Judul :
Tonari No Totoro (My Neighbor Totoro)
Negara : Jepang
Durasi
: 1 jam 26 menit
Rating
: SU/BO
Produksi : Studio Ghibli
Film ini berkisah tentang satu keluarga yang pindah ke
pedesaan. Seorang Ayah yang bekerja di universitas dan dua orang anak
perempuannya. Mei, si anak bungsu yang ceria, selalu tertawa dan suka sekali
bertulang. Rasa penasarannya lebih tinggi daripada rasa takutnya. Satsuki, si
Sulung, penurut dan sayang sekali pada adiknya. Dia juga berani.
Mereka pindah ke rumah lama yang sudah cukup tua. Rumah yang
keropos di beberapa bagian tapi masih cukup kuat untuk ditinggali. Rumah
bergaya khas Jepang.
“Kelihatan seperti rumah berhantu,” kata Satsuki.
Sekelilingnya tanah luas. Tak jauh dari rumah tersebut ada
sebatang pohon yang sangat besar. Pohon yang misterius. Pohon Champor.
Ada sebuah jembatan yang menghubungkan rumah tersebut dengan
jalan desa. Di bawah jembatan ada air jernih yang mengalir lengkap dengan
ikannya. Kemudian ada terowongan yang terbuat dari pepohonan. Intinya,
pemandangan rumah tersebut memang luar biasa indah.
Tapi, rumah itu ternyata ada penghuninya, loh. Makhluk
hitam, kecil dan berbulu. Banyak. Gerakannya cepat. Banyak biji pohon ek yang
berjatuhan dari atap ketika mereka tiba. Ayah mengira itu perbuatan tupai.
Ketika ayahnya meminta Satsuki untuk membuka pintu dapur,
makhluk-makhluk hitam itu berlarian. Lucunya, Satsuki dan Mei menjerit bersamaan.
Tapi setelah itu tidak terjadi apa-apa. Dapur ini cukup luas. Kamar mandinya
pun demikian. Seperti halnya rumah-rumah kuno, pemandian di rumah itu juga sama.
Pemanas airnya berasal dari tungku kayu bakar.
Ayah bilang, makhluk yang mereka lihat itu hanya ilusi mata
yang terjadi ketika melihat kegelapan setelah berada di tempat terang.
Ayah meminta mereka mengeksplorasi rumah untuk mencari
tangga menuju loteng. Mei dan Satsuki pun mulai menjelajah rumah mereka untuk
menemukan tangga yang dimaksud.
Ketemu?
Iya, Satsuki menemukannya. Tangga itu tersembunyi. Mereka
menaikinya karena penasaran kenapa ada biji pohon ek berjatuhan dari atas. Mereka
menjerit ketika mencapai puncak tangga. Hihi...
Satsuki bilang pada ayahnya kalau rumah mereka berhantu,
tapi sang ayah malah senang karena sejak dulu ingin tinggal di rumah berhantu.
Mei yang berani akhirnya memegang makhluk hitam itu dan
segera berlari menuruni tangga. Ia bertemu dengan seorang nenek. Nenek itu
adalah tetangga sekaligus penjaga rumah mereka.
Nenek bilang makhluk itu adalah Susu-atari atau peri jelaga. Berwarna hitam, berbulu dan bisa
terbang.
“Mereka hidup di rumah tua yang kosong. Mereka menutupi
rumah dengan jelaga dan debu. Dulu nenek bisa melihat mereka ketika seumuran
kalian.” Kata nenek.
Nenek juga bilang bahwa mereka bukan makhluk yang
menakutkan. Mereka akan secepatnya pinda ketika kita selalu tersenyum. Dan
mungkin kini mereka sedang berembuk hendak pindah kemana sekarang.
Nenek meminta Satsuki dan Mei mengambil air ke sungai yang
tak jauh dari rumah, di bawah jembatan. Mereka juga belajar memompa air. Bersama Nenek, mereka mulai membersihkan
rumah.
Datanglah Kanta, cucu Sang Nenek. Dia membawa makanan dalam
sebuah keranjang kayu. Kanta ini awalnya terlihat sangat pemalu dan sedikit
usil. Dia bilang rumah Satsuki berhantu. Tapi dia sangat takut pada neneknya.
Malam harinya, Ayah mulai memasak, satsuki menjaga agar
tungku tetap menyala. Saat Satsuki mengambil kayu bakar di luar rumah, angin
berhembus sangat kencang, menerbangkan kayu-kayu yang dipegang Satsuki.
Angin juga menggoyang rumah mereka saat ketiganya tengah
mandi. Beberapa barang berjatuhan. Tapi tak lama setelahnya hening, angin pun
berhenti. Ayah tertawa keras sekali.
“Ayo, kita tertawa bersama agar tidak takut.” Kata ayah.
“Aku tidak takut,” kata Mei.
Mereka tertawa dan bermain bersama.
Keesokan harinya mereka mencuci baju bersama. Mei dan
Satsuki menginjak-injak baju sementara ayah mencuci dengan papan di dekat mereka.
Setelah menjemur pakaian, mereka pun pergi mengendarai sepeda. Mereka hendak
menjenguk Sang Ibu di rumah sakit.
Tidak diceritakan Ibu mereka sakit apa, tiba-tiba sudah di
rawat inap di rumah sakit.
Ibunya ini dirawat di bangsal bersama beberapa orang lain.
Segera setelah mereka tiba, Mei dan Satsuki menceritakan tentang rumah mereka
yang katanya berhantu. Ibu memuji Satsuki yang pandai menguncir rambut adiknya.
Sebagai gantinya, ibu menyisir rambut Satsuki.
Hari pun berlalu lagi.
Satsuki harus pergi sekolah. Sementara mei tinggal di rumah
bersama ayahnya. Mei bermain, ayahnya bekerja. Saat bermain, Mei menemukan
hal-hal menarik di sekelilingnya. Ada kecebong yang dia obok-obok pakai tangan.
Ada ember bolong. Dan akhirnya dia menemukan lagi biji pohon ek. Mei mengikuti
jejak biji pohon ek tersebut hingga bertemu dengan makhluk ajaib lain. Berwarna
putih transparan dan kadang bisa menghilang. Makhluk itu merasa sedang diikuti,
jadi sesekali dia menghilang untuk mengecoh Mei. Tapi Mei malah semakin bersemangat
untuk mengikutinya.
Makhluk itu masuk ke kolong rumah. Saat Mei sibuk melihat
kolong rumah, makhluk itu keluar melalui lubang lain. Dua makhluk, satu
berwarna biru. Mei mengetahui keberadaan mereka karena mereka menjatuhkan biji
pohon ek. Mereka lari, Mei mengejar hingga jauh, melewati terowongan kecil,
menuju pohon yang sangat besar.
Ada sebuah lubang di pohon tersebut. Lubang ajaib yang
membawa Mei bertemu dengan makhluk asing lain yang lebih besar lagi. Sangaaaaat
besar. Berbulu lembut. Berkumis. Seperti kucing. Di dadanya ada jejang abu-abu
berbentuk segitiga. Telinganya seperti telinga kelinci. Makhluk ini sedang
tidur ketika Mei menaiki tubuhnya.
Mei yang usil menggaruk hidung makhluk besar itu hingga
bersin dan Mei terlempar. Tapi Mei kembali lagi menaiki makhluk itu bahkan
duduk di dadanya.
“Who are you?”
tanya Mei.
Makhluk itu meraung. Mei ikut meraung lucu. Ternyata,
makhluk itu bernama Totoro. Gelitikan Mei di hidung Totoro membuat makhluk
besar itu tidur lagi. Mei yang mengantuk juga ikut tertidur.
Beralih ke Satsuki dan Ayah. Mereka panik mengetahui Mei
tidak ada di rumah. Ayah mengira Mei sedang bermain di kebun, tapi ternyata
tidak ada. Satsuki menemukan topi mei di dekat terowongan kecil. Dan dia
menemukan Mei di ujung terowongan sedang tertidur.
Mei bangun, mencari totoro. Satsuke menyangka Mei bermimpi. Tapi
Mei menceritakan pengalamannya. Itu bukan mimpi. Mei memimpin ayah dan Satsuki
melewati jalan menuju Gua Totoro, tapi ternyata sudah tidak ada. Mei berulang
kali mencari tapi jalan masuknya tetap tidak ketemu, dia balik lagi ke kebun
rumah mereka.
“Mei, kau pasti sudah bertemu dengan penjaga hutan ini.”
Ayah membesarkan hati Mei.
Karena Satsuki harus sekolah, dan ayahnya harus bekerja,
maka Mei dititipkan pada nenek tetangga. Tapi ternyata Mei malah menyusul
Satsuki ke sekolah. Untung saja gurunya tidak marah dan mengijinkan Mei ikut
belajar di kelas.
Pulang sekolah, langit mendung. Meski sudah berusaha untuk
cepat, Satsuki dan Mei tetap kehujanan. Mereka akhirnya berteduh di sebuah
rumah kecil yang ternyata adalah kuil. Kanta datang. Dengan kaku dia
meminjamkan payungnya pada Satsuki dan Mei. Payung hitam yang sudah berlubang
dimana-mana. Hihi...
Karena hujan berlum juga reda, Satsuki berencana untuk
menjemput Ayahnya. Mei ingin ikut. Tapi ayah benar-benar terlambat. Satsuki dan
Mei memperhatikan setiap bus yang berhenti, tapi tidak ada ayah.
Hingga malam tiba. Mereka hanya berdua di pemberhentian bus.
Saat sedang menunggu ayah, Mei mengantuk, tapi dia tetap tidak mau diajak
menunggu di rumah Nenek. Terpaksa Satsuki menggendongnya. Disinilah Satsuki
bertemu dengan Totoro yang selalu diceritakan adiknya.
Karena Satsuki meminjamkan payung pada Totoro, sebagai rasa
terima kasih, Totoro memberi bungkusan berisi benih. Disini adegannya lumayan
lucu. Terutama tingkah Totoro.
Selain Totoro, ada pula makhluk aneh yang ditemui Satsuki
dan Mei. Bis berbentuk kucing, eh, atau kucing berbentuk bis ya? Pokoknya tubuh
makhluk ini bisa dinaiki, mirip bis lengkap dengan jendela dan kursinya. Tapi
dia punya kepala dan kaki. Larinya juga cepat sekali. Matanya menjadi lampu
penerang seperti pada bis.
Nenek mengajari mereka memetik buah dan sayur. Mereka juga
diajari cara mendinginkan buah dengan cara direndam dalam air sungai.
Kemudian kita menuju klimaks cerita ini.
Satsuki dan Mei mendengar kabar bahwa ibu mereka diijinkan
pulang sebentar pada hari sabtu. Dan kemudian kembali ke rumah sakit pada hari
Sabtu. Tapi kemudian sebuah telegram tiba, Kanta yang menerima karena tidak ada
orang di rumah Satsuki.
Telegram yang sepertinya penting. Nenek meminta Kanta
mengantar Satsuki ke rumah besar yang punya telepon di desa itu agar Satsuki
bisa menghubungi ayahnya. Dan Mei tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibunya
tidak jadi pulang Sabtu ini. Dia merajuk.
Mei mendengar percakapan kakaknya dengan nenek tentang ibu
mereka. Dia memutuskan untuk bertemu dengan ibunya. Sendirian. Dan tersesat.
Satsuki dan Nenek menyadari bahwa Mei tidak ada di rumah dan
sekitarnya. Maka pencarian pun dimulai. Nenek meminta Kanta yang baru datang
untuk memberitahu Ayah Kanta kalau Mei hilang. Penduduk desa pun akhirnya ikut
membantu mencari Mei. Satsuki bertanya pada orang-orang yang ditemuinya
sepanjang jalan, tentang anak kecil yang mungkin lewat. Tapi tidak ada seorang
pun yang melihatnya.
Hari mulai gelap.
Kemudian Kanta datang dengan sepedanya. Kanta menawarkan
diri untuk pergi ke rumah sakit. Dan juga memberitahu bahwa penduduk desa
menemukan sebelah sandal berwarna pink seukuran kaki Mei di kolam.
Satsuki panik. Membayangkan itu sandal adiknya. Nenek berdoa
sepenuh hati semoga itu bukan milik Mei. Tapi setelah di periksa, itu bukan
milik Mei. Semua orang pun lega.
Lalu kemana Mei? Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana
Satsuki menemukannya? Dimana dia?
Film garapan Studio Ghibli ini selalu menarik untuk ditonton
berkali-kali. Meski saya mendownload filmnya yang berbahasa Inggris, bukan bahasa
Jepang. Tapi pesan moralnya tetap sampai. Setidaknya enggak menyesal sudah
menggunakan kuota untuk download film ini. hehehe...
Meski sangat disayangkan tidak diceritakan kenapa ibu mereka
masuk rumah sakit hingga perlu dirawat lama. Apa penyakitnya? Tidak ada. Film
ini menceritakan tentang Satsuki dan Mei serta keseharian mereka meski berbau
fantasi karena adanya makhluk ajaib seperti Totoro dan teman-temannya.
Jaman sekarang susah sekali cari film yang tidak ada bumbu
adegan dewasanya. Maka sebagai ibu, saya harus menjadi filter. Saya tonton dulu
setiap film setelah selesai di download sebelum saya suguhkan pada anak-anak
saya dan juga teman-temannya. Dan film ini aman untuk anak-anak.

0 komentar:
Posting Komentar