Kamis, 28 September 2017

TONARI NO TOTORO / My Neighbor Totoro (REVIEW)




Judul               : Tonari No Totoro (My Neighbor Totoro)
Negara            : Jepang
Durasi             : 1 jam 26 menit
Rating                         : SU/BO
Produksi         : Studio Ghibli

Film ini berkisah tentang satu keluarga yang pindah ke pedesaan. Seorang Ayah yang bekerja di universitas dan dua orang anak perempuannya. Mei, si anak bungsu yang ceria, selalu tertawa dan suka sekali bertulang. Rasa penasarannya lebih tinggi daripada rasa takutnya. Satsuki, si Sulung, penurut dan sayang sekali pada adiknya. Dia juga berani.
Mereka pindah ke rumah lama yang sudah cukup tua. Rumah yang keropos di beberapa bagian tapi masih cukup kuat untuk ditinggali. Rumah bergaya khas Jepang.
“Kelihatan seperti rumah berhantu,” kata Satsuki.
Sekelilingnya tanah luas. Tak jauh dari rumah tersebut ada sebatang pohon yang sangat besar. Pohon yang misterius. Pohon Champor.
Ada sebuah jembatan yang menghubungkan rumah tersebut dengan jalan desa. Di bawah jembatan ada air jernih yang mengalir lengkap dengan ikannya. Kemudian ada terowongan yang terbuat dari pepohonan. Intinya, pemandangan rumah tersebut memang luar biasa indah.
Tapi, rumah itu ternyata ada penghuninya, loh. Makhluk hitam, kecil dan berbulu. Banyak. Gerakannya cepat. Banyak biji pohon ek yang berjatuhan dari atap ketika mereka tiba. Ayah mengira itu perbuatan tupai.
Ketika ayahnya meminta Satsuki untuk membuka pintu dapur, makhluk-makhluk hitam itu berlarian. Lucunya, Satsuki dan Mei menjerit bersamaan. Tapi setelah itu tidak terjadi apa-apa. Dapur ini cukup luas. Kamar mandinya pun demikian. Seperti halnya rumah-rumah kuno, pemandian di rumah itu juga sama. Pemanas airnya berasal dari tungku kayu bakar.
Ayah bilang, makhluk yang mereka lihat itu hanya ilusi mata yang terjadi ketika melihat kegelapan setelah berada di tempat terang.
Ayah meminta mereka mengeksplorasi rumah untuk mencari tangga menuju loteng. Mei dan Satsuki pun mulai menjelajah rumah mereka untuk menemukan tangga yang dimaksud.
Ketemu?
Iya, Satsuki menemukannya. Tangga itu tersembunyi. Mereka menaikinya karena penasaran kenapa ada biji pohon ek berjatuhan dari atas. Mereka menjerit ketika mencapai puncak tangga. Hihi...
Satsuki bilang pada ayahnya kalau rumah mereka berhantu, tapi sang ayah malah senang karena sejak dulu ingin tinggal di rumah berhantu.
Mei yang berani akhirnya memegang makhluk hitam itu dan segera berlari menuruni tangga. Ia bertemu dengan seorang nenek. Nenek itu adalah tetangga sekaligus penjaga rumah mereka.
Nenek bilang makhluk itu adalah Susu-atari atau peri jelaga. Berwarna hitam, berbulu dan bisa terbang.
“Mereka hidup di rumah tua yang kosong. Mereka menutupi rumah dengan jelaga dan debu. Dulu nenek bisa melihat mereka ketika seumuran kalian.” Kata nenek.
Nenek juga bilang bahwa mereka bukan makhluk yang menakutkan. Mereka akan secepatnya pinda ketika kita selalu tersenyum. Dan mungkin kini mereka sedang berembuk hendak pindah kemana sekarang.
Nenek meminta Satsuki dan Mei mengambil air ke sungai yang tak jauh dari rumah, di bawah jembatan. Mereka juga belajar memompa air.  Bersama Nenek, mereka mulai membersihkan rumah.
Datanglah Kanta, cucu Sang Nenek. Dia membawa makanan dalam sebuah keranjang kayu. Kanta ini awalnya terlihat sangat pemalu dan sedikit usil. Dia bilang rumah Satsuki berhantu. Tapi dia sangat takut pada neneknya.
Malam harinya, Ayah mulai memasak, satsuki menjaga agar tungku tetap menyala. Saat Satsuki mengambil kayu bakar di luar rumah, angin berhembus sangat kencang, menerbangkan kayu-kayu yang dipegang Satsuki.
Angin juga menggoyang rumah mereka saat ketiganya tengah mandi. Beberapa barang berjatuhan. Tapi tak lama setelahnya hening, angin pun berhenti. Ayah tertawa keras sekali.
“Ayo, kita tertawa bersama agar tidak takut.” Kata ayah.
“Aku tidak takut,” kata Mei.
Mereka tertawa dan bermain bersama.
Keesokan harinya mereka mencuci baju bersama. Mei dan Satsuki menginjak-injak baju sementara ayah mencuci dengan papan di dekat mereka. Setelah menjemur pakaian, mereka pun pergi mengendarai sepeda. Mereka hendak menjenguk Sang Ibu di rumah sakit.
Tidak diceritakan Ibu mereka sakit apa, tiba-tiba sudah di rawat inap di rumah sakit.
Ibunya ini dirawat di bangsal bersama beberapa orang lain. Segera setelah mereka tiba, Mei dan Satsuki menceritakan tentang rumah mereka yang katanya berhantu. Ibu memuji Satsuki yang pandai menguncir rambut adiknya. Sebagai gantinya, ibu menyisir rambut Satsuki.
Hari pun berlalu lagi.
Satsuki harus pergi sekolah. Sementara mei tinggal di rumah bersama ayahnya. Mei bermain, ayahnya bekerja. Saat bermain, Mei menemukan hal-hal menarik di sekelilingnya. Ada kecebong yang dia obok-obok pakai tangan. Ada ember bolong. Dan akhirnya dia menemukan lagi biji pohon ek. Mei mengikuti jejak biji pohon ek tersebut hingga bertemu dengan makhluk ajaib lain. Berwarna putih transparan dan kadang bisa menghilang. Makhluk itu merasa sedang diikuti, jadi sesekali dia menghilang untuk mengecoh Mei. Tapi Mei malah semakin bersemangat untuk mengikutinya.
Makhluk itu masuk ke kolong rumah. Saat Mei sibuk melihat kolong rumah, makhluk itu keluar melalui lubang lain. Dua makhluk, satu berwarna biru. Mei mengetahui keberadaan mereka karena mereka menjatuhkan biji pohon ek. Mereka lari, Mei mengejar hingga jauh, melewati terowongan kecil, menuju pohon yang sangat besar.
Ada sebuah lubang di pohon tersebut. Lubang ajaib yang membawa Mei bertemu dengan makhluk asing lain yang lebih besar lagi. Sangaaaaat besar. Berbulu lembut. Berkumis. Seperti kucing. Di dadanya ada jejang abu-abu berbentuk segitiga. Telinganya seperti telinga kelinci. Makhluk ini sedang tidur ketika Mei menaiki tubuhnya.
Mei yang usil menggaruk hidung makhluk besar itu hingga bersin dan Mei terlempar. Tapi Mei kembali lagi menaiki makhluk itu bahkan duduk di dadanya.
Who are you?” tanya Mei.
Makhluk itu meraung. Mei ikut meraung lucu. Ternyata, makhluk itu bernama Totoro. Gelitikan Mei di hidung Totoro membuat makhluk besar itu tidur lagi. Mei yang mengantuk juga ikut tertidur.
Beralih ke Satsuki dan Ayah. Mereka panik mengetahui Mei tidak ada di rumah. Ayah mengira Mei sedang bermain di kebun, tapi ternyata tidak ada. Satsuki menemukan topi mei di dekat terowongan kecil. Dan dia menemukan Mei di ujung terowongan sedang tertidur.
Mei bangun, mencari totoro. Satsuke menyangka Mei bermimpi. Tapi Mei menceritakan pengalamannya. Itu bukan mimpi. Mei memimpin ayah dan Satsuki melewati jalan menuju Gua Totoro, tapi ternyata sudah tidak ada. Mei berulang kali mencari tapi jalan masuknya tetap tidak ketemu, dia balik lagi ke kebun rumah mereka.
“Mei, kau pasti sudah bertemu dengan penjaga hutan ini.” Ayah membesarkan hati Mei.
Karena Satsuki harus sekolah, dan ayahnya harus bekerja, maka Mei dititipkan pada nenek tetangga. Tapi ternyata Mei malah menyusul Satsuki ke sekolah. Untung saja gurunya tidak marah dan mengijinkan Mei ikut belajar di kelas.
Pulang sekolah, langit mendung. Meski sudah berusaha untuk cepat, Satsuki dan Mei tetap kehujanan. Mereka akhirnya berteduh di sebuah rumah kecil yang ternyata adalah kuil. Kanta datang. Dengan kaku dia meminjamkan payungnya pada Satsuki dan Mei. Payung hitam yang sudah berlubang dimana-mana. Hihi...
Karena hujan berlum juga reda, Satsuki berencana untuk menjemput Ayahnya. Mei ingin ikut. Tapi ayah benar-benar terlambat. Satsuki dan Mei memperhatikan setiap bus yang berhenti, tapi tidak ada ayah.
Hingga malam tiba. Mereka hanya berdua di pemberhentian bus. Saat sedang menunggu ayah, Mei mengantuk, tapi dia tetap tidak mau diajak menunggu di rumah Nenek. Terpaksa Satsuki menggendongnya. Disinilah Satsuki bertemu dengan Totoro yang selalu diceritakan adiknya.
Karena Satsuki meminjamkan payung pada Totoro, sebagai rasa terima kasih, Totoro memberi bungkusan berisi benih. Disini adegannya lumayan lucu. Terutama tingkah Totoro.
Selain Totoro, ada pula makhluk aneh yang ditemui Satsuki dan Mei. Bis berbentuk kucing, eh, atau kucing berbentuk bis ya? Pokoknya tubuh makhluk ini bisa dinaiki, mirip bis lengkap dengan jendela dan kursinya. Tapi dia punya kepala dan kaki. Larinya juga cepat sekali. Matanya menjadi lampu penerang seperti pada bis.
Nenek mengajari mereka memetik buah dan sayur. Mereka juga diajari cara mendinginkan buah dengan cara direndam dalam air sungai.
Kemudian kita menuju klimaks cerita ini.
Satsuki dan Mei mendengar kabar bahwa ibu mereka diijinkan pulang sebentar pada hari sabtu. Dan kemudian kembali ke rumah sakit pada hari Sabtu. Tapi kemudian sebuah telegram tiba, Kanta yang menerima karena tidak ada orang di rumah Satsuki.
Telegram yang sepertinya penting. Nenek meminta Kanta mengantar Satsuki ke rumah besar yang punya telepon di desa itu agar Satsuki bisa menghubungi ayahnya. Dan Mei tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibunya tidak jadi pulang Sabtu ini. Dia merajuk.
Mei mendengar percakapan kakaknya dengan nenek tentang ibu mereka. Dia memutuskan untuk bertemu dengan ibunya. Sendirian. Dan tersesat.
Satsuki dan Nenek menyadari bahwa Mei tidak ada di rumah dan sekitarnya. Maka pencarian pun dimulai. Nenek meminta Kanta yang baru datang untuk memberitahu Ayah Kanta kalau Mei hilang. Penduduk desa pun akhirnya ikut membantu mencari Mei. Satsuki bertanya pada orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan, tentang anak kecil yang mungkin lewat. Tapi tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Hari mulai gelap.
Kemudian Kanta datang dengan sepedanya. Kanta menawarkan diri untuk pergi ke rumah sakit. Dan juga memberitahu bahwa penduduk desa menemukan sebelah sandal berwarna pink seukuran kaki Mei di kolam.
Satsuki panik. Membayangkan itu sandal adiknya. Nenek berdoa sepenuh hati semoga itu bukan milik Mei. Tapi setelah di periksa, itu bukan milik Mei. Semua orang pun lega.
Lalu kemana Mei? Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana Satsuki menemukannya? Dimana dia?
Film garapan Studio Ghibli ini selalu menarik untuk ditonton berkali-kali. Meski saya mendownload filmnya yang berbahasa Inggris, bukan bahasa Jepang. Tapi pesan moralnya tetap sampai. Setidaknya enggak menyesal sudah menggunakan kuota untuk download film ini. hehehe...
Meski sangat disayangkan tidak diceritakan kenapa ibu mereka masuk rumah sakit hingga perlu dirawat lama. Apa penyakitnya? Tidak ada. Film ini menceritakan tentang Satsuki dan Mei serta keseharian mereka meski berbau fantasi karena adanya makhluk ajaib seperti Totoro dan teman-temannya.

Jaman sekarang susah sekali cari film yang tidak ada bumbu adegan dewasanya. Maka sebagai ibu, saya harus menjadi filter. Saya tonton dulu setiap film setelah selesai di download sebelum saya suguhkan pada anak-anak saya dan juga teman-temannya. Dan film ini aman untuk anak-anak. 

0 komentar:

Posting Komentar