kita akan dibantu sampai wonosobo oleh seseorang. Maksudnya disuruh mengikuti mobil mereka. Alhamdulilaah... Oke, Siap!!
“Waaaa... Mama..! Astagfirullahhh...!” Teriakanku membahana di dalam mobil. Bagaimana tidak? Ditengah hutan belantara daerah wonosobo, jalanan sempit, kanan-kiri banyak jurang, mobil yang kami tumpangi melaju seperti di arena balap f1. Ngebuuuuut. Si Mas Wahyu cuek aja penumpangnya jejeritan sedari tadi. Yang penting ga kehilangan pandangan dari mobil depan. Ya Allah, lindungi kami.
Alhamdulillah kami tiba di lokasi dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Eh, ada yang kurang. Kurang makan. Lapeer.
Ada tradisi yang akan selalu dilakukan warga ketika Idul Fitri tiba. Menyediakan hidangan lengkap untuk keluarga berupa ketupat, sambel goreng kentang – ati ampela, kering tempe (orek), dan makanan kecil lain. Selain itu mereka juga memasak untuk diberikan kepada tetangga terdekat. Nah, enak kan?
Kalau berkunjung kesana, hal yang hampir tak pernah terlewat adalah... ke pasar. Ke pasar kok seneng banget sih? Ya iyalah. Banyak jajanan pasar yang ga mungkin aku temukan di Surabaya. Lagi pula pasar-pasar yang ada disana hanya ada di hari-hari tertentu saja. Kebetulan, pasar yang paling dekat dengan rumah eyang hanya beroperasi di hari Senin dan Kamis saja.
Yeeeaahh... It’s time to wisata kuliner. Hari itu kami berangkat ke pasar bersama rombongan. Rame banget deh pokoknya. Nah, sekarang kita lihat apa saja yang ada di pasar, dan apa saja makanan khas sana.
Baru saja tiba di pasar, aku sudah bertemu dengan penjaja cilok. Cilok itu jajanan khas anak sekolah yang juga selalu ada di pasar ini. Terbuat dari tepung kanji, bentuk bulat seperti bakso tapi kecil-kecil sekali. Makannya ditaburi dengan bumbu sambal kacang dan kecap. Harganya pun murah, seratus rupiah untuk setiap butir cilok.
Tak jauh dari penjual cilok, ada juga penjual es cincau. Seperti nama minuman dari bandung ya? Bentuknya sama seperti cincau bandung, tapi bahannya beda. Cincau yang ini dibuat dari daun cincau, di rebus dengan air (tanpa gula) kemudian dihidangkan dengan santan, gula merah cair dan es batu. Selain cincau, ada juga es cendol. Yang ini cendolnya seperti cendol pada umumnya.
Semakin masuk ke dalam pasar, semakin banyak makanan unik yang bisa kita dapat. Ada klanting, jajanan pasar berbentuk lonjong ditaburi parutan kelapa dan gula merah cair. Ada juga jipang yang bahan dasarnya beras ketan. Ada jenang eh, maksudnya dodol yang terbuat dari ketan. Ada lagi Wajik Bandung. Tapi itu hanya nama saja. Bahan dasar wajik ini kebanyakan terbuat dari kacang hijau. Rasanya manis legit. Dibungkus dengan kertas warna-warni. Semuanya memanggil minta dicicipi.
Kalau sudah ke pasar, tak lupa mampir untuk icip-icip makanan yang paling digemari disana. Namanya Soto. Eh bukan, Sroto. Irisan ketupat, di taburi taoge (kecambah), mie, kacang tanah, kerupuk (kalau disana namanya mireng), irisan ayam atau daging sapi (sesuai pesanan), diberi bumbu kacang, baru deh disiram kuah. Kuahnya berwarna kecokelatan. Efek dari rempah-rempah yang direbus bersama tulang ayam atau sapi untuk dijadikan kaldu. Hmm... nikmat. Kalau ada kesempatan kesana, jangan lupa cobain ya?
Kalau mengenai tempat wisata, ada Waterboom Owabong. Disana bisa menikmati sensasi ‘ember tumpah’. Aku ga tahu namanya. Tapi ada satu ember raksasa yang kalau airnya sudah penuh akan tumpah mengenai pengunjung yang sedang berenang di bawahnya. Para pengunjung bukan lari, malah menikmati setiap guyuran airnya. Selain Owabong, ada kolam renang Walik. Yang ini berenang diantara perbukitan. Kolam renangnya kecil tapi disekeliling banyak sekali bukit menghijau. Bagus untuk foto PreWed. Hehe…
Lokasi wisata yang terkenal lainnya ada di Banyumas. Sekitar satu jam perjalanan dari Purbalingga. Namanya Baturraden. Sumber air panas yang mengandung belerang dan dapat dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit. Ada empat wisata yang bisa dinikmati di Baturraden, yaitu Pancuran Tiga, Pancuran Pitu atau Pancuran Tujuh, dan Telaga Sunyi. Karena waktunya terbatas, kami hanya sempat mengunjungi Pancuran Pitu saja.
Udaranya segar karena terhitung masih di kaki Gunung Selamet. Ada air mancur yang panasnya mencapai 60 derajat celcius. Air itu keluar dari dalam tanah bertahun yang lalu. Karena mengandung belerang, maka tanah dan bebatuan yang dialiri berubah menjadi kecokelatan. Kalau mau bawa buah tangan dari sana, bisa beli bubuk belerang. Oleh-oleh yang murah meriah tapi bermanfaat kan? Selain itu ada juga kolam berendam air belerang dan ada jasa pijat. Eh, pijat yang ini spesial. Kita hanya diminta duduk saja (tanpa lepas pakaian) di dekat sebuah selokan yang dialiri air panas, sambil di pijat, tangan dan kaki kita dilumuri dengan belerang. Setelah beberapa menit, kemudian di bilas dengan air panas dari selokan itu. Wiiihh,,, capek hilang, kulit pun cemerlang. Kok jadi promosi ya? Begitulah.
Yuk, kita geser sedikit ke kota sebelah. Setiap kali hendak pulang ke Sidoarjo, kami selalu melewati daerah yang namanya Sokaraja. Meskipun agak memutar dari rute seharusnya tapi tak masalah. Sebab ada satu oleh-oleh khas yang tak boleh lupa. Getuk Goreng. Bahan dasarnya sama seperti getuk pada umumnya, tapi kemudian di goreng. Warnanya cokelat kehitaman. Rasanya manis. Getuk ini dikemas dalam wadah ‘besek’ alias wadah yang terbuat dari bambu. Jangan lupa, karena makanan ini tanpa bahan pengawet, maka hanya bisa tahan selama satu minggu saja. TOP kan?
Itu hanya beberapa. Masih banyak kecantikan Purbalingga yang belum sempat kami eksplorasi. Nah, ayo siapa yang mau kesana? Aku siap jadi tour guide­-nya.


0 komentar:

Posting Komentar